Bangkok, Thailand – Tragedi mematikan mengguncang timur laut Thailand, setelah sebuah crane konstruksi jatuh menimpa kereta api yang sedang melaju pada Rabu (14/01/26).
Berdasarkan data kepolisian Bangkok, insiden ini mengakibatkan setidaknya 28 orang kehilangan nyawa dan 64 lainnya mengalami luka-luka.
Kecelakaan terjadi sekitar pukul 09.00 waktu setempat saat kereta yang membawa 195 penumpang tersebut, sedang dalam perjalanan dari Bangkok menuju Provinsi Ubon Ratchathani.
Hantaman crane yang sangat berat menyebabkan kereta keluar dari jalur dan menghancurkan beberapa gerbong, hingga memicu kobaran api di salah satu bagian rangkaian.
Evakuasi & Kondisi Korban
Tim penyelamat bekerja cepat untuk mengevakuasi seluruh penumpang dari bangkai kereta.
Para korban luka, yang mencakup rentang usia dari balita berusia satu tahun hingga lansia 85 tahun, segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Berdasarkan laporan medis, dari 64 korban luka, delapan orang di antaranya saat ini berada dalam kondisi kritis.
Kepanikan luar biasa menyelimuti detik-detik jatuhnya alat berat tersebut. Thirasak Wongsoongnern, salah satu staf kereta yang selamat, menceritakan momen mengerikan saat benturan terjadi.
“Saya dan penumpang lainnya terlempar ke udara sesaat setelah crane itu jatuh menimpa kami,” ujar Thirasak kepada BBC News.
Penyelidikan awal mengungkap fakta-fakta penting terkait proyek di lokasi kejadian:
- Tujuan Proyek: Crane tersebut merupakan bagian dari pembangunan jalur kereta api layang yang didukung oleh Tiongkok.
- Rute Strategis: Jalur ini dirancang untuk menghubungkan Bangkok dengan Laos, menyambung ke jalur cepat yang sudah beroperasi menuju Tiongkok barat daya.
- Catatan Keamanan: Thailand sering kali menghadapi kritik terkait lemahnya penegakan standar keselamatan kerja pada proyek infrastruktur besar.

Tindakan Tegas Pemerintah
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul telah memerintahkan investigasi menyeluruh dan menuntut pertanggungjawaban penuh dari pihak kontraktor.
Ia menegaskan bahwa insiden ini merupakan dampak langsung dari kegagalan prosedural.
“Kecelakaan seperti ini hanya bisa terjadi karena kelalaian, pemotongan prosedur, penyimpangan desain, atau penggunaan material yang tidak tepat,” tegas Anutin.
Ia menambahkan bahwa harus ada pihak yang dihukum dan bertanggung jawab secara hukum atas hilangnya puluhan nyawa tersebut.(YA)





