Jakarta – Di tengah arus deras informasi digital dan kemajuan kecerdasan buatan (AI), peran guru kini tak lagi sekadar mengajar mata pelajaran, melainkan juga membekali siswa dengan ‘senjata’ untuk melawan disinformasi.
Sebuah pelatihan khusus yang diselenggarakan oleh Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) dan didukung oleh UNESCO di Jakarta, telah membuktikan pentingnya langkah ini.
Sebanyak 25 guru terpilih dari berbagai daerah, mulai dari Jakarta hingga Tangerang Selatan, secara intensif dilatih untuk memperkuat Literasi Media dan Informasi (LMI).
Pelatihan ini menjadi benteng awal bagi para pendidik untuk melindungi siswa dari ancaman hoaks, ujaran kebencian, dan manipulasi informasi yang kian canggih.
Guru Tameng Terdepan
Pelatihan ini menyoroti bagaimana teknologi, meskipun menawarkan segudang peluang, juga membawa risiko serius.
Ana Lomtadze, Kepala Unit Komunikasi dan Informasi UNESCO Jakarta menekankan posisi strategis guru dalam membantu siswa, menavigasi lanskap digital yang kompleks.
“Meskipun teknologi menawarkan peluang, tapi juga ada potensi risiko seperti disinformasi dan ujaran kebencian,” ujarnya.
Menurutnya, memasukkan LMI ke dalam sistem pembelajaran di sekolah adalah langkah krusial untuk meminimalisir risiko tersebut.
- Data dari International Telecommunication Union menunjukkan, 79% pemuda di seluruh dunia telah aktif di ruang digital, dan platform seperti YouTube serta Facebook sering menjadi sumber utama berita.
- Survei dari UNESCO pada 2024 mengungkap, 80% anak muda aktif menggunakan AI, terutama untuk tujuan pendidikan.
“Ketika teknologi menjadi lebih canggih, semakin sulit bagi kita untuk mengetahui apa dampaknya,” kata Lomtadze.
Ia menjelaskan pentingnya bagi kaum muda untuk memahami bagaimana algoritma memengaruhi pengalaman mereka secara online.
Oleh karena itu, UNESCO bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk para pendidik, yang berada di garis depan risiko ini dan berhadapan langsung dengan siswa.
Guru ‘Cakap Digital’
Sementara itu Presidium Mafindo, Septiaji Eko Nugroho menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan kelanjutan dari program sebelumnya.
Menurutnya, di era pascakebenaran (post-truth) dan kecerdasan buatan, kebutuhan akan guru yang terampil menavigasi informasi digital sangat mendesak.
“Diperlukan guru yang memiliki kecakapan dasar menggunakan teknologi digital,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi dengan UNESCO untuk menyusun modul LMI dan melatih guru, adalah cara untuk memperkuat mereka agar dapat mempersiapkan murid menjadi pribadi yang cakap, sekaligus terhindar dari dampak negatif teknologi informasi.
Septiaji berharap para guru yang dilatih dapat menjadi agen perubahan, dengan menularkan ilmu mereka kepada rekan-rekan pendidik lainnya, sehingga LMI bisa dimanfaatkan secara luas di kelas. (YA)





