Kairo, Mesir – Hamas telah mengumumkan penerimaan proposal gencatan senjata yang diajukan oleh mediator Arab untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 22 bulan di Gaza.
Namun, pihak Israel belum memberikan tanggapan resmi dan menyatakan tetap berkomitmen untuk mengalahkan kelompok militan tersebut.
Proposal terbaru, yang disusun oleh Mesir dan Qatar, sedikit memodifikasi tawaran sebelumnya dari Amerika Serikat yang telah disetujui Israel.
Hal ini disampaikan oleh pejabat Mesir dan Hamas yang enggan disebutkan namanya kepada The Associated Press (AP).

Menurut laporan tersebut, kesepakatan ini mencakup beberapa poin krusial:
- Gencatan senjata selama 60 hari.
- Pembebasan sandera yang ditahan Hamas, sebagai ganti atas ratusan tahanan Palestina.
- Peningkatan bantuan kemanusiaan ke Gaza.
- Pembicaraan lebih lanjut untuk gencatan senjata permanen.
Isi Proposal & Reaksi Internasional
Rincian lengkap proposal ini belum diumumkan ke publik. Namun, dua pejabat Mesir dan dua pejabat Hamas membeberkan garis besar kesepakatan tersebut kepada AP News.
Israel akan menarik pasukannya sejauh 800 meter dari Gaza. Awalnya, Utusan AS Untuk Timur Tengah, Steve Witkoff mengusulkan 1.500 meter, sementara Hamas meminta 600 meter.

Hamas juga akan membebaskan 10 sandera yang masih hidup dan 18 jenazah, sebagai ganti pembebasan sekitar 1.700 tahanan Palestina oleh Israel, termasuk 200 orang yang menjalani hukuman seumur hidup.
“Israel akan mengizinkan 600 truk bantuan kemanusiaan masuk setiap hari, peningkatan signifikan yang dapat membantu menghentikan apa yang digambarkan para ahli sebagai ‘jurang kelaparan’ di wilayah itu,” tulis laporan AP News.
Selama gencatan senjata, kedua belah pihak akan bernegosiasi untuk gencatan senjata permanen dan penarikan pasukan Israel lebih lanjut.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa meskipun ia akan menghentikan pertempuran sementara untuk membebaskan sandera, ia tidak akan mengakhiri perang sampai Hamas benar-benar dikalahkan dan dilucuti.
Presiden AS, Donald Trump juga memberikan dukungannya. Melalui unggahan di media sosial, ia menyatakan Hamas harus “dihadapi dan dihancurkan” untuk memastikan para sandera yang tersisa bisa kembali. “Bermainlah untuk MENANG, atau jangan bermain sama sekali!” tulisnya.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan serangan Israel telah menewaskan lebih dari 62.000 warga Palestina.
Meskipun jumlah pastinya masih diperdebatkan, PBB dan banyak ahli independen menganggap angka tersebut sebagai perkiraan paling andal.
Saat ini, Israel bungkam soal negosiasi dan belum diketahui kapan akan memberikan tanggapannya. Kabinet Keamanan, yang bertanggung jawab menyetujui kesepakatan semacam itu.(YA)





