Leiria, Portugal – SC Braga sukses melangkah ke partai puncak Piala Liga Portugal setelah menumbangkan raksasa SL Benfica dengan skor meyakinkan 3-1 di Stadion Dr. Magalhaes Pessoa.
Kemenangan gemilang ini tidak hanya mengantar sang “Ksatria Minho” ke final, tetapi juga menciptakan sejarah baru dalam sepakbola Portugal, dengan mempertemukan dua rival bebuyutan, SC Braga dan Vitoria SC, dalam laga bertajuk Derby Minho di laga final.
Tiga gol kemenangan Braga masing-masing dicetak oleh Pau Victor, aksi solo spektakuler Rodrigo Zalazar, dan gol pengunci dari Gustaf Lagerbielke.
Sementara itu, Benfica yang dilatih Jose Mourinho hanya mampu membalas melalui penalti Pavlidis. Laga ini pun berakhir dramatis dengan kartu merah yang diterima kapten Benfica, Nicolas Otamendi, di penghujung laga.
Panggung Ajaib Rodrigo Zalazar
Pertandingan dimulai dengan intensitas tinggi. Benfica nyaris unggul lebih dulu pada menit ke-4.
Namun kiper Braga, Lukas Hornicek, tampil fenomenal dengan menggagalkan peluang satu-lawan-satu kontra Pavlidis dan tembakan jarak dekat Sudakov.
Penyelamatan ganda ini menjadi titik balik mental bagi skuad asuhan Carlos Vicens.
- Braga yang bermain lebih efektif akhirnya memecah kebuntuan pada menit ke-19. Pau Victor berhasil meneruskan umpan akurat Rodrigo Zalazar untuk menaklukkan kiper Trubin.
- Skor 1-0 memicu kepercayaan diri Braga yang semakin menggila. Momen terbaik pertandingan lahir pada menit ke-32.
- Rodrigo Zalazar mempertontonkan aksi kelas dunia dengan menggiring bola dari area pertahanan sendiri, melewati hadangan pemain tengah Benfica, hingga melepaskan tembakan tenang ke sudut gawang.
- Gol solo ini membawa Braga unggul nyaman 2-0 hingga turun minum, sekaligus membuat lini belakang Benfica tampak rapuh.
Respons Benfica & Hukuman Lagerbielke
Memasuki babak kedua, Jose Mourinho mencoba mengubah keadaan dengan memasukkan Gianluca Prestianni.
- Tekanan bertubi-tubi Benfica akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-63, setelah Pavlidis dilanggar Paulo Oliveira di kotak terlarang. Pavlidis yang menjadi eksekutor sukses memperkecil kedudukan menjadi 2-1.
- Namun, Braga menunjukkan kematangan mentalnya. Alih-alih bertahan total, mereka tetap melancarkan serangan balik berbahaya.
- Kepastian kemenangan datang di menit ke-82. Berawal dari skema tendangan bebas, bola rebound dari tepisan Trubin langsung disambar oleh Gustaf Lagerbielke menjadi gol ketiga.

Laga ditutup dengan frustrasi kubu Benfica, setelah Nicolas Otamendi diusir wasit akibat akumulasi kartu kuning. Skor 3-1 bertahan hingga peluit panjang berbunyi.
Hasil itu membuat sejarah untuk pertama kalinya Derby Minho, terjadi di final piala domestik utama Portugal.
Usai laga, Pelatih Braga, Carlos Vicens memuji kedisiplinan anak asuhnya yang setia pada identitas permainan tim.
“Kami tahu harus ‘menderita’ saat melawan tim sekelas Benfica, tapi kuncinya adalah tetap berani dan tidak hanya bertahan. Kemenangan ini adalah buah dari karakter yang kami bangun sepanjang musim,” ungkap Vicens dikutip dari Situs Resmi Braga.
Kontras dengan kegembiraan Braga, Pelatih Benfica, Jose Mourinho meledak dalam kemarahan. Seperti dilansir dari Portugoal, Mourinho bahkan langsung mengumumkan hukuman bagi para pemainnya.
“Benfica pantas kalah. Kami bermain sangat buruk di babak pertama. Para pemain tidak akan pulang malam ini, mereka harus tidur di pusat latihan Seixal agar mereka punya waktu untuk berpikir,” tegas pelatih berjuluk The Special One tersebut.
Kemenangan ini membawa dimensi baru bagi sepakbola Portugal. Untuk ketiga kalinya dalam 19 tahun sejarah kompetisi, laga final tidak melibatkan satupun dari “Tiga Besar” (Benfica, Porto, Sporting).
Kota Leiria dipastikan akan diserbu ribuan penggemar dari wilayah utara Portugal, untuk menyaksikan Derby Minho paling bergengsi dalam sejarah antara SC Braga dan Vitoria SC yang melaju ke final setelah menang atas Sporting.
Final ini bukan sekadar perebutan trofi, melainkan pembuktian supremasi di wilayah Minho yang kini menggeser dominasi raksasa tradisional Portugal.
Braga berada dalam jalur yang tepat untuk menambah koleksi trofi mereka, sementara Benfica harus pulang dengan tumpukan evaluasi di bawah bayang-bayang hukuman dari sang manajer. (*)
Baca juga :





