Harapan di Tengah Larangan: Cahaya Pendidikan Online Bagi Wanita Afghanistan

Dibawah Larangan Edukasi Taliban, Kaum Perempuan Afghanistan Beralih Menuju Pendidikan Online

Kabul, Afghanistan — Saat Taliban merebut kekuasaan di Afghanistan pada tahun 2021, kegelapan perlahan menyelimuti kehidupan kaum perempuan.

Hak-hak paling sederhana, mulai dari mengunjungi taman, pergi ke pusat kebugaran, hingga makan di restoran, mulai dibungkam.

Bahkan, suara dan wajah mereka dilarang muncul di ruang publik, dengan sedikit pengecualian di beberapa pekerjaan. Namun, di antara semua larangan itu, yang paling kejam adalah larangan terhadap pendidikan.

Foto: Dok. AP News

Pendidikan, yang seharusnya menjadi hak dasar bagi setiap manusia, justru berubah menjadi tindakan terlarang yang diancam hukuman di Afghanistan.

Bagi perempuan di sana, mengejar pendidikan di atas sekolah dasar adalah sebuah mimpi yang direnggut paksa. Namun, di tengah kegelapan yang pekat, sebuah sinar harapan muncul dari balik layar komputer.

Harapan dari Dunia Maya

Sodaba, seorang mahasiswi farmakologi, merasakan betul dampak pahit dari larangan Taliban.

Menghadapi ujian besar tak hanya dalam pendidikannya, tetapi juga dalam hak-hak dasarnya sebagai seorang wanita, ia menemukan secercah harapan di dunia online.

Ia bergabung dengan sebuah kursus pemrograman komputer gratis yang khusus ditujukan untuk wanita Afghanistan.  Melalui metode pengajaran online, Sodaba mulai menyelami dunia pemrograman dan pengembangan situs web.

Sodaba mempelajari pemrograman komputer dan situs web tersebut dengan menggunakan bahasa sehari harinya, yaitu Bahasa Dari, sebuah varian Bahasa Persia yang juga merupakan salah satu bahasa resmi Afghanistan.

Keterampilan baru ini bukan hanya sekadar pengetahuan, tetapi juga jembatan untuk meraih kembali kepercayaan diri dan menemukan arah hidupnya.

“Saya percaya seseorang tidak boleh menyerah pada keadaan, tetapi harus tumbuh dan meraih impiannya dengan segala cara yang memungkinkan,” ucap Sodaba, sebagaimana dikutip dari AP News.

Kursus ini merupakan bagian dari Afghan Geeks, sebuah perusahaan yang didirikan oleh Murtaza Jafari.

Lahir dari Pengalaman, Diciptakan untuk Berbagi

Murtaza Jafari, Pendiri Afghan Geeks, kursus online yang membantu para wanita di Afghanistan secara gratis – Foto: Dok. AP News

Beberapa tahun lalu, Murtaza Jafari adalah seorang remaja pengungsi yang menyeberangi laut dari Turki ke Yunani. Saat itu, ia sama sekali buta teknologi.

“Saya sama sekali tidak tahu bahasa Inggris. Sama sekali tidak tahu, seperti nol nol,” kenang Jafari, dikutip dari AP News. “Dan saya mencoba belajar bahasa Yunani, bahasa Inggris, dan juga komputer di saat yang bersamaan. … Itu sangat sulit bagi saya.”

Namun, di sebuah penampungan di Athena, ia mendapatkan bantuan dari seorang guru yang membantunya mendaftar kursus pemrograman.

Dalam beberapa bulan, Jafari berhasil meraih sertifikat. Pengalaman itulah yang menjadi inspirasi baginya untuk mendirikan Afghan Geeks dua tahun lalu.

Dilansir dari AP News, Jafari mulai memberikan kursus online pada bulan Desember lalu untuk membantu para wanita di tanah airnya.

Saat ini, ia mengajar 28 siswi dalam tiga kelas: Beginner, Intermediate, dan Advanced. Tujuannya sederhana namun mulia.

“Tujuan utamanya adalah untuk memberikan kembali kepada masyarakat, terutama kepada perempuan Afghanistan, apa yang telah saya terima dari orang lain secara cuma-cuma,” ujarnya.

Selain mengajar, Jafari juga membimbing murid-muridnya untuk mencari magang dan pekerjaan online.

Beberapa siswi yang berkualifikasi, bahkan bergabung dengan tim Afghan Geeks, yang kini menawarkan layanan pengembangan situs web dan pembuatan chatbot untuk klien dari berbagai negara, termasuk Afghanistan, Amerika Serikat, Inggris, dan Eropa.

“Saya pikir… berbagi pengetahuanlah yang membuat perbedaan nyata bagi seseorang,” kata Jafari. “Dan jika saya membagikannya, pengetahuan itu akan terus berkembang, dan akan ada lebih banyak orang yang belajar.”

Selama tujuh bulan mengajar, Jafari tidak pernah melihat wajah murid-muridnya.

“Saya tidak pernah meminta mereka untuk membuka kamera atau membagikan profil mereka, atau membagikan foto mereka. Saya tidak pernah melakukan itu… karena saya menghormati budaya mereka, pilihan mereka,” tegasnya.

Vision Online University

Afghan Geeks bukanlah satu-satunya harapan yang muncul dari dunia online. Vision Online University, sebuah akademi online yang menawarkan berbagai subjek pelajaran.

Mulai dari psikologi, bahasa asing, hingga studi Al-Qur’an, keperawatan, dan public speaking, juga membantu ribuan wanita yang terhalang oleh larangan pendidikan.

Didirikan oleh seorang wanita muda Afghanistan yang bermitra dengan seorang profesor universitas, akademi ini yang awalnya hanya memiliki tim lima orang, kini memiliki 150 guru dan administrator sukarela yang mengajar lebih dari 4.000 siswa.

“Kami semua bekerja sukarela tanpa gaji, tanpa tunjangan,” ucap pendiri Vision Online University, yang menggunakan nama samaran Zuhal untuk melindungi dirinya dari ancaman.

“Satu-satunya tujuan kami adalah menyediakan pendidikan gratis bagi anak perempuan dan meningkatkan penelitian di Afghanistan.”

Zuhal menjelaskan bahwa tanpa pendanaan, akademinya harus berjuang keras untuk membayar layanan internet dan menggelar pertemuan online untuk grup besar.  Namun, ia tak menyerah.

“Tapi saya melakukannya karena saya punya tujuan,” ujarnya, dikutip dari AP News. “Dan tujuan saya adalah mendukung anak-anak perempuan. Jika saya menghentikannya, lebih dari 4.000 atau 5.000 anak perempuan akan mengalami depresi lagi.”

Dengan adanya Afghan Geeks dan Vision Online University, kaum perempuan Afghanistan kini memiliki kesempatan untuk mengejar pendidikan, meskipun mereka berada di bawah larangan Taliban.

Meskipun hak-hak dasar mereka direnggut secara perlahan-lahan, bantuan yang mereka dapatkan dari dunia online mampu memberikan harapan di tengah kegelapan, membuktikan bahwa semangat belajar dan berbagi tak akan pernah bisa dibungkam. (VT)

Baca juga : 

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *