Washington, AS – Kepala Badan Intelijen Pertahanan (DIA), Letnan Jenderal Jeffrey Kruse dicopot dari jabatannya.
Anggota parlemen menilai, langkah ini adalah bagian dari serangkaian manuver pemerintahan Presiden Donald Trump, untuk membersihkan komunitas intelijen dari pejabat yang dianggap tidak sejalan, lalu menggantikannya dengan loyalis.
Kabar pemecatan mendadak Kruse pertama kali mencuat dari laporan The Washington Post. Media itu mengutip sumber anonim yang menyebut alasan “hilangnya kepercayaan” sebagai pemicu pemecatan.
Setelah Kruse, dua pemimpin militer lain juga dilaporkan ikut diberhentikan, yaitu Wakil Laksamana, Nancy Lacore dan Laksamana Muda, Milton Sands.
Pemecatan ini seketika menimbulkan pertanyaan besar, terutama karena terjadi hanya dua bulan setelah DIA merilis laporan yang secara langsung membantah klaim Presiden Trump.
Pada Juni lalu, DIA membuat penilaian awal bahwa serangan militer AS terhadap tiga situs nuklir utama Iran tidak sepenuhnya melenyapkan fasilitas tersebut.
Sebaliknya, laporan itu menyebutkan bahwa serangan hanya menunda program nuklir Iran selama beberapa bulan.
Temuan ini terang-terangan berlawanan dengan klaim Trump yang menyebut serangan telah “melumatkan” kemampuan nuklir Iran. Pemerintahan Trump segera memberikan bantahan keras.

Menteri Pertahanan Amerika, Pete Hegseth bahkan menegaskan bahwa klaim presiden adalah fakta.
“Berdasarkan semua yang telah kami lihat dan saya telah melihat semuanya kampanye pengeboman kami melenyapkan kemampuan Iran untuk menciptakan senjata nuklir,” ujar Hegseth.
Bentuk Ujian Loyalitas
Pemecatan Kruse memicu kritik keras dari anggota Kongres. Mereka khawatir, intelijen kini diperlakukan sebagai alat politik, bukan lagi sebagai alat untuk melindungi negara.
Senator Mark Warner, Wakil Ketua Komite Intelijen Senat menyebut pemecatan ini sebagai kebiasaan berbahaya.
“Pemecatan pejabat senior keamanan nasional lainnya ini menggaris-bawahi kebiasaan berbahaya pemerintahan Trump yang memperlakukan intelijen sebagai ujian loyalitas, bukan sebagai perlindungan bagi negara kita,” katanya kepada The Washington Post.
Menurut Warner, keputusan ini tidak mengejutkan.
“Tentu saja tidak mengherankan jika pemecatan Jenderal Kruse sebagai kepala Badan Intelijen Pertahanan datang setelah penilaian DIA secara langsung bertentangan dengan klaim presiden yang telah ‘melumatkan’ program nuklir Iran,” tambahnya.
Jim Himes, Anggota Senior Komite Intelijen DPR juga menyampaikan keprihatinan serupa.
“Jika pemerintahan punya alasan untuk memecat Direktur Kruse, mereka harus segera memberikan informasi itu kepada Kongres. Kalau tidak, kita hanya bisa berasumsi bahwa ini adalah keputusan bermotif politik lainnya yang dimaksudkan untuk menciptakan suasana ketakutan, sesuatu yang menghalangi kemampuan Komunitas Intelijen untuk melakukan tugasnya dan melindungi keamanan nasional,” tegasnya.
Para kritikus meyakini ketika laporan berbasis fakta dikesampingkan atau dibungkam, hal itu justru akan merugikan Amerika.
“Ketika keahlian dikesampingkan dan intelijen diputarbalikkan atau dibungkam, musuh-musuh kita akan diuntungkan dan Amerika menjadi kurang aman,” pungkas Warner dikutip The Washington Post. (YA)





