Ketika AI Mengguncang Dunia, Siapa Yang Akan Menjaga Kebenaran ? Pertanyaan di Panggung DNA Master Class

Di Balik Kekuatan Algoritma: Mengapa Kita Harus Bertanya, 'Kita Ada di Mana di Era AI Ini ?'

Jakarta — Di tengah gemerlap inovasi yang dipamerkan dan hangatnya berbagai topik yang disajikan dalam acara DNA Master Class 2025 di Grand Hyatt Jakarta, sebuah perspektif yang berbeda dihadirkan.

Alih-alih mengagungkan kecanggihan kecerdasan buatan (AI), Chief Marketing Officer Kompas Gramedia, Dian Gemiano mengajak para peserta untuk merenung dan mengajukan sebuah pertanyaan yang jauh lebih mendalam: “Kita ada di mana di era AI ini ? Kita sebagai manusia ada di mana?”

Menurut Dian, pertanyaan tentang “AI bisa melakukan apa ?” adalah pertanyaan yang usang. Jawabannya sudah jelas, AI bisa melakukan apa saja.

Namun, yang jauh lebih penting untuk dibicarakan adalah peran dan posisi manusia di tengah revolusi ini. Ia menekankan bahwa kendali harus tetap ada di tangan manusia, bukan sebaliknya.

“Semua sepakat, manusia harus mengendalikan mesin ini,” ujarnya, mengingatkan bahwa akan sangat berbahaya jika mesin yang mengendalikan kita.

Etika Sebagai Kompas di Lautan AI

Sebagai praktisi di industri media, Dian Gemiano membagikan pengalaman konkret. Ketika generative AI pertama kali muncul pada tahun 2023, respons pertama dari perusahaannya adalah membuat panduan etika.

Langkah ini diambil karena mereka tahu AI tidak memiliki nilai-nilai moral. Panduan inilah yang menjadi kompas, yang menjaga mereka untuk tetap humanis dan berintegritas di tengah eksplorasi teknologi.

Baginya, AI adalah alat yang sangat efisien untuk membantu berbagai proses, termasuk storytelling. Namun, inti dari cerita itu harus tetap datang dari manusia.

“Karena kita yang paling paham nuansa, kita yang paling paham konteks, kita yang paling paham emosi,” jelasnya.

Ia bahkan mengutip seorang Ahli AI, Christopher Smith, yang dalam bukunya menyampaikan pemikiran mendalam: “we are everything before the prompt”

CMO Kompas Gramedia, Dian Gemiano – Foto: Dok. Kompas Gramedia

Ini berarti, peran krusial manusia yang memiliki kontrol dan inisiatif sebelum memberikan perintah atau pertanyaan kepada AI, yang hanya dapat merespons berdasarkan input yang diberikan.

Kita memiliki latar belakang pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman yang luas sebelum berinteraksi dengan AI, sehingga harus memastikan bahwa input yang diberikan adalah etis dan tidak berbahaya, mempertimbangkan nuansa dan konteks serta empati.

Menjaga Kredibilitas di Era ‘Post-Truth’

Lalu, bagaimana dengan audiens ? Dian Gemiano yang biasa disapa Mas Gemi ini menyampaikan sebuah tantangan besar di era yang disebutnya sebagai “post-truth” – di mana kebenaran semakin sulit dibedakan.

Di tengah banjir informasi, kredibilitas menjadi mata uang paling berharga. “Orang ingin kebenaran,” katanya. Meskipun konten viral akan selalu dikonsumsi, pada akhirnya audiens akan mencari sumber yang bisa dipercaya.

Dian menekankan bahwa tanggung jawab ini meluas hingga ke proses kreasi konten itu sendiri. Meskipun AI dapat mempersingkat alur kerja yang panjang, keputusan mengenai sudut pandang, narasi, dan validasi akhir tetap di tangan manusia. Ia menyebut beberapa risiko yang harus diatasi:

  • Deepfake & Fraud: Kemampuan AI menciptakan konten palsu yang sangat meyakinkan.
  • Penyalahgunaan Data: Ancaman terhadap privasi dan keamanan data menjadi lebih serius.
  • Bias Tersembunyi: Algoritma yang dikendalikan oleh pemiliknya berpotensi memiliki bias personal atau politik yang tak terlihat.

Dari Platform ke Tanggung Jawab Mandiri

Mas Gemi juga mengungkapkan keraguan untuk sepenuhnya bergantung pada pemilik platform global, seperti perusahaan di Silicon Valley, karena algoritma dan bias mereka tidak pernah bisa diketahui publik.

“Jadi pertanyaannya, sebenarnya kita percaya enggak sama pemiliknya?” tanyanya.

Ia menekankan bahwa media dan brand harus memiliki regulasi mandiri.

“Kita enggak bisa minta platform, ‘kalian ethical dong!’ Enggak bisa dong. Jadi kita yang harus menjaganya,” ucapnya.

Salah satu panduan yang mereka terapkan adalah tidak mempublikasikan konten hasil interaksi AI tanpa final check dari manusia.

SVP of President Office Sinar Mas Land, Panji Himawan (batik), Wamen Dikti Saintek, Prof. Stella Christie dan SVP Ecosystem Acquisition & Partnership Sinar Mas Land, Yanto Suryawan

Sikap ini sejalan dengan visi Sinar Mas Land sebagai penyelenggara DNA Master Class 2025. Senior Vice President of President Office Sinar Mas Land, Panji Himawan yang memiliki latar belakang panjang di bidang komunikasi dan publikasi menyatakan bahwa di dunia komunikasi, kredibilitas bukanlah sebuah fitur tambahan, melainkan pondasi utama sebuah brand.

“AI sebagai alat yang luar biasa, namun tanpa kurasi manusia dan validasi etis, kekuatannya bisa menjadi bumerang. Konteks dan nuansa adalah esensi dari narasi yang berjiwa. Sinergi antara teknologi dan empati manusia inilah yang kami sebut sebagai ‘ekosistem berjiwa’, sebuah tempat di mana inovasi teknologi tidak hanya tumbuh subur, tetapi juga dijaga kebenaran dan integritasnya,” ujar Panji.

Pada akhirnya, diskusi di DNA Master Class 2025 menegaskan satu hal: masa depan AI tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologinya, melainkan oleh seberapa bijak kita menggunakannya.

Pertanyaan tentang kebenaran, kepercayaan, dan etika kembali ke tangan kita. Peran media, brand, dan setiap individu adalah menjadi penjaga gawang kebenaran.

Kita tidak boleh menunggu, kita harus menjadi subjek yang mengendalikan AI, memastikan teknologi ini tidak hanya cerdas dalam algoritma, tetapi juga berkeadilan dalam implementasinya. (*)

Baca juga : 

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *