DNA Master Class Membongkar ‘Rahasia Dapur’ Bagaimana Menghemat Miliaran Rupiah di Industri Kreatif!

Revolusi Kreatif: Ketika AI Jadi 'Partner' Baru di Industri Iklan dan Marketing

Jakarta — Di tengah persaingan ketat industri periklanan, sebuah fenomena baru mulai mengubah peta permainan. Para produser dan agensi kini dihadapkan pada tren yang tak terhindarkan: kecepatan.

Hal itu terungkap di tengah diskusi tentang masa depan industri, pada acara DNA Masterclass 2025 yang digagas oleh Digital Hub Sinar Mas Land di Grand Hyatt, Jakarta,

Bagi sebagian orang, AI mungkin terlihat sebagai ancaman. Namun bagi para pelaku industri kreatif, terutama di dunia produksi film dan iklan, AI justru dipandang sebagai “mitra” yang mampu mengubah cara kerja menjadi lebih efisien dan efektif.

Salah satu pembicara, Patrick Effendi, IP Producer dari Creative Nest membagikan pengalaman nyata kepada para peserta DNA Master Class.

Patrick Effendi, Creative Nest

Menurutnya, banyak klien kini mulai “FOMO” (Fear of Missing Out) karena melihat betapa cepatnya sebuah proyek AI diterima, dibandingkan dengan proses syuting tradisional yang memakan waktu.

“Fenomena ini memicu pro-kontra di kalangan produser, tetapi secara teknis, AI telah memberikan bantuan besar,” ujar Patrick.

Solusi Cerdas Tantangan Produksi

Patrick membeberkan sebuah “rahasia dapur” dari proyek yang dikerjakan Creative Nest di kawasan Digital Hub, BSD City.

Tantangan besar muncul ketika mereka harus melakukan syuting di lokasi yang sedang berkembang. Sebuah gedung megah mungkin sudah berdiri kokoh, tetapi di kanan-kirinya masih banyak area yang belum selesai, seperti galian atau bangunan yang belum rampung.

  • Masalah: Untuk menyamarkan area-area yang belum selesai tersebut, dibutuhkan touch-up digital atau CGI (Computer-Generated Imagery) yang biayanya sangat mahal. Jika tidak dilakukan, hasil visualnya akan terlihat kurang elegan dan tidak sesuai dengan visi yang ingin disampaikan oleh klien.
  • Solusi AI: Alih-alih membuat CGI dari nol, timnya membalikkan alur kerja. Mereka merekrut seorang seniman digital untuk memperbaiki satu gambar kunci. Setelah itu, gambar yang sudah sempurna tersebut diproses dengan bantuan AI untuk diterapkan pada setiap frame video.

“Dengan cara ini, biaya dapat ditekan drastis dan proses visual menjadi jauh lebih cepat,” kata Patrick.

Ia memberikan contoh pada gedung baru Biomedical di Digital Hub di mana timnya banyak menerapkan teknik ini, termasuk untuk membuat timelapse dan mengganti latar belakang yang tidak diinginkan.

AI Permudah Komunikasi & Pra-Produksi

Selain menghemat biaya produksi, Patrick juga menyoroti peran AI dalam mempermudah komunikasi dengan klien. Di dunia kreatif, seringkali imajinasi antara sutradara, produser, dan klien berbeda satu sama lain.

“Itu yang memang sulit sekali kalau mengumpulkan 20-30 orang untuk punya satu visi itu kan agak susah,” jelas Patrick.

Namun, kehadiran AI mengubah segalanya. Kini, tim kreatif dapat langsung membuat pre-visual dengan hanya mengetikkan prompt. Hasilnya bisa segera dibagikan kepada klien.

Pada akhirnya, penggunaan AI di tahap pra-produksi, seperti membuat pre-visual, kini menjadi jauh lebih cepat dan efisien.

“Proses-proses yang kita lewati seperti di pre-production, itu sekarang semuanya jauh lebih cepat, efisiensi biaya, dan planning lebih jelas,” pungkasnya.

Hal senada dilontarkan Yonas Yasahardja, Event & Promotion Digital Tech Ecosystem & Development Sinar Mas Land. Menurut Yonas, AI membuka era baru dalam kolaborasi di mana efisiensi dan kreativitas bisa berjalan beriringan, apalagi digabung dengan kreativitas storytelling yang mumpuni.

“Kami di Digital Hub sangat mendukung inovasi ini. Para profesional di industri periklanan dan marketing bisa lebih fokus pada ide-ide besar dan strategi, sementara AI menangani aspek-aspek teknis yang rumit. Dimana AI yang digabungkan dengan proses kreatif storytelling, bisa menjadi powerfull tools buat marketing. AI bisa membantu para profesional dan produser untuk menvisualisasikan ide-ide mereka dengan lebih cepat. Ini adalah langkah awal menuju masa depan di mana teknologi dan kreativitas saling melengkapi,” ujar Yonas.

Sentuhan Manusia Tak Tergantikan

Meski AI menawarkan banyak kemudahan, Patrick juga mengingatkan bahwa peran manusia tetap tak tergantikan, terutama dalam hal kreativitas.

“AI itu cuma bisa mengulang dan menambah dari data yang dia sudah punya.”

Oleh karena itu, AI sebaiknya dilihat sebagai tools atau alat bantu, bukan sebagai pengganti. Mengakhiri sesinya, Patrick menekankan pentingnya bagi para insan kreatif untuk terus mengembangkan pengetahuan kognitif mereka.

Jika tidak kita akan kalah. Ini adalah tantangan dan sekaligus peluang bagi industri kreatif untuk terus berinovasi, tanpa kehilangan esensi kemanusiaan. (VT)

Baca juga : 

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *