DPR: Indonesia Pemain Utama di Panggung Diplomasi Global, Caranya ? Pakai AI!

Anggota DPR Tegaskan Pengembangan Kecerdasan Buatan Adalah Strategi Vital Perkuat Posisi Bangsa di Panggung Global

Jakarta — Di tengah persaingan global yang semakin ketat, para pemangku kebijakan di Indonesia mulai melirik kecerdasan buatan (AI), yang bukan hanya sebagai alat teknologi.

AI dimanfaatkan juga sebagai senjata strategis untuk memuluskan langkah diplomasi, dan memperkuat peran bangsa di panggung dunia.

Sebuah diskusi yang menjadi perhatian publik, termasuk di media sosial, terjadi dalam acara pembekalan peserta Program Pendidikan Pimpinan Nasional (P3N) XXV dan Program Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXVIII Tahun 2025.

Salah satu peserta Laksamana Pertama TNI Arif Badrudin seorang perwira tinggi lulusan S3 di bidang AI, mengusulkan kepada Wapres Gibran, sebuah langkah berani: mengalokasikan sebagian investasi dana abadi Danantara untuk pengembangan teknologi AI di negara-negara non-blok.

Menurutnya, ini adalah cara Indonesia untuk kembali memimpin dan membawa perdamaian di dunia yang kian terpolarisasi.

Strategi Geopolitik & Pengembangan Teknologi

Anggota Komisi I DPR RI, Junico “Nico” Siahaan menyambut usulan tersebut dengan antusias. Menurutnya, pandangan visioner seperti ini sangat dibutuhkan untuk mendorong lahirnya pemimpin muda yang tak hanya mengurus domestik, tapi juga memiliki visi besar untuk menjadikan Indonesia aktor perdamaian dunia.

Nico Siahaan, Anggota Komisi 1 DPR RI – Foto: Dok. Istimewa

“Poin utama kita adalah mendorong lahirnya pemimpin dengan visi besar yang ingin menjadikan Indonesia sebagai aktor perdamaian dunia. Untuk itu, diplomasi harus diperkuat,” ujar Nico di Gedung  Parlement Senayan, Jumat (22/08/25).

Ia menambahkan, Indonesia perlu mencetak diplomat-diplomat muda yang tidak hanya menguasai teori, tapi juga aktif terlibat dalam upaya perdamaian global.

Menurut Nico, memanfaatkan teknologi seperti AI adalah salah satu cara untuk meregenerasi kepemimpinan dan diplomasi Indonesia agar lebih adaptif di era digital.

“Dunia ke depan membutuhkan aktor-aktor muda dari Indonesia yang bisa berbicara setara di panggung internasional, baik dalam isu perdamaian, iklim, keamanan digital, maupun teknologi,” tegas Nico.

DPR Komitmen Bentuk Teknologi AI

Proposal dari Laksamana Pertama Arif Badrudin yang viral di media sosial, mengusulkan agar 20 persen investasi dari Danantara dialokasikan ke negara-negara non-blok dalam bentuk teknologi AI.

Usulan ini bukan sekadar investasi finansial, melainkan investasi strategis yang berpotensi menciptakan industri-industri startup baru di negara berkembang, yang dipimpin oleh generasi muda Indonesia.

Dengan komitmen ini, Komisi I DPR RI berjanji akan terus mendorong kebijakan luar negeri yang inklusif, adaptif, dan berbasis inovasi.

Langkah ini tak lain adalah untuk menjaga kedaulatan bangsa sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia, dengan AI sebagai salah satu kunci utama. (YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *