Konflik di Ujung Jari: Thailand vs Kamboja Perang Kata di Dunia Maya

Bukan Hanya Senjata, Kata-Kata Juga Melukai  Ketegangan Memuncak, Netizen Dua Negara Terlibat ‘Perang Kebangsaan’ di TikTok dan X

Bangkok, Thailand –  Ketegangan di perbatasan Thailand–Kamboja tak hanya menciptakan korban jiwa, tapi juga menyulut perang yang sama panasnya di dunia maya.

Ribuan warganet dari kedua negara kini saling serang di media sosial, menjadikan TikTok, X (Twitter), dan Facebook sebagai medan tempur digital.

Aksi saling tuduh bermula dari bentrokan berdarah di perbatasan yang menewaskan lebih dari selusin orang.

Di tengah upaya diplomatik untuk meredam konflik bersenjata, netizen justru menyalakan api baru melalui komentar, video, dan tagar nasionalistik yang memanas.

“Keadilan untuk Kamboja! Pasukan Thailand yang menembak lebih dulu!” tulis seorang pengguna TikTok asal Kamboja.

Dibalas tajam oleh pengguna dari Thailand: “Siapa yang percaya pada negara penipu terbesar seperti Kamboja?”  seperti yang dikutip oleh BBC News.

Ketegangan Meningkat, Kata Menjadi Senjata

Postingan dengan tagar seperti #CambodiaOpenedFire dan #ThailandOpenedFire terus bermunculan, masing-masing membela versi resmi pemerintah mereka.

Konflik ini sudah mendidih sejak Mei lalu, saat baku tembak menewaskan seorang tentara Kamboja. Sejak itu, kedua negara memperketat perbatasan, membatasi perjalanan, dan meningkatkan pengawasan militer.

Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana perpecahan sosial kini mulai menyeberang ke dunia nyata.

Sebuah video viral memperlihatkan seorang pria Thailand menampar pekerja asal Kamboja setelah memaksa mereka berbicara bahasa Khmer.

Preah Vihear, sebuah kuil abad ke-11, terletak di dekat wilayah yang dipersengketakan – Foto : Dok. BBC News

“Kita mulai melihat kekerasan, bahkan dari kelompok yang sebelumnya tidak berseteru,” ujar Wilaiwan Jongwilaikasaem, dosen jurnalistik dari Universitas Thammasat, kepada BBC Thai.

Perseteruan Sejarah dan Budaya yang Membara

Konflik antara Thailand dan Kamboja bukan hal baru. Perseteruan soal warisan budaya seperti kuil, pakaian adat, hingga makanan dan olahraga tradisional telah berlangsung lebih dari satu abad.

Lokasi Perbatasan Perang Thalinda vs Kamboja

Pada 2008, Kamboja mendaftarkan Kuil Preah Vihear ke UNESCO, membuat Thailand bereaksi keras. Belakangan, ketegangan melebar ke Kompleks Kuil Ta Moan, yang kini menjadi salah satu titik bentrok pasukan.

Warganet Thailand menyebut Kamboja sebagai Claimbodia”, menuding mereka melakukan pencurian budaya. Sebaliknya, warga Kamboja menyebut Thailand “Siamese Thieves.

Ketegangan budaya juga menyulut boikot: pada SEA Games 2023, atlet Thailand menolak bertanding karena Muay Thai diganti menjadi “Kun Khmer”.

Pertikaian Politik Makin Membara di Medsos

Konflik ini juga menarik masuk para elite politik. Thaksin Shinawatra, mantan PM Thailand, menyebut ingin membantu sebagai mediator, namun juga menyindir keras:

“Saya harus beri waktu militer Thailand untuk mengajari Hun Sen pelajaran atas kelicikannya,” tulis Thaksin di X.

Hun Sen, eks-pemimpin kuat Kamboja, membalas pedas: “Saya tak heran dengan sikap Thaksin. Dia bahkan mengkhianati Raja Thailand dan partainya sendiri.”

Keretakan keduanya memuncak saat Hun Sen membocorkan rekaman percakapan putri Thaksin, yang juga PM saat itu, menyebutnya “om” dan mengkritik jenderal militernya sendiri.

Imbasnya, dia diskors dan kini menghadapi petisi pemecatan oleh Mahkamah Konstitusi Thailand. (YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *