Lahan Karst “Mati” Disulap Petani Gen Z Jadi Kebun Surga Berbasis Teknologi

Dari Batu Karang Tak Produktif, Panen Melon dan Hortikultura Premium Melimpah Berkat Sistem Irigasi Otomatis dan Sensor Rakitan.

Maros, Sulawesi Selatan – Desa Bonto Lempangan di Kabupaten Maros, yang selama ini dikenal dengan bentangan lahan karst berbatu dan sulit ditanami, kini menjadi saksi bisu kebangkitan pertanian modern di tangan sekelompok anak muda.

Para petani dari Generasi Z ini tidak hanya mengubah pemandangan, tetapi juga stigma.

Mereka sukses menyulap lahan yang dianggap “mati” menjadi kawasan produktif yang kaya akan hasil hortikultura premium, semuanya berkat inovasi teknologi yang mereka rakit sendiri.

Petani muda ini membuktikan bahwa keterbatasan alam bukanlah penghalang.

Dengan menggunakan metode tanam polibag dan sistem pertanian presisi, mereka kini mampu memanen beragam komoditas mulai dari selada, pak choi, cabai, bawang merah, hingga melon.

Inovasi Anak Gen Z Maros

  • Polibag dan Media Tanam Khusus: Mengatasi lahan karst yang keras dan miskin hara.
  • Hortikultura Unggulan: Berhasil menanam jenis tanaman sensitif seperti melon dan bawang merah di lingkungan non-konvensional.

Teknologi “Low-Cost” Berbasis Otak Lokal

Yang membuat kisah ini semakin menarik adalah seluruh infrastruktur teknologi yang mereka gunakan tidak dibeli, melainkan dirakit secara otodidak.

Para petani Gen Z ini membangun sendiri:

  • Sistem irigasi otomatis dan drainase tetes yang sangat efisien dalam penggunaan air.
  • Sensor kelembaban tanah untuk memantau kondisi real-time.
  • Panel surya sebagai sumber energi mandiri dan ramah lingkungan.

“Kami analisis dulu tanaman apa saja yang bisa tumbuh di kondisi lahan seperti ini. Setelah itu baru kami tanam, dan ternyata hasilnya sangat memungkinkan,” ungkap Aldi, salah satu petani Gen Z, saat diwawancarai pada Sabtu (18/10).

Pengawasan Real-time dan Ambisi Percontohan

Kunci keberhasilan lainnya terletak pada peran Suryadi, seorang perakit alat yang bekerja sama dengan para petani muda ini.

Ia membantu mengembangkan perangkat yang memungkinkan seluruh sistem pertanian dipantau dan dikendalikan melalui aplikasi di ponsel pintar.

Pengawasan jarak jauh ini memastikan setiap tanaman mendapatkan kebutuhan air dan nutrisi yang tepat, mengurangi risiko kegagalan panen dan efisiensi tenaga kerja.

“Lokasinya memang cukup menantang karena berada di daerah berbatu karst. Tapi dengan pendekatan teknologi yang tepat, kami ingin menjadikan wilayah ini sebagai percontohan pertanian modern di Maros, bahkan Sulawesi Selatan,” ujar Suryadi, penuh harap.

Inovasi yang menggabungkan semangat muda, ketekunan, dan teknologi rakitan ini telah menarik perhatian nasional.

Proyek ini bahkan mendapatkan dukungan berupa pendanaan riset dan pengembangan alat dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.(YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *