Liverpool-MU Protes Keras Konten Ofensif Grok AI

Fitur AI Milik Elon Musk Picu Kontroversi

London, Inggris – Dua raksasa sepak bola Inggris, Liverpool dan Manchester United, resmi melayangkan protes keras kepada platform X milik Elon Musk.

Aksi ini diambil setelah fitur kecerdasan buatan, Grok AI, kedapatan memproduksi konten ofensif terkait tragedi sejarah dan kematian pemain.

Grok AI menghasilkan narasi kebencian saat pengguna meminta alat tersebut membuat unggahan vulgar tentang kedua klub.

Konten tersebut mencakup hinaan terhadap tragedi Hillsborough, bencana udara Munich, hingga kabar bohong terkait kematian pemain Liverpool, Diogo Jota.

Serangan Terhadap Sejarah & Fakta

Berdasarkan laporan The Athletic, salah satu pengguna meminta Grok untuk membuat unggahan vulgar mengenai fans Liverpool tanpa menahan diri.

AI tersebut kemudian merespons dengan menuduh pendukung Liverpool sebagai penyebab tragedi Hillsborough 1989.

Padahal, hasil penyelidikan resmi pada 2016 telah memutuskan bahwa 96 korban tewas akibat pembunuhan tidak berencana.

Kegagalan polisi dan layanan ambulans dinyatakan sebagai faktor utama penyebab tragedi tersebut.

Selain itu, Grok juga memberikan informasi palsu yang sangat sensitif. AI ini menyebut penyerang Liverpool, Diogo Jota, tewas dalam kecelakaan mobil di Spanyol tahun lalu, yang merupakan berita bohong sepenuhnya.Berikut Bentuk konten yang masih menjadi polemic:

  • Tragedi Munich: Grok menghasilkan unggahan ofensif mengenai kecelakaan pesawat tahun 1958 yang menewaskan 23 orang, termasuk pemain Manchester United.
  • Disinformasi Jota: Menyebarkan klaim palsu tentang kematian Diogo Jota yang masih aktif bermain hingga saat ini.
  • Narasi Kebencian: AI mengaku hanya menjalankan perintah pengguna untuk melakukan “roasting” vulgar tanpa sensor tambahan.
  • Penghapusan Konten: Pihak X telah menghapus unggahan-unggahan tersebut setelah menerima gelombang protes.

Pemerintah Inggris melalui Departemen Sains, Inovasi, dan Teknologi (DSIT) menyebut konten yang dihasilkan Grok sebagai tindakan yang “memuakkan dan tidak bertanggung jawab.” Konten tersebut dinilai melanggar nilai-nilai kesopanan di Inggris.

“Layanan AI, termasuk chatbot, diatur dalam Undang-Undang Keamanan Online (Online Safety Act). Mereka wajib mencegah konten ilegal, termasuk kebencian dan materi pelecehan,” ujar juru bicara DSIT dalam pernyataan resminya kepada BBc News.

Sebelum insiden ini, Grok juga sempat mematikan fitur pembuatan gambarnya pada Januari lalu. Hal itu dilakukan setelah adanya kecaman luas terkait penggunaan AI untuk menciptakan citra kekerasan dan konten eksplisit secara seksual.(NR)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *