Jakarta – Gelombang demonstrasi besar-besaran yang mengguncang kota-kota besar di Indonesia, terutama Jakarta, tidak hanya menjadi isu domestik, tetapi juga menarik perhatian media-media internasional terkemuka.
Kematian seorang pengemudi ojek daring bernama Affan Kurniawan setelah dilindas kendaraan taktis polisi, memicu kemarahan publik yang meluas.
Berbagai media besar seperti The Guardian, BBC News, dan Al Jazeera mengangkat peristiwa ini dengan sudut pandang yang berbeda, mengungkap kompleksitas isu di baliknya.
Latar Belakang Kekerasan
Media Inggris, The Guardian, mengangkat tajuk “Fire kills three people in Indonesia after protesters storm council buildings in the wake of driver’s death“.
Mereka menyoroti secara langsung insiden kekerasan yang terjadi di Makassar, di mana tiga orang tewas akibat kebakaran di gedung dewan kota.

The Guardian tidak hanya melaporkan fakta, tetapi juga menggali narasi di balik kemarahan tersebut, yaitu :
“low wages and perceived lavish perks for lawmakers” (upah rendah dan tunjangan mewah yang dianggap berlebihan untuk para legislator).
Media ini juga menyajikan pernyataan dari pejabat setempat, seperti Rahmat Mappatoba, Sekretaris Dewan Kota Makassar, yang terkejut dengan tindakan demonstran yang membakar gedung.
“Ini di luar prediksi kami. Biasanya demonstran hanya melempar batu atau membakar ban di depan kantor. Mereka tidak pernah menyerbu atau membakarnya,” kata Mappatoba.
Sorotan The Guardian juga tertuju pada respons Presiden Prabowo Subianto yang dengan cepat menanggapi situasi, memerintahkan investigasi, dan mengunjungi keluarga korban.
Kemanusiaan & Respons Pemerintah
Sementara itu BBC News, dengan tajuk “Three dead after protests over death of taxi driver in Indonesia,” lebih fokus pada dimensi kemanusiaan dan respons yang diambil oleh berbagai pihak.
Mereka memberikan informasi detail tentang pemakaman Affan Kurniawan, yang dihadiri oleh ribuan pengemudi ojek daring lainnya.

BBC juga menyoroti peran para pejabat, termasuk Kapolri, Anies Baswedan, dan Rieke Dyah Pitaloka, yang mendesak para pengemudi untuk menghentikan protes demi menjaga stabilitas.
Hal ini menunjukkan betapa sensitifnya isu ini dan bagaimana para pemimpin berusaha meredakan ketegangan.
Salah satu poin menarik dari laporan BBC adalah pernyataan dari Gojek, yang berbunyi :
“Behind every green jacket, there’s a family, prayers, and struggle. Affan Kurniawan was part of that journey, and his departure leaves a deep sorrow for all of us.” – (Di balik setiap jaket hijau, ada keluarga, doa, dan perjuangan. Affan Kurniawan adalah bagian dari perjalanan itu, dan kepergiannya meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi kita semua).
Kalimat ini menggarisbawahi identitas dan perjuangan yang terwakili oleh jaket hijau para pengemudi ojek daring, mengubah isu ini menjadi lebih personal dan menyentuh.
Kematian dan Ancaman Anarki
Selanjutnya media yang berbasis di Qatar, Al Jazeera, mengambil judul “Three killed in fire at Indonesian government building blamed on protesters”.
Hampir serupa dengan angle yang diambil Arab News dan Tasnim News Agency, media Iran.
Mereka memberikan fokus yang kuat pada insiden di Makassar dan dampaknya di kota-kota lain. Al Jazeera juga melaporkan bahwa korban tewas adalah pegawai dan PNS yang terjebak di dalam gedung yang terbakar.

Laporan Al Jazeera juga menyoroti pergerakan massa di Jakarta, di mana para demonstran berkumpul di depan markas Brigade Mobil (Brimob).
Media ini memberikan laporan yang rinci tentang kekerasan yang terjadi, seperti pelemparan batu dan petasan, serta respons polisi dengan tembakan gas air mata.
Laporan ini juga mencatat bahwa Presiden Prabowo, selain meminta ketenangan dan investigasi, juga memperingatkan bahwa demonstrasi “were leading to anarchic actions” (mengarah pada tindakan anarki).
Pandangan ini memberikan gambaran tentang dilema yang dihadapi pemerintah dalam mengelola protes, di mana tuntutan keadilan berhadapan dengan kekhawatiran akan kekacauan.

Tiga media internasional ini, meskipun melaporkan peristiwa yang sama, menunjukkan betapa kompleksnya narasi seputar demonstrasi di tanah air.
The Guardian menyoroti akar masalah sosial ekonomi, BBC News menekankan sisi kemanusiaan dan respons pemerintah, sementara Al Jazeera lebih fokus pada kekerasan dan implikasi politiknya.
Semua laporan ini menunjukkan bahwa kericuhan di Jakarta dan kota kota besar lainnya di tanah air, tidak hanya sekadar insiden tunggal, tetapi merupakan cerminan dari ketegangan sosial dan politik yang lebih dalam. (YA)





