Washington, AS – Bayangin, baru masuk sekolah, bukannya belajar malah disuruh pulang cepat gara-gara kelas kayak oven. Bukan cuma di Jakarta, fenomena ini lagi viral banget di Amerika Serikat.
Suhu panas ekstrem yang makin gila, bikin para petinggi sekolah di sana pusing tujuh keliling. Mereka kelimpungan cari cara buat lindungi para siswa dari ‘neraka’ suhu yang udah enggak kenal musim ini.
Liburan musim panas yang biasanya jadi surga buat main di luar, kini malah jadi momok. Suhu yang enggak santai bikin aktivitas outdoor jadi super berisiko.
Musim panas tahun ini jadi salah satu yang terpanas dalam sejarah AS. Efeknya langsung terasa saat tahun ajaran baru dimulai.
Di banyak distrik sekolah, mulai dari New York, Philadelphia, hingga Colorado, jadwal sekolah terpaksa diubah. Jam pelajaran dipersingkat, bahkan ada yang diliburkan mendadak.
Ini bukan cuma masalah AC rusak. Masalahnya lebih kompleks: sebagian besar gedung sekolah di AS dibangun saat iklim masih adem ayem.
“Gedung-gedung ini enggak siap menghadapi suhu ekstrem,” kata Kristen Hengtgen, Direktur Program di UndauntedK12, organisasi nirlaba yang fokus pada fasilitas sekolah tahan panas, dikutip dari The Guardian.
Demi melawan suhu ekstrem, beberapa solusi radikal mulai dibahas. Selain renovasi besar-besaran untuk pasang AC, ada juga ide-ide ‘nyentrik’ lain:
- Pembaruan Sistem AC (HVAC): Ini langkah paling logis, tapi butuh dana besar. Survei Government Accountability Office tahun 2020 memperkirakan 41% distrik sekolah butuh peremajaan sistem HVAC. Artinya, ada sekitar 36.000 gedung yang butuh perbaikan.
- Menciptakan ‘Hutan’ di Sekolah: Mengubah aspal panas di lapangan jadi rumput dan menanam lebih banyak pohon biar teduh. Studi Green Schoolyards America dan Ten Strands menemukan cakupan pohon di sekolah-sekolah California cuma 6,4% saja. Padahal, para ahli iklim merekomendasikan setidaknya 30%.
- Merombak Kalender Sekolah: Ini ide yang paling kontroversial. Grace Wickerson, Manajer Senior tim iklim dan kesehatan di Federation of American Scientists, bilang, “Ini adalah salah satu teknik yang bisa kita ambil untuk mengatasi peristiwa suhu ekstrem.”
Liburan Musim Panas atau Musim Semi
Gagasan ini mungkin terdengar gila, tapi bukan tidak mungkin. Dengan suhu musim panas yang makin enggak karuan, ada wacana untuk memindahkan liburan musim panas ke musim semi atau musim gugur.
Tujuannya, biar para siswa bisa belajar di dalam ruangan yang ber-AC saat suhu di luar super panas.
“Kami tidak yakin saat ini kami siap untuk sekolah di bulan ini, hanya karena secara operasional, gedung-gedung itu tidak dibangun untuk itu,” ujar Grace Wickerson.
“Namun jika ada upaya terkoordinasi untuk meningkatkan kemampuan pendinginan gedung-gedung ini, mungkin akan menjadi beberapa tempat teraman bagi anak-anak di musim panas.”
Ide ini juga didukung oleh Andra Yeghoian, Chief Information Officer Ten Strands. Dia bilang, “Rata-rata jumlah hari dengan suhu 87 derajat Fahrenheit (30,5 Celsius) meningkat setiap tahun, dan kami memperkirakan akan mencapai 120 hari per tahun di tahun 2030-an,” katanya kepada The Guardian.
Dampak Serius Suhu Panas
Suhu panas ini bukan cuma bikin gerah, tapi juga punya dampak serius:

- Absensi Melonjak: Suhu panas bikin banyak siswa, terutama dari keluarga miskin dan etnis minoritas, enggak masuk sekolah. Kenapa? Karena mereka lebih sering berada di gedung sekolah tanpa AC yang memadai, dan kadang di rumah pun kondisinya sama. “Kita tidak ingin mereka menghabiskan hari-hari terpanas di rumah yang juga panas,” ungkap Kristen Hengtgen.
- Gangguan Belajar: Senator Negara Bagian New York, James Skoufis, menegaskan, “Kamu tidak bisa mengajar dengan baik, apalagi belajar, jika suhu di kelas di atas 90 derajat Fahrenheit (32 Celsius).”
Meskipun sudah ada beberapa langkah maju, seperti New York yang jadi negara bagian pertama yang punya undang-undang tentang suhu maksimum di sekolah (maksimal 88F/31C), masalah besar masih ada.
Anisa Heming, Direktur Center for Green Schools, bilang, “Kami punya sangat sedikit data tentang gedung-gedung sekolah di seluruh negeri karena semuanya dikelola secara lokal.”
Ini menunjukkan betapa rumitnya masalah ini. Pemerintah federal belum punya data yang solid dan standar yang jelas soal ketahanan sekolah terhadap panas.
Jadi, pertanyaan besarnya: lebih aman mana, biarin anak-anak liburan di rumah yang mungkin lebih panas, atau tetep di sekolah yang sudah dimodifikasi jadi adem? (YA)





