Hollywood – Industri kreatif dunia kembali diguncang oleh kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) terbaru bernama Seedance 2.0.
Dikembangkan oleh raksasa teknologi China, ByteDance (perusahaan induk TikTok), model AI ini mampu menghasilkan video berkualitas layar lebar lengkap dengan efek suara dan dialog hanya melalui perintah teks (prompt).
Kemunculannya pada Februari 2026 ini memicu reaksi keras dari studio besar seperti Disney dan Paramount yang melayangkan surat teguran terkait pelanggaran hak cipta atas karakter ikonik seperti Spider-Man dan Deadpool yang muncul dalam demo video viral tersebut.
Seedance Bikin Heboh Dunia
Berdasarkan Data yang di kutip oleh BBC News, Seedance sebenarnya telah diluncurkan secara terbatas pada Juni 2025.
Namun, versi terbarunya, Seedance 2.0, adalah lompatan besar yang membuat para ahli film terperangah. Berbeda dengan pendahulunya, sistem ini mengintegrasikan teks, visual, dan audio dalam satu kesatuan yang koheren.
Jan-Willem Blom dari studio kreatif Videostate mengungkapkan kekagumannya. “Ini bukan lagi sekadar ‘terlihat bagus untuk ukuran AI’. Ini terlihat seperti hasil produksi nyata dari sebuah jalur pipa produksi film profesional,” ujarnya.
Keunggulan Utama Seedance 2.0:
- Kualitas Sinematik: Mampu menghasilkan visual dengan pencahayaan dan komposisi setara sinematografer profesional.
- Integrasi Audio-Visual: Menghasilkan dialog dan efek suara yang selaras dengan gerakan karakter secara otomatis.
- Pemrosesan Cepat: Mampu menciptakan urutan aksi kompleks hanya dari satu instruksi teks yang sederhana.
- Benchmark “Will Smith”: Berhasil melewati tantangan legendaris AI dengan membuat video realistis Will Smith makan spageti tanpa distorsi visual yang aneh.

Meski secara teknis memukau, Seedance memicu badai hukum. Munculnya karakter-karakter milik Marvel dan Star Wars dalam klip yang dihasilkan pengguna memicu kemarahan studio-studio besar.
Disney dan Paramount secara resmi menuduh ByteDance menggunakan konten berhak cipta mereka untuk melatih model AI tersebut tanpa izin.
“Ada kecenderungan perusahaan AI memprioritaskan teknologi di atas manusia,” kata Margaret Mitchell peneliti etika AI kepada BBC News.
Ia menekankan bahwa pembangunan sistem lisensi dan pembayaran yang transparan jauh lebih penting daripada sekadar membuat video yang “terlihat keren”.
Sebagai perbandingan, Disney sebelumnya telah menyepakati kerja sama senilai US$1 miliar dengan OpenAI (pengembang Sora) untuk penggunaan karakter mereka secara legal.
Langkah “tabrak lari” yang dilakukan ByteDance dianggap sebagai strategi untuk mendapatkan perhatian pasar secara cepat meskipun berisiko tinggi secara hukum.
Peluang bagi Studio Kecil
Di balik kontroversinya, bagi pelaku industri kecil, Seedance adalah “angin segar”. David Kwok dari Tiny Island Productions Singapura menyebutkan bahwa teknologi ini memungkinkan studio dengan anggaran terbatas untuk memproduksi genre ambisius seperti fiksi ilmiah (sci-fi) atau drama kolosal.

Biasanya, produksi drama pendek berdurasi 80 episode membutuhkan biaya sekitar US$140.000 (sekitar Rp2,2 miliar). Dengan AI, biaya ini bisa ditekan drastis sambil tetap mempertahankan kualitas visual kelas atas.
Lahirnya Seedance semakin mengukuhkan posisi China dalam perlombaan AI global. Setelah suksesnya model bahasa DeepSeek yang sempat menggeser popularitas ChatGPT, Seedance menjadi bukti bahwa perusahaan China kini berada di garda terdepan inovasi generatif.
Pemerintah Beijing memang telah menempatkan AI dan robotika sebagai inti strategi ekonomi nasional mereka di tahun 2026.
Hal ini memicu prediksi bahwa tahun ini akan menjadi titik balik adopsi massal AI, di mana AI tidak lagi sekadar teman mengobrol (chatbot), tetapi menjadi alat produksi utama dalam pekerjaan sehari-hari.(YA)





