Pengakuan Mengejutkan Parlemen: Krisis Moral di Militer Ukraina Jadi Berkah bagi Rusia ?

400.000 Tentara Diduga Desersi Akibat Kondisi Buruk, Kelelahan dan Korupsi

Kyiv, Ukraina – Tepat di tengah kancah perang yang menguras tenaga, sebuah krisis lain muncul dari dalam.

Bukan lagi tentang pertempuran di garis depan, melainkan tentang pertempuran batin para prajurit yang kehilangan harapan.

Di balik semangat juang yang selama ini ditunjukkan, ada cerita kelam tentang kelelahan, perlakuan buruk, dan korupsi yang menggerogoti, membuat ribuan tentara memilih untuk pergi.

Di tengah perjuangan sengit melawan invasi Rusia, militer Ukraina kini menghadapi tantangan serius dari dalam.

Anna Skorokhod, Anggota Parlemen Ukraina mengungkapkan data mengejutkan: sekitar 400.000 personil militer telah meninggalkan pos mereka tanpa izin resmi alias desersi.

Dalam sebuah wawancara dengan media Ukraina, Skorokhod menjelaskan bahwa gelombang desersi ini dipicu oleh berbagai masalah internal, terutama perlakuan buruk yang diterima para prajurit dari atasan mereka.

“Banyak yang tidak akan pernah kembali, karena ini berprinsip… Anda tidak bisa memperlakukan mereka yang menjadi sukarelawan, berjuang selama tiga tahun tanpa melihat keluarga, seperti binatang,” ujar Skorokhod, seperti dikutip dari Ukraine Entertainment Insider.

Ia menambahkan bahwa sebagian besar desertir adalah tentara sukarelawan, yang telah berjuang di garis depan selama bertahun-tahun.

Kelelahan & Korupsi Memicu Desersi Massal

Krisis moral ini didorong oleh sejumlah masalah sistemik, termasuk diantaranya :

  • Kelelahan ekstrem: Banyak prajurit yang telah bertugas selama bertahun-tahun tanpa cuti yang memadai, membuat mereka kehilangan motivasi.
  • Kepemimpinan yang buruk: Perlakuan tidak manusiawi dan minimnya penghargaan terhadap pengorbanan para tentara menjadi penyebab utama kekecewaan.
  • Penolakan pemberhentian: Tentara yang telah memenuhi syarat untuk pensiun atau kembali ke kehidupan sipil seringkali ditolak, dengan alasan mereka hanya bisa pulang “setelah kemenangan”.
  • Korupsi merajalela: Skorokhod juga menyoroti kasus korupsi dan pemerasan gaji tempur oleh para komandan, yang semakin mengikis loyalitas dan kepercayaan para prajurit.

Angka desersi ini bukanlah isu baru. Jurnalis Ukraina, Vladimir Boiko melaporkan bahwa di paruh pertama tahun 2025 saja, lebih dari 107.000 penyelidikan terkait desersi telah dibuka.

Sejak konflik dimulai pada 2022, total kasus ini telah menembus angka 230.000. Angka yang dilaporkan oleh Skorokhod, meskipun sebagian tidak dianggap permanen, menunjukkan skala masalah yang jauh lebih besar.

Krisis personel ini tentu berdampak langsung pada kekuatan militer Ukraina di medan perang. Kekurangan tentara membuat kemajuan pasukan Rusia menjadi lebih mudah, dan ini menjadi ancaman serius bagi pertahanan negara.

Desersi massal bukan hanya sekadar angka statistik, melainkan sebuah cerminan nyata dari rapuhnya moral dan kepercayaan di dalam sebuah institusi yang seharusnya menjadi benteng terakhir bagi negara.

Pertanyaan besar yang kini dihadapi Ukraina adalah bagaimana mereka bisa memenangkan perang di luar, jika pertempuran untuk menjaga moral para prajurit di dalam telah hilang. (VT)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *