Cimahi — Di tengah hiruk-pikuk kota, sebuah perpustakaan keliling hadir bukan hanya membawa buku, tetapi juga harapan.
Perpustakaan Braille Keliling ini kembali bergerak, menjangkau para siswa di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri A Citeureup, Kota Cimahi, Jawa barat, membawa semangat literasi inklusif yang membebaskan.
Kegiatan yang di gagas Kementerian Sosial ini, menjadi potret nyata dari layanan public yang terus berinovasi demi menghadirkan aksesibilitas bagi semua tanpa terkecuali.
Buku Jendela Dunia
Dengan mengusung tema “Aksesibilitas Braille, Pembuka Jendela Dunia”, program ini langsung disambut antusias oleh para siswa.
Mereka tak sabar menyentuh setiap koleksi yang dibawa, dari buku Braille yang penuh dengan titik-titik bermakna, hingga buku cerita bergambar khusus untuk siswa dengan penglihatan terbatas (low vision).
“Harapannya, koleksi yang ada bisa lebih beragam lagi,” ujar salah satu guru SLB Cimahi , menyuarakan aspirasi siswa dan pengajar.
Ia berharap di masa depan perpustakaan ini bisa membawa koleksi yang lebih luas seperti buku keagamaan, cerita anak dan remaja, buku pelajaran SMP/SMA, hingga cerita pendek dan bahkan cerita horor dalam format Braille.
Permintaan ini bukan sekadar daftar, melainkan cerminan dari dahaga pengetahuan dan imajinasi yang tak terbatas.
Sinergi Akses Yang Merata
Kegiatan ini bukan hanya tentang meminjamkan buku, melainkan sebuah kolaborasi erat antara tim Perpustakaan Braille dan penyuluh sosial dari Sentra Wyata Guna Bandung.
“Kami berharap Perpustakaan Braille Keliling dapat terus memberi manfaat, menumbuhkan minat baca, dan menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi sahabat disabilitas,” ujar Pewakilan Sentra Wyata Guna Bandung.
Kehadiran mereka menambahkan energi positif dan memperkuat pesan, bahwa literasi inklusif adalah tanggung jawab bersama.
Mereka mendampingi siswa, membantu mereka menjelajahi setiap sudut rak buku, dan memastikan setiap siswa merasa terhubung dengan dunia literasi. (NR)





