Washington, AS – Spekulasi kencang beredar menjelang pertemuan puncak antara Presiden AS, Donald Trump dan Presiden Rusia, Vladimir Putin di Alaska pada Jumat (15/o8/25).
Pertemuan ini diduga akan berujung pada perubahan peta Ukraina secara paksa dan fundamental.
Sejak invasi pada Februari 2022, perang terus bergejolak menyebabkan Rusia saat ini menguasai sekitar 20% wilayah Ukraina, turun dari puncaknya sebesar 27% pada musim semi 2022.
Namun, dalam beberapa hari terakhir, pasukan Rusia dilaporkan membuat kemajuan lambat namun signifikan di wilayah timur, dekat kota Dobropillya.
Wacana Tukar Guling Wilayah Picu Kekhawatiran
Rencana pertemuan ini menjadi sorotan tajam, terutama setelah Presiden Trump mulai membicarakan kemungkinan “tukar guling wilayah” sebagai jalan untuk menghentikan perang. Wacana ini langsung memicu gelombang kejutan di Kyiv dan seluruh Eropa.

Pernyataan Trump masih samar-samar, terutama tentang wilayah mana yang akan dipertukarkan, mengingat semua wilayah yang dipermasalahkan secara hukum adalah milik Ukraina.
Namun, analis menduga ini merujuk pada wilayah yang vital bagi Rusia. “Ada laporan yang menyebutkan bahwa Putin menuntut Ukraina menyerahkan sisa wilayah yang dikendalikannya di Donbas, seperti Kramatorsk dan Slovyansk,” tulis BBC News.
Kedua kota tersebut merupakan benteng pertahanan Ukraina yang telah merenggut nyawa puluhan ribu tentara.
Reaksi Keras dari Kyiv
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky menanggapi isu ini dengan tegas. Pada Selasa (12/08/25) lalu, Zelensky menyatakan bahwa Ukraina “tidak bisa” meninggalkan wilayah Donbas.
“Jika kita menyerahkannya, Moskow akan menggunakan wilayah itu sebagai batu loncatan untuk menyerang seluruh negara,” ujarnya, dikutip dari BBC News.
Bagi Ukraina, menyerahkan Donbas adalah pil pahit yang sangat sulit ditelan. Namun, bagi Moskow, langkah ini akan dipandang sebagai kemenangan setelah kerugian yang jauh lebih besar.
Selain Donbas, Trump juga secara samar-samar menyebut “properti tepi laut“ dalam konteks perundingan. Ini diduga merujuk pada wilayah Zaporizhzhia dan Kherson, yang dikuasai Rusia sejak 2022.
Wilayah ini adalah “jembatan darat” strategis yang menghubungkan Rusia dengan Krimea.
Sulit membayangkan Putin akan menyerahkan wilayah ini, mengingat ia telah secara ilegal menganeksasi empat wilayah ini tiga tahun lalu melalui referendum yang secara luas dianggap sebagai rekayasa.
Meskipun pembicaraan tukar guling wilayah menjadi bagian awal dari perundingan, para pemimpin Eropa dan Ukraina menegaskan bahwa ini adalah jalan buntu.

“Diskusi tentang perbatasan masa depan mungkin akan terjadi, tetapi hanya setelah perang benar-benar berhenti dan keamanan Ukraina telah dijamin,” ungkap seorang diplomat Eropa, menegaskan posisi aliansi tersebut.
Situasi di medan perang masih sangat dinamis, dan belum jelas apakah kemajuan yang dibuat Rusia di Dobropillya adalah manuver strategis untuk menekan perundingan atau hanya upaya untuk menunjukkan kepada Trump bahwa Moskow berada di atas angin.
Pertemuan di Alaska nanti diharapkan dapat memberikan kejelasan, meskipun kekhawatiran tentang konsekuensi dari perundingan ini terus membayangi.(YA)





