Potret Hangat Komunitas Muslim China Berpuasa

Cerita dari Najiaying, di mana lonceng masjid dan makan bersama jadi pemersatu.

Yunnan – Suara tabuhan drum tradisional memecah keheningan senja di kota Nagu, Provinsi Yunnan, menandai dimulainya momen sakral bagi komunitas Muslim di selatan China.

Tahun ini, bulan suci Ramadan terasa jauh lebih istimewa karena bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek, menciptakan momen reuni akbar bagi sekitar 25 juta Muslim dari etnis Hui dan Uyghur yang pulang ke kampung halaman untuk merayakan iman sekaligus tradisi leluhur.

Tradisi Iman di Tengah Kemeriahan Imlek

Perpaduan antara Ramadan dan libur Tahun Baru Imlek tahun ini membawa dinamika unik di berbagai wilayah China.

Fenomena “mudik” besar-besaran yang menyertai Imlek dimanfaatkan oleh keluarga Muslim untuk berkumpul dan beribadah bersama.

Berdasarkan rilis Anadolu News, Di Najiaying, sebuah kota kecil dengan populasi sekitar 8.000 umat Muslim, persiapan dimulai jauh-jauh hari.

Warga Muslim China saat Antri takjil-Foto: Dok. Anadolu

Keluarga berbondong-bondong membeli bahan makanan spesial, pakaian baru, dan merencanakan jamuan buka puasa yang meriah.

“Tahun ini terasa berbeda karena Ramadan bertepatan dengan Imlek,” ujar Ma Erzhao Yusuf, seorang pengusaha sosial lokal, kepada Anadolu News.

“Banyak umat Muslim yang merayakan dan berbuka puasa langsung bersama keluarga besar mereka karena sedang libur panjang.”

Salah satu atraksi utama yang menghidupkan suasana adalah Bazar Ramadan. Pasar musiman ini bukan sekadar tempat berbelanja, melainkan festival budaya yang menarik minat masyarakat luas, termasuk warga non-Muslim.

Beberapa hal menarik dari Bazar Ramadan di China antara lain:

  • Keberagaman Kuliner: Menyajikan daging panggang, mi khas Yunnan, hingga kue-kue tradisional yang menggugah selera.
  • Minuman Favorit: Milk tea atau teh susu menjadi primadona yang dinikmati hampir semua pengunjung.
  • Durasi Panjang: Pasar ini biasanya dibuka beberapa hari sebelum Ramadan dan tetap beroperasi hingga seminggu setelah Idul Fitri.
  • Interaksi Sosial: Menjadi ruang pertemuan antarwarga dari berbagai kota yang sengaja datang untuk merasakan atmosfer festival.

Dari Mi Sapi Yunnan hingga Sup Gandum Qinghai

Kuliner Ramadan di China mencerminkan kekayaan sejarah dan adaptasi lokal yang luar biasa. Di wilayah Yunnan, mi beras dan hidangan daging sapi adalah menu wajib saat sahur dan berbuka karena teksturnya yang ringan namun mengenyangkan.

Kulineran Khas Muslim China ketika Ramadan-Foto: Dok. Anadolu

Bergeser ke wilayah barat laut seperti Provinsi Qinghai, tradisinya berbeda lagi. Sejarawan Haiyun Ma mengenang hidangan masa kecilnya yang kaya akan rempah dan tekstur

  1. Oil Cakes: Sejenis pastri goreng yang renyah.
  2. Sup Gandum & Daging: Hidangan hangat yang terdiri dari campuran daging dan sayuran untuk memulihkan energi.
  3. Hand-held Lamb: Daging domba yang dimasak dengan cara direbus atau dipanggang dan dimakan langsung menggunakan tangan.
  4. Kurma Merah: Kurma yang direbus dengan gula menjadi hidangan pembuka wajib di hampir seluruh komunitas Muslim China.

Bagi masyarakat Muslim di China, Ramadan adalah tentang kolektivitas. Rutinitas harian berubah total; suara lonceng di masjid menjadi komando bagi ribuan orang untuk membatalkan puasa secara serentak.

Haiyun Ma, yang kini mengajar di Frostburg State University, AS, menyebut bahwa memori paling berkesan adalah saat anak-anak menerima kantong kecil berisi manisan dan kurma sebelum salat dimulai.

“Islam telah menjadi bagian dari lanskap budaya wilayah ini selama berabad-abad. Ramadan di sini terasa sangat mengakar dan komunal,” ungkapnya.(NR)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *