Depok, Jawa Barat – Masa depan industri kuliner dan pariwisata Indonesia kini tengah ‘diracik’ ulang.
Sebagai langkah nyata memperkuat kompetensi pendidikan vokasi yang berstandar internasional, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meluncurkan program pelatihan akbar bekerja sama dengan Pemerintah Prancis.
Program bertajuk French Indonesian Training of Trainers (ToT) on French Cooking for Vocational Education Training ini bukan sekadar pelatihan memasak biasa.
Ia adalah wujud nyata dari “Diplomasi Gastronomi” yang menghubungkan keahlian, budaya, dan peluang kerja lintas negara,diantaranya Yang menjadi focus diplomasi kedua negara tersebut adalah :
- Penguatan Diplomasi Publik: Program ini adalah implementasi nyata dari kesepakatan tingkat tinggi Presiden RI dan Presiden Prancis, membawa diplomasi ke ranah pendidikan kejuruan yang berdampak langsung.
- Standar Chef Bintang Lima: Sebanyak 44 peserta—terdiri dari guru SMK, widyaiswara, dan instruktur—dilatih langsung oleh dua Master Chef dari Prancis, Chef Simon Bauden dan Chef Gérald Maridens, menjamin kualitas keahlian global.
- Fokus Pengembangan: Mendikdasmen berharap kerja sama ini meluas ke bidang lain seperti perhotelan dan pariwisata, bahkan membayangkan adanya restoran bergaya Prancis di SMK-SMK Indonesia di masa depan.
- Serfitikasi Internasional: Di akhir pelatihan, peserta akan menerima sertifikat dari Institut Disciples Escoffier, sebuah pengakuan kompetensi yang sangat berharga di dunia kuliner internasional.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyampaikan apresiasi mendalam atas kemitraan ini, yang dinilai semakin erat pasca-pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

“Atas nama Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kemendikdasmen menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Prancis atas kerja sama yang luar biasa,” ujar Menteri Mu’ti di BBPMPV Bispar, Depok, Jawa Barat.
Ia menekankan bahwa kolaborasi ini membuka jalan bagi diplomasi publik melalui pendidikan. Gastronomi, menurutnya, jauh melampaui seni memasak.
“Food and culture are inseparable. Di balik setiap masakan terdapat budaya, sejarah, dan nilai kemanusiaan yang menyatukan kita,” tambahnya, menekankan bahwa di balik setiap resep tersembunyi filosofi tentang kebersamaan.
Peluang Magang hingga Standar Global
Pelaksanaan pelatihan yang digelar di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Bisnis dan Pariwisata (BBPPMPV Bispar), Depok, ini didorong oleh perkembangan pesat industri kuliner global.
Para peserta dibagi ke dalam kelas Cookery dan Pastry, dibimbing oleh Chef Simon Bauden dan Chef Gérald Maridens dari Institut Disciples Escoffier.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Diksi) PKPLK, Tatang Muttaqin, menegaskan tujuan utama program ini:

“Meski akan menerima sertifikat internasional dari Institut Disciples Escoffier, kami berharap para peserta tetap berkomitmen untuk mengabdi sebagai pendidik, dan menyebarluaskan ilmu yang diperoleh kepada siswa dan rekan guru di sekolah masing-masing,” kata Dirjen Tatang kepada awak Media.
Dari sisi Prancis, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, Fabien Penone, menyebut kegiatan ini sebagai salah satu yang paling berdampak dalam rangkaian “Week of French Gastronomy in Indonesia”.
“Hubungan antara Prancis dan Indonesia kini semakin erat. Kedua presiden kita telah menyepakati strategi kebudayaan bersama yang menekankan kerja sama di bidang industri kreatif, gastronomi, dan pariwisata,“ ungkap Dubes Penone.
Penekanan pada pendidikan vokasi adalah kunci, menurut Dubes Penone. Selain transfer keahlian, Kedutaan Besar Prancis juga membuka kesempatan magang bagi pelajar Indonesia di Prancis, dan sebaliknya.
“Capaian kita tidak hanya membawa kesempatan pelajar Indonesia ke Prancis, tetapi juga mendorong pelajar Prancis untuk datang ke Indonesia,” tutupnya. (YA)





