Rasisme di Kampus: Kisah Mahasiswa & Warga Turki di Eropa

Diskriminasi yang Meresap: Dari Kampus Hingga Kehidupan Sehari-hari, Mahasiswa Turki di Eropa Hadapi Tantangan Berat

Jerman – Di balik gedung-gedung kampus yang menjulang tinggi di Eropa, banyak mahasiswa Turki menghadapi tantangan yang tak terlihat oleh banyak orang.

Diskriminasi yang tidak hanya berbicara soal prestasi akademik, tetapi juga tentang identitas mereka sebuah kenyataan yang semakin berkembang seiring meningkatnya sentimen anti-Turki dan Islamofobia di benua ini.

Fatma Zehra Solmaz, seorang mahasiswi psikologi asal Turki, tidak pernah membayangkan bahwa sebuah email akan mengubah hidupnya.

Pada tahun 2022, ia mengajukan diri untuk magang di Universitas Stockholm melalui program Erasmus. Dengan latar belakang akademis yang solid, ia merasa kesempatan ini akan membuka jalan bagi masa depan kariernya.

Namun, segala sesuatunya berubah setelah ia menerima penolakan yang mengejutkan.

Fatma Zehra Solmaz – Foto: LinkedIn pribadi Solmaz

“Saya terkejut, karena alasan penolakan itu bukan karena kemampuan saya, tetapi karena posisi politik Turki terkait dengan aplikasi NATO Swedia,” ujar Solmaz kepada Turkiye Today.

Kasus ini mendapatkan perhatian luas setelah Ombudsman Kesetaraan Swedia melakukan penyelidikan dan menyatakan bahwa Universitas Stockholm telah melanggar hukum diskriminasi.

Meski pihak universitas meminta maaf secara umum, Solmaz tidak pernah menerima permintaan maaf pribadi dari profesor yang menolak dirinya.

Dari Kampus ke Kehidupan Sehari-hari

Namun, diskriminasi tidak berhenti di ruang kelas. Berdasarkan data yang diperoleh Turkiye Today. Di luar kampus, komunitas Turki di Eropa, khususnya di Jerman yang memiliki hampir tiga juta orang keturunan Turki, menghadapi gelombang kebencian yang semakin besar.

Penyerangan terhadap masjid, seperti yang tercatat lebih dari 700 serangan antara 2014 dan 2020, adalah bukti nyata meningkatnya kebencian terhadap Muslim dan Turki di benua ini.

“Saya takut untuk pergi ke masjid. Beberapa kali jendela masjid saya hancur dan pintu dibakar,” kata seorang warga Turki yang tinggal di Jerman. “Kami hanya ingin hidup damai, tetapi kami terus merasa terasingkan.”

Pemimpin komunitas memperingatkan bahwa ketidak-bertindakan pihak berwenang semakin memperburuk masalah tersebut.

Ketika pelaku penyerangan tidak teridentifikasi, ketakutan semakin mengakar. Beberapa masjid bahkan mengurangi visibilitas simbol agama mereka untuk menghindari serangan lagi.

Kelompok sayap kanan di Eropa telah menggunakan ketegangan politik, debat migrasi, dan ketidakstabilan ekonomi sebagai bahan bakar untuk narasi mereka.

Dilansir dari Turkiye Today, di Prancis, Austria, Swedia, dan Belanda, partai politik dengan retorika anti-Muslim secara terbuka tidak hanya masuk ke parlemen tetapi juga memengaruhi kebijakan dan opini publik.

Apa yang dulu dianggap sebagai pidato kebencian kini sering disamarkan sebagai “ekspresi bebas” atau “keprihatinan tentang integrasi budaya.”

Rasisme Sistematis di Lembaga Penegak Hukum

Di Jerman, studi terbaru juga mengungkapkan bahwa beberapa petugas kepolisian memegang sikap rasis dan Islamofobia.

Termasuk sebuah istilah yang dilaporkan digunakan di dalam tubuh kepolisian, yaitu “perburuan Turki,” di mana orang-orang Turki sengaja dihentikan atau diprovokasi.

Ini bukan masalah terisolasi, hal ini menunjukkan masalah sistemik yang lebih dalam di lembaga-lembaga yang seharusnya menjunjung tinggi keadilan.

Polisi berjaga di Masjid Fatih di Dresden setelah serangan bom pada September 2016 – Foto: Dok AFP

Meskipun sudah puluhan tahun tinggal, bekerja, dan berkontribusi pada masyarakat Eropa, banyak orang Turki dan Muslim masih dipandang sebagai “orang luar.”

Tradisi budaya, praktik agama, atau bahkan berbicara bahasa Turki di tempat umum bisa menjadi alasan untuk kecurigaan atau penilaian.

Ini bukan hanya terjadi pada generasi yang lebih tua. Mahasiswa, bahkan mereka yang lahir dan dibesarkan di Eropa, melaporkan merasa dipandang sebagai orang asing di negara mereka sendiri.

Turki bukanlah negara asing bagi Eropa sejak lama. Warga Turki telah menjadi bagian integral dari masyarakat Eropa.

Mereka telah berkontribusi dalam berbagai sektor, dari pendidikan hingga industri. Namun, ketidakadilan terhadap mereka, terutama mahasiswa yang tengah menuntut ilmu, harus dihentikan.

Mahasiswa Turki, seperti mahasiswa lainnya, hanya meminta satu hal, yaitu keadilan. Mereka tidak meminta perlakuan khusus, hanya hak untuk diperlakukan dengan adil dan dihormati, sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi yang dijunjung tinggi di Eropa.

Namun, ini bukan hanya tentang mahasiswa Turki. Ini adalah tentang Eropa yang sedang dibangun apakah itu Eropa yang benar-benar menghargai dan merangkul keberagaman, atau hanya sebuah tempat yang menganggap perbedaan sebagai ancaman. (YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *