Dearborn, Michigan – Komunitas Arab Amerika di Michigan mengambil langkah politik radikal dengan menarik dukungan dari Partai Demokrat pada pemilihan presiden. Keputusan ini diambil sebagai bentuk sanksi atas krisis kemanusiaan di Gaza dan Lebanon.
Sikap tegas tersebut menunjukkan pergeseran loyalitas pemilih minoritas yang signifikan di Amerika Serikat. Isu luar negeri kini menjadi penentu utama arah suara komunitas muslim di negara bagian tersebut.
- Penarikan Dukungan: Pemilih Arab menolak mendukung Kamala Harris pada 2024.
- Tuntutan Akuntabilitas: Komunitas menuntut pertanggungjawaban atas kebijakan militer Israel.
- Sikap Politik Baru: Penolakan terhadap doktrin “pilihan yang lebih baik di antara dua keburukan”.
Aktivis Yemeni-American, Samraa Luqman, menyatakan bahwa komunitasnya tidak memiliki penyesalan atas pilihan politik mereka.
Ia menilai langkah tersebut perlu diambil meskipun berisiko menghadapi kebijakan domestik yang tidak bersahabat.
“Harus ada pertanggungjawaban atas genosida. Kami baik-baik saja dengan apa yang kami pilih,” ujar Luqman kepada Al Jazeera Senin 3 Agustus 2026.
Ia menambahkan bahwa keputusan tersebut merupakan pil pahit yang harus ditelan demi mengubah arah kebijakan partai arus utama.
Strategis politik Detroit, Hussein Dabajeh, menjelaskan bahwa pendekatan tradisional sudah tidak lagi efektif. Pendekatan “pilihan yang lebih baik di antara dua keburukan” kehilangan daya tariknya bagi pemilih Arab.
“Saya tidak bisa dengan hati nurani yang bersih menyuruh seseorang memilih Kamala Harris atau Donald Trump,” kata Dabajeh kepada Al Jazeera.
Erosi dukungan ini bermula ketika pemerintahan Joe Biden mengabaikan seruan gencatan senjata di Gaza. Bantuan militer berkelanjutan kepada Israel semakin memperkeruh hubungan pemilih minoritas dengan Partai Demokrat.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika kepemimpinan partai menolak mempertimbangkan embargo senjata. Akibatnya, pemilih yang selama ini setia meninggalkan kubu Demokrat secara massal.





