Jakarta – Menjalankan ibadah puasa bukan berarti harus menghentikan total aktivitas fisik. Meski tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman dari terbit hingga terbenam matahari, para pegiat olahraga tetap bisa mempertahankan kebugaran dengan penyesuaian strategi yang tepat.
Kuncinya bukan pada intensitas tinggi, melainkan pada manajemen energi dan waktu. Berikut adalah panduan praktis berdasarkan rekomendasi para ahli kesehatan dan kebugaran untuk menjaga performa tubuh selama bulan suci Ramadan yang diliris oleh QNTsport
Strategi Latihan dan Nutrisi Tepat
Untuk menghindari kelelahan ekstrem atau dehidrasi, terdapat beberapa poin krusial yang harus diperhatikan oleh setiap individu yang ingin tetap aktif:
- Kurangi Intensitas Latihan: Jangan memaksakan target yang sama seperti hari biasa. Turunkan frekuensi dan beban latihan untuk memberikan waktu pemulihan lebih lama bagi tubuh.
- Hidrasi Pintar: Karena waktu minum terbatas, minumlah air dalam jumlah kecil namun sering di antara waktu berbuka hingga sahur. Hindari langsung meminum air dalam jumlah sangat banyak sekaligus.
- Fokus Karbohidrat Kompleks: Saat makan, pilih sumber karbohidrat seperti nasi merah atau pasta gandum. Jenis makanan ini dicerna lebih lambat, memberikan energi stabil, dan menunda rasa lapar lebih lama.
- Manfaatkan Protein Kasein: Mengonsumsi protein kasein (susu atau suplemen) saat sahur sangat efektif karena sifatnya yang lambat diserap tubuh, sehingga membantu menjaga rasa kenyang dan massa otot sepanjang hari.
Pemilihan Waktu dan Keamanan
Struktur latihan sangat bergantung pada bagaimana tubuh bereaksi terhadap rasa haus dan lapar. Pemilihan waktu menjadi faktor penentu keberhasilan olahraga Kamu.
Terdapat dua waktu ideal yang disarankan: sebelum sahur atau setelah berbuka. Berolahraga sebelum sahur memberikan energi dari makan malam sebelumnya, namun berisiko memicu rasa haus lebih cepat di siang hari.
Sebaliknya, berolahraga setelah berbuka (dengan camilan ringan terlebih dahulu) memungkinkan Anda langsung mengganti cairan yang hilang.
Selain waktu, faktor keamanan tidak boleh diabaikan. Lakukan pemanasan lebih lama dari biasanya untuk mempersiapkan otot yang kekurangan cadangan energi.
Jika melakukan angkat beban, pastikan ada pendamping (partner) untuk mengantisipasi risiko pusing atau kehilangan keseimbangan.
Hal terpenting dalam berolahraga saat puasa adalah kesadaran diri. Jika Kamu mulai merasakan pusing, nyeri yang tidak wajar, atau pandangan kabur, segera hentikan aktivitas.
Tidak ada ruang untuk ego dalam kondisi perut kosong; memaksakan diri hanya akan memicu cedera jangka panjang yang justru merugikan konsistensi ibadah dan kesehatan Kamu. (NR)





