Kuala Lumpur, Malaysia — Suasana ibu kota Malaysia memanas saat puluhan ribu warga memadati jalan-jalan utama Kuala Lumpur untuk menyuarakan protes terhadap Perdana Menteri, Anwar Ibrahim.
Aksi unjuk rasa yang digelar pada Sabtu sore itu menyuarakan ketidakpuasan atas tingginya biaya hidup, dan kekecewaan terhadap janji-janji reformasi yang dinilai belum terpenuhi sejak Anwar menjabat pada 2022.
Para demonstran yang datang dari berbagai penjuru Malaysia membawa spanduk bertuliskan “Turun Anwar,” sambil berkumpul di sejumlah titik sebelum akhirnya bergerak menuju Dataran Merdeka, simbol kemerdekaan negara, meski diguyur hujan gerimis.
Polisi terlihat berjaga ketat sepanjang jalur unjuk rasa, namun aksi berlangsung tertib.
“Dia (Anwar) sudah memimpin tiga tahun, tapi belum juga menepati janji-janjinya,” ujar Fauzi Mahmud, seorang insinyur dari Selangor, kepada AFP.
Ia menyoroti kunjungan Anwar ke berbagai negara seperti Rusia dan kawasan Eropa untuk menarik investasi. “Tapi sampai sekarang, hasilnya belum kami rasakan,” tambahnya.
Pernyataan tajam juga datang dari Tun Dr. Mahathir Mohamad, mantan perdana menteri sekaligus mantan mentor politik Anwar yang kini menjadi lawan politiknya.
Dalam pidatonya di hadapan massa, Mahathir mengatakan bahwa, “Sudah tiga tahun, apa yang rakyat dapat? Saya pikir dia (Anwar) malah menikmati penderitaan rakyat. Cukup, silakan mundur.”

Mahathir baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-100 bulan lalu, menjadikannya salah satu politisi tertua yang masih aktif berbicara di ruang publik.
Menurut estimasi dari pihak kepolisian dan pejabat kota, jumlah peserta aksi berkisar antara 18.000 hingga 50.000 orang, menjadikannya demonstrasi terbesar sejak Anwar naik ke tampuk kekuasaan.
Manuver Populis Menjelang Aksi
Menjelang aksi ini, Anwar mengumumkan serangkaian kebijakan populis untuk meredam keresahan publik. Di antaranya adalah bantuan tunai sebesar RM100 (sekitar Rp370 ribu) untuk semua warga dewasa, serta subsidi harga bahan bakar.
Ia menyebutkan bahwa sekitar 18 juta pengendara akan berhak membeli bensin RON95 seharga RM1.99 per liter, lebih murah dari harga sebelumnya RM2.05.
Namun, langkah ini dinilai sebagian pihak sebagai upaya meredam unjuk rasa yang telah direncanakan sebelumnya.
“Baru setelah kami putuskan untuk turun ke jalan, dia umumkan bantuan untuk rakyat,” kata Norhamizah Mohamed, warga dari Besut, pantai timur Malaysia.
“Kami bukan membenci dia secara pribadi, tapi kami kecewa dengan cara dia memimpin negara,” tambahnya.
Jelang Pemilu, Tekanan Politik Meningkat
Protes ini berlangsung di tengah persiapan awal partai-partai politik menjelang pemilu nasional, yang menurut undang-undang harus digelar paling lambat Februari 2028.
Sementara itu, sebuah survei terbaru dari Merdeka Centre for Opinion Research, lembaga riset independen di Malaysia, menunjukkan bahwa 55 persen pemilih Malaysia masih memberikan tingkat kepuasan positif terhadap Anwar.
Survei ini menyebutkan bahwa stabilitas politik dan peran aktif Malaysia di ASEAN menjadi faktor pendukung citra Anwar di mata publik.
Namun, aksi ribuan warga ini menunjukkan bahwa persoalan ekonomi sehari-hari tetap menjadi tekanan utama bagi pemerintah Anwar, dan kemungkinan besar akan menjadi isu sentral dalam pemilu mendatang. (YA)





