UEFA Musnahkan Impian Crystal Palace, Juara Piala FA Dibuang!

Impian Eropa yang Terkoyak: Drama Crystal Palace, Lyon, dan Aturan Misterius UEFA

London, Inggris – Cerita ini berawal dari sebuah dongeng. Pada Mei 2025, keriuhan luar biasa menyelimuti Kota London.

Crystal Palace, klub berjuluk The Eagles, yang selama ini dikenal sebagai tim “pinggiran” di kasta tertinggi sepakbola Inggris, berhasil mengukir sejarah manis.

Mereka menumbangkan raksasa Manchester City di final Piala FA, meraih trofi mayor pertama dalam seluruh sejarah panjang klub!

Euforia itu tak terbendung. Sebagai juara Piala FA, pintu ke Europa League musim 2025/2026 terbuka lebar.

Para pendukung biru-merah London sudah membayangkan gemuruh “Malam Eropa,” menyaksikan tim kesayangan mereka terbang tinggi di panggung benua.

Namun, apa daya, takdir punya rencana lain. Mimpi indah itu seketika berubah jadi mimpi buruk.

Crystal Palace kini harus menghadapi kenyataan pahit: demoted dari Europa League ke Conference League untuk musim 2025/2026.

Kenapa ? UEFA, badan sepakbola tertinggi Eropa, menganggap Palace telah melanggar aturan kepemilikan klub ganda (Multi-club Ownership/MCO).

Aturan MCO dari UEFA itu melarang dua klub dengan satu grup kepemilikan, bertanding di kompetisi Eropa yang sama.

Crystal Palace & Lyon: Kisah 2 Klub di Tangan Textor

Foto: John Textor

Pangkal masalahnya ada pada sosok John Textor, pengusaha asal Amerika Serikat. Melalui perusahaannya, Eagle Football Holdings, Textor memegang saham mayoritas Crystal Palace.

Di saat bersamaan, perusahaan yang sama juga menjadi pemilik saham mayoritas klub raksasa Prancis, Olympique Lyon. Ironisnya, Lyon juga akan berlaga di Europa League musim 2025/2026.

Menyadari potensi konflik ini, Textor sebenarnya sudah berupaya keras. Ia mencoba menjual sahamnya di Crystal Palace kepada Woody Johnson, pemilik New York Jets.

Sebuah langkah mitigasi yang cerdas, bukan? Sayangnya, transaksi itu masih menunggu izin dari Premier League dan gagal diselesaikan sebelum 1 Maret, tenggat waktu yang ditetapkan UEFA.

“Sejujurnya, saya terkejut,” ungkap Textor, dilansir dari Reuters.

“Kami telah melakukan segala yang mungkin untuk memisahkan diri dari klub, seperti yang diminta UEFA, dengan proses penjualan yang dimulai sebelum batas waktu, dan penjualan yang akan terjadi jauh sebelum pengundian.”

Kekecewaan Textor sangat terasa, “Kini kami telah menjual habis klub yang saya cintai, demi membantu para penggemar Palace melanjutkan tahun impian ini, hanya untuk kemudian harus menghadapi keputusan lain di luar lapangan yang menggagalkan kemenangan olahraga bersejarah ini.”

Tak hanya itu, Textor juga mundur dari posisi kepemimpinannya di Lyon.

Situasi Lyon sendiri sempat rumit, mereka bahkan sempat “turun kasta” ke Ligue 2 sebelum akhirnya kembali ke Ligue 1 dan mengamankan tiket Europa League sebagai runner-up Piala Prancis.

Ini terjadi karena Paris Saint-Germain, juara Piala Prancis, sudah lebih dulu lolos ke Champions League sebagai juara Liga Prancis, sehingga slot Europa League dialihkan kepada Lyon.

Dibalik Tirai Aturan UEFA yang Penuh Teka-teki

Menurut aturan UEFA tentang Multi-club Ownership (MCO), jika ada dua klub dengan kepemilikan yang sama dan keduanya lolos ke kompetisi Eropa, maka klub yang memiliki posisi lebih tinggi di liga domestiknya lah yang akan diizinkan bertanding.

Namun, di sinilah letak kerumitan yang membingungkan. Aturan tersebut berkonflik dengan regulasi Europa League yang memprioritaskan juara piala domestik di atas klub yang lolos berkat posisi di liga lokal mereka.

Perhatikan posisi kedua klub:

  • Crystal Palace: Lolos sebagai juara Piala FA, namun finis di posisi ke-12 Liga Inggris.
  • Olympique Lyon: Finis di posisi ke-6 Liga Prancis dan lolos ke Europa League sebagai runner-up Piala Prancis (karena juara Piala Prancis, PSG, sudah di Champions League).

Setelah tarik ulur dan ketidakpastian yang panjang, UEFA akhirnya memukul palu: Crystal Palace dicoret dari Europa League dan “diturunkan” ke Conference League.

Artinya, jatah Palace di Europa League akan diberikan kepada tim lain. Berdasarkan aturan UEFA, Nottingham Forest yang menempati posisi ke-7 Liga Inggris musim lalu, diproyeksikan akan mengisi slot tersebut.

Namun, partisipasi Forest masih menggantung karena Palace telah memutuskan untuk mengajukan banding atas keputusan UEFA ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).

Jika banding ini berhasil, mimpi Eropa Palace akan hidup kembali.

“Kami sangat terpukul, terutama untuk para pendukung,” tutur Steve Parish, Ketua Crystal Palace, kepada Sky Sports.

“Saya pikir para pendukung semua klub seharusnya turut berduka cita untuk kami karena ini adalah impian kami.” Ia menambahkan perumpamaan yang menyakitkan: “Anda memenangkan piala, benar-benar memenangkan sesuatu untuk pertama kalinya dalam sejarah Anda. Seseorang berkata kepada saya, rasanya seperti memenangkan lotre, pergi ke kasir dan Anda tidak mendapatkan hadiahnya.”

Kontroversi Multi-club Ownership: Kasus-kasus yang Membingungkan

Keputusan UEFA ini sontak memicu gelombang pertanyaan dan bahkan kecaman di dunia sepakbola.

Ini bukan kali pertama kasus kepemilikan klub ganda muncul dalam kompetisi Eropa, namun penanganan UEFA terkesan tidak konsisten.

  • Manchester United dan Nice (Musim Sebelumnya): Keduanya dimiliki oleh Jim Ratcliffe dan perusahaannya Ineos. Uniknya, kedua klub ini diizinkan bermain di ajang Europa League pada musim sebelumnya.
  • Manchester City dan Girona (Champions League 2024/2025): Dua klub ini adalah bagian dari City Football Group. Mereka juga diperbolehkan berlaga di kompetisi Eropa tertinggi, Champions League.
  • RB Leipzig dan RB Salzburg (Europa League 2018/2019): Dua klub “saudara” yang dimiliki oleh Red Bull ini bahkan berada dalam satu grup di babak grup Europa League, dan tetap diizinkan bermain.

Mengapa kasus-kasus ini berbeda dengan Crystal Palace ?

UEFA memberikan persetujuan kepada Manchester United/Nice dan Manchester City/Girona setelah kedua pasang klub tersebut ditempatkan ke dalam perwalian buta (blind trust).

Metode ini memastikan tidak ada struktur manajemen atau keputusan bersama di antara klub yang terkait. Selain itu, mereka juga dilarang melakukan transfer pemain satu sama lain selama 18 bulan.

Sementara itu, Red Bull berhasil melewati aturan UEFA, setelah Salzburg melakukan beberapa perubahan signifikan pada bagian komersial dan tata kelola mereka, yang kemudian dianggap memuaskan bagi UEFA.

Kasus multi-club ownership juga tak hanya di Eropa. Baru-baru ini, Club León dari Meksiko dicoret dari Piala Dunia Antar Klub tahun ini karena berbagi kepemilikan dengan Pachuca.

Semua ini menimbulkan pertanyaan besar: Mengapa Crystal Palace dihukum, sementara klub lain, dengan situasi serupa atau bahkan lebih kompleks, tetap bebas berlaga?

Multi-club ownership adalah praktik yang relatif baru dalam lanskap sepak bola modern. Namun, tren ini terus berkembang, di mana semakin banyak klub yang kini dipegang oleh satu grup investasi.

Situasi ini mengundang hujatan dari banyak pecinta sepakbola, yang menganggap praktik ini tidak adil dan merusak integritas serta nilai-nilai kompetisi olahraga itu sendiri.

Kisah Crystal Palace ini adalah pengingat betapa kompleksnya regulasi di dunia sepakbola modern.

Di satu sisi, ada kebahagiaan murni dari sebuah kemenangan bersejarah, namun di sisi lain, ada kenyataan pahit dari aturan yang terasa tak konsisten dan membingungkan.

Kini, nasib Crystal Palace bergantung pada meja hijau CAS.

Akankah mimpi Eropa mereka benar-benar terkubur, ataukah ada keajaiban yang akan membawa The Eagles kembali terbang di panggung yang seharusnya mereka jajaki ? (VT)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *