Kyiv, Ukraina – Di tengah gejolak perang yang telah berlangsung tiga tahun lamanya, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengambil langkah besar.
Ia secara resmi menunjuk Yulia Svyrydenko sebagai Perdana Menteri Ukraina yang baru, menggantikan Denys Shmyhal yang telah menjabat sejak tahun 2020.
Penunjukan ini bukan sekadar pergantian posisi, melainkan bagian dari perombakan pemerintahan terbesar yang dilakukan Zelenskyy sejak invasi Rusia dimulai.
Dilansir dari AP News, Svyrydenko bukanlah sosok baru dalam lingkaran kekuasaan Ukraina. Ia sebelumnya menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Pertama dan Menteri Pembangunan Ekonomi dan Perdagangan.
Peran ini memberinya kesempatan untuk membangun hubungan erat dengan berbagai pihak, termasuk dengan pemerintahan Presiden Donald Trump di Amerika Serikat.
Sebuah keberhasilan diplomatis yang signifikan adalah perannya dalam perundingan kesepakatan mineral, antara Washington dan Kyiv.
Kesepakatan ini dipandang krusial karena tidak hanya mengaitkan kepentingan Amerika Serikat dengan keamanan Ukraina, tetapi juga berpotensi mencairkan hubungan yang sempat dingin antara Presiden Zelenskyy dan Presiden Trump.
Selama masa jabatannya, Svyrydenko juga menjadi wajah Ukraina dalam berbagai pembicaraan penting dengan mitra-mitra Barat, terutama mengenai isu pertahanan serta pemulihan dan rekonstruksi ekonomi.
Tak hanya itu, pada tahun 2022, ia aktif bernegosiasi dengan negara-negara lain untuk mendesak penerapan sanksi kepada Rusia, menunjukkan ketegasan dan komitmennya dalam membela kepentingan negaranya.
Visi dan Tantangan Kepemimpinan Baru
Setelah parlemen menyetujui pelantikannya, Svyrydenko segera menyuarakan visinya melalui akun media sosial X. Ia menegaskan prioritasnya yang jelas di tengah situasi sulit ini:
- “Pemerintah kami menetapkan arah menuju Ukraina yang berdiri kokoh di atas fondasinya sendiri — militer, ekonomi, dan sosial.”
- “Tujuan utama saya adalah hasil nyata dan positif yang akan dirasakan setiap warga Ukraina dalam kehidupan sehari-hari. Perang tidak memberi ruang untuk penundaan. Kita harus bertindak cepat dan tegas.”
“Saya berterima kasih kepada Presiden Volodymyr Zelenskyy atas kepercayaannya. Berterima kasih kepada Parlemen atas dukungannya. Berterima kasih kepada Denys Shmyhal dan timnya atas pelayanan mereka,” ujarnya.
Svyrydenko mengakhiri pernyataannya dengan optimisme, “Kami terus maju – untuk kemenangan, untuk pemulihan, untuk Ukraina,” ujarmya seperti dikutip dari Al Jazeera.
Secara spesifik, Svyrydenko menyatakan fokusnya tidak hanya pada mendukung perekonomian, tetapi juga pada perluasan produksi senjata domestik Ukraina dan kekuatan angkatan bersenjatanya.

Perombakan Kabinet dan Reaksi Publik
Penunjukan Svyrydenko hanyalah salah satu bagian dari puzzle perombakan besar-besaran ini. Bersamaan dengannya, beberapa pejabat senior lainnya juga bertukar posisi, yaitu:
- Denys Shmyhal, yang meninggalkan posnya sebagai PM, akan mengambil alih jabatan Menteri Pertahanan.
- Olga Stefanishyna, Menteri Kehakiman yang memiliki pengalaman kerjasama dengan Uni Eropa dan NATO, dipilih sebagai Duta Besar untuk Amerika Serikat.
- Oleksiy Sobolev dan Taras Kachka masing-masing ditunjuk sebagai Menteri Ekonomi, Lingkungan Hidup, dan Pertanian dan Wakil Perdana Menteri untuk Integrasi Eropa.
Meski demikian, perombakan ini memicu beragam reaksi di kalangan masyarakat Ukraina dan pengamat politik.
Dilansir dari AP News, beberapa pihak menilai bahwa perubahan ini bukanlah “perubahan besar” karena kabinet Zelenskyy tidak memperkenalkan wajah baru dan masih mengandalkan pejabat yang sama, hanya bergeser posisi.
Sejumlah kritik bahkan menuduh Zelenskyy melakukan konsolidasi kekuasaan, dengan mengisi posisi kunci dalam pemerintahan dengan “para loyalisnya”
Beberapa orang yang diwawancarai mengatakan kepada NV (The New Voice of Ukraine) bahwa mereka memandang perombakan Kabinet tidak lebih dari sekadar mengganti orang yang sama.
Sementara yang lain mempertanyakan apakah membuat perubahan besar selama masa perang adalah tindakan yang tepat.
“Saya tidak menganggap pembubaran seluruh pemerintahan selama perang adalah langkah yang tepat,” kata salah satu responden.
“Rasanya seperti menata ulang kursi,” tambah yang lain. “Mungkin akan ada perubahan, semoga menjadi lebih baik.”
Meski demikian, beberapa pihak menyatakan optimisme yang hati-hati.
“Semoga perubahan ini membawa kebaikan,” kata seorang perempuan. “Saya ingin percaya keadaan akan membaik. Cepat atau lambat, pasti akan membaik.”
Para kritikus berpendapat bahwa di tengah perang, kepercayaan publik dan legitimasi politik sangat penting.
Dengan Yulia Svyrydenko kini memegang kemudi pemerintahan, Ukraina berada di persimpangan jalan yang krusial.
Prioritasnya yang jelas untuk memperkuat militer dan ekonomi domestik, di samping upaya rekonstruksi dan diplomasi, akan menjadi kunci bagi masa depan negara tersebut.
Tantangan di depan mata sangat besar, namun dengan kepemimpinan baru dan visi yang tegas, Ukraina berharap dapat terus melangkah maju menuju kemenangan dan pemulihan, membangun fondasi yang lebih kuat di tengah badai yang belum reda.
Peran Svyrydenko akan sangat menentukan arah perjalanan Ukraina dalam beberapa tahun mendatang. (VT)





