Jakarta — Pada sesi penutupan DNA Masterclass 2025, sebuah narasi besar tentang masa depan kecerdasan buatan (AI) dibentangkan.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains & Teknologi (Wamen Dikti Saintek) Prof. Stella Christie hadir sebagai pembicara penutup.
Stella tidak hanya membicarakan teknologi, namun Ia berbagi kisah tentang dilema terbesar AI: mengapa AI bisa menjadi penyelamat sekaligus ancaman.
Dengan pengalaman mewakili Indonesia di AI World Conference di Shanghai, di mana ia berbicara di hadapan figur sekaliber Geoffrey Hinton, Profesor Stella memulai presentasinya dengan menegaskan, AI bukanlah topik yang bisa dilihat dari satu sisi saja.
“AI adalah untuk manusia, tetapi bagaimana cara memanusiakan AI ?” tanyanya, memancing audiens untuk merenung.
Dua Sisi Mata Uang AI
Menurut Profesor Stella, AI seperti dua sisi mata uang yang saling berhadapan: manfaat dan mudarat. Ia memulai dengan sisi mudarat yang menurutnya akan terasa dalam jangka waktu lebih pendek. Empat risiko besar mudarat AI:
- Pengangguran (Unemployment): Profesor Stella dengan tegas menyatakan bahwa AI pasti akan menggantikan banyak pekerjaan. “Yang harus kita bicarakan adalah bagaimana supaya tidak digantikan,” ujarnya, menekankan pentingnya mempersiapkan diri.
- Keamanan Siber (Lower Internet Security): AI dapat digunakan peretas untuk membobol sistem dengan lebih mudah, mengancam keamanan data di berbagai sektor, dari perbankan hingga pemerintahan.
- Disinformasi (Lower Information Reliability): AI membuat produksi berita bohong (hoax) semakin realistis dan sulit dibedakan dari fakta, mengancam kredibilitas informasi.
- Kesenjangan (Inequality): Konsentrasi kekuatan AI di tangan segelintir perusahaan atau negara dapat menciptakan kesenjangan sosial dan ekonomi yang luar biasa.
Waktu Adalah Kunci
Meskipun ancaman itu nyata, Profesor Stella menegaskan bahwa ada sisi lain yang sama kuatnya. AI juga dapat menjadi solusi bagi setiap masalah tersebut, namun manfaatnya ini akan terasa dalam jangka waktu yang lebih panjang.

- Sebagai enabler yang menciptakan pekerjaan baru dan memangkas biaya untuk memulai bisnis.
- Sebagai detektor yang membantu mengidentifikasi ancaman keamanan siber.
- Sebagai pengecek fakta (fact-checker) yang memerangi hoaks.
- Sebagai pemerata (grand equalizer) yang memberikan akses setara terhadap teknologi.
“Yang mana yang benar ? Dua-duanya benar,” katanya, “tetapi kalau kita ingin memikirkan AI untuk kebaikan manusia, kita harus menganalisa ruang dan waktu.”
Profesor Stella menjelaskan, mudarat dari AI akan terjadi sekarang, sementara manfaatnya akan datang di masa depan. Oleh karena itu, langkah yang harus diambil adalah proaktif.
Urgensi: Melambatkan Disrupsi dengan Pelatihan
Profesor Stella membawa data dari World Economic Forum untuk mendukung argumennya.
- Diprediksi, AI akan menciptakan 97 juta lapangan kerja baru pada 2025.
- Namun, pada waktu yang sama, 92 juta pekerjaan akan digantikan oleh AI dan otomatisasi.
“Harus ada training… Kalau tidak, kita akan mandek di sini, tergantikan semuanya,” ungkap Stella.
Ia menekankan tanggung jawab swasta dan pemerintah untuk memperlambat disrupsi yang terjadi, dan menyediakan pelatihan yang memadai.
“Disrupsi harus diatur kecepatannya dan didukung dengan pelatihan,” tegasnya.
Panggung Untuk Manusia di Era AI
Mendengar pemaparan visioner Profesor Stella, CEO Digital Tech Ecosystem and Development (DTED) Sinar Mas Land, Irawan Harahap menegaskan keyakinannya bahwa visi Digital Hub adalah jawaban yang tepat.

“Ancaman AI datang sekarang, sementara manfaatnya baru akan terasa di masa depan. Maka, Digital Hub kami bangun sebagai jembatan konkret untuk mempersingkat kesenjangan waktu itu. Ini bukan sekadar ruang kerja, tapi sebuah ekosistem yang dirancang untuk mengubah disrupsi jangka pendek menjadi peluang jangka panjang. Inilah esensi ekosistem yang kami bangun: tempat di mana kita secara aktif melatih, berkolaborasi, dan mempersiapkan diri untuk memastikan AI selalu bekerja untuk kemajuan manusia,” tegas Irawan.
AI memang menawarkan dualitas yang kompleks, tetapi seperti yang ditekankan oleh Profesor Stella Christie, masa depan AI akan ditentukan oleh bagaimana manusia merespons tantangan saat ini.
Dengan bertindak secara strategis, melambatnya disrupsi, dan berinvestasi pada pelatihan, kita bisa memastikan bahwa AI akan menjadi sebuah anugerah, bukan kutukan bagi kemanusiaan. (*)
Baca juga :





