Washington, AS — Presiden AS, Donald Trump akan mulai melakukan kebijakan tarif impor besar-besaran pada awal Agustus ini sesuai tenggat waktu yang diberikannya, yang akan menghantam produk dari puluhan negara.
Langkah ini, kata Trump, demi “melindungi buruh dan industri Amerika.” Tapi efeknya? Pasar global goyang, harga di AS naik, dan negara-negara mitra mulai bersiap lawan balik.
Barang apa saja yang dikenai tarif baru ? Dalam pengumuman terbaru, Trump menetapkan diantaranya:
- 50% tarif untuk baja dan aluminium
- 50% untuk tembaga mulai 1 Agustus
- 25% untuk mobil asing dan suku cadang
- Ancaman 200% untuk obat-obatan impor (masih belum dijalankan)
Tarif ini bukan hanya untuk barang, tapi juga ditekan per negara. Beberapa contoh:
- Brasil: 50%
- Kanada & Kamboja: 35%
- Meksiko & Sri Lanka: 30%
- Filipina: 19%
- Jepang: 15%
- India: 25% plus “hukuman tambahan” karena beli senjata dari Rusia
Presiden Amerika, Donald Trump menyebut tarif ini sebagai bentuk balasan terhadap “praktik dagang curang” dari negara lain.
“Kita terlalu lama dicurangi. Dunia menjarah industri Amerika dan kita diam saja. Sekarang waktunya kita ambil kembali,” ujar Trump dalam pernyataan resmi Gedung Putih, Kamis (31/07/25).
Ancaman Politik, Bukan Cuma Ekonomi

Tarif juga digunakan Trump sebagai alat tekanan geopolitik. Ia mengancam perusahaan yang masih berbisnis dengan Rusia akan dikenai pajak besar jika tidak ada kesepakatan damai Ukraina dalam 50 hari.
Saat menetapkan tarif ke China, Kanada, dan Meksiko, Trump bahkan menyelipkan tuntutan agar negara-negara tersebut mengendalikan arus migran dan narkoba ke AS.
“Ini bisa jadi perang dagang jilid dua,” kata Ekonom Senior Brookings Institution, Daniel Klein, dalam wawancara dengan The Washington Post.
Harga Barang Naik, Pasar Bergolak
Dilansir dari BBC News, tarif ini bukannya tanpa efek. Di dalam negeri Amerika, inflasi mulai terasa. Harga kebutuhan seperti pakaian, mainan, kopi, dan elektronik naik tajam.
Data terbaru menyebutkan, tingkat inflasi AS mencapai 2,7% pada Juni, naik dari 2,4% bulan sebelumnya. Perusahaan besar seperti Adidas dan Mattel bahkan sudah mengumumkan bakal menaikkan harga produk mereka.
Menurut laporan Departemen Perdagangan AS, ekonomi AS menyusut di kuartal pertama 2025. IMF dan OECD juga turunkan proyeksi pertumbuhan global, menyebut tarif sebagai penyebab utama ketidakstabilan.
Pasar saham juga bergejolak, sementara nilai tukar Dolar AS sempat terperosok beberapa pekan terakhir.
Inggris Paling “Beruntung”?

Di tengah kekacauan ini, Inggris jadi satu-satunya negara yang mendapat tarif “diskon” dari AS. Inggris hanya dikenai 10% tarif untuk 100.000 mobil per tahun, sisanya tetap 25%. Meski begitu, tarif untuk baja Inggris tetap dipertahankan.
Beberapa tarif masih dalam tahap negosiasi dan diberi waktu hingga 1 Agustus untuk finalisasi. Jika tak ada kesepakatan, gelombang tarif baru akan otomatis diberlakukan. (YA)
Baca juga :





