Aceh Tenggara – Sebanyak 52 warga binaan yang kabur dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, 44 berhasil diamankan kembali oleh petugas, setelah melakukan pelarian massal yang mengejutkan pada Senin (10/3) sore, menjelang waktu berbuka puasa. Kejadian ini memicu berbagai spekulasi dan pertanyaan tentang kondisi di dalam Lapas tersebut. Meski begitu, delapan napi lainnya masih belum ditemukan, dengan beberapa di antaranya diketahui berada di Polres Aceh Tenggara dan rumah seorang petugas Lapas.
Pelarian yang dilakukan secara serentak ini terjadi setelah para napi berhasil merusak pintu dan atap bangunan Lapas. Bupati Aceh Tenggara, Salim Fakhry, yang langsung terjun ke lokasi kejadian, mengungkapkan bahwa tindakan para napi ini didorong oleh rasa kecewa terhadap kondisi yang ada di dalam Lapas, termasuk kualitas pelayanan yang dianggap tidak memadai.
“Bentuk kekecewaan mereka salah satunya karena masalah makanan. Anggaran untuk makan hanya Rp20 ribu per hari, yang menurut mereka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan,” ujar Salim Fakhry.
Tak hanya itu, over kapasitas di Lapas Kutacane juga disebut sebagai salah satu penyebab yang memperburuk kondisi tersebut. “Kami telah menandatangani hibah tanah untuk pembangunan Lapas baru di Aceh Tenggara, yang diharapkan dapat mengatasi masalah ini,” lanjutnya.
Sebagai tindak lanjut, Dirjen Pemasyarakatan dijadwalkan akan melakukan kunjungan ke Aceh Tenggara pada Selasa, 11 Maret 2025, untuk mencari solusi yang tepat bagi permasalahan ini. Salim juga mengimbau kepada napi yang masih berada di luar untuk segera menyerahkan diri.
Petugas Lapas dan kepolisian terus berusaha keras mencari para napi yang masih melarikan diri, dengan harapan pelarian massal ini bisa segera teratasi, dan kondisi di dalam Lapas Kutacane bisa diperbaiki agar kejadian serupa tidak terulang kembali. (YA)





