Seatlle, AS – Nama Sha’Carri Richardson, yang dikenal sebagai salah satu pelari putri tercepat di dunia, kembali menjadi sorotan.
Namun, kali ini bukan karena prestasinya di lintasan, melainkan karena sebuah insiden di luar arena.
Juara Dunia 100 Meter Putri itu ditangkap minggu akhir pekan lalu, atas dugaan penyerangan terhadap kekasihnya di Bandara Internasional Seattle-Tacoma.
Menurut laporan polisi yang diperoleh oleh The Associated Press, Richardson ditangkap pada Minggu (27/07/25) atas tuduhan kekerasan dalam rumah tangga tingkat empat.
Kejadian ini berlangsung hanya beberapa hari sebelum ia dijadwalkan untuk bertanding di Kejuaraan Atletik AS di Eugene, Oregon.
Meskipun demikian, Richardson tetap tampil dalam babak pembuka lari 100 meter putri, memanfaatkan jatah otomatisnya sebagai juara bertahan untuk Kejuaraan Dunia di Tokyo September mendatang.
Atlet berusia 25 tahun itu tercatat ditahan di South Correctional Entity (SCORE) di Des Moines, Washington, pada Minggu pukul 06.54 malam waktu setempat, dan dibebaskan pada Senin (28/07/25) pukul 01.13 siang.
Saat dimintai komentar, USA Track and Field (USATF), federasi atletik AS, memberikan pernyataan singkat.
“USATF mengetahui laporan tersebut dan tidak akan berkomentar mengenai masalah ini,” kata mereka. Agen Richardson juga tidak segera membalas permintaan komentar dari AP News.
Detik-detik Kejadian di Bandara
Dilansir dari AP News, laporan polisi yang ada memberikan gambaran tentang apa yang terjadi.
Seorang petugas di bandara mendapat laporan dari supervisor Transportation Security Administration (TSA), mengenai keributan antara Richardson dan kekasihnya, yang juga seorang pelari, Christian Coleman.
Setelah meninjau rekaman kamera pengawas, petugas melihat Richardson:
- Menggapai dengan tangan kirinya dan menarik tas ransel Coleman.
- Menghalangi jalan Coleman yang mencoba menghindarinya.
- Mendorong Coleman hingga menabrak dinding.
- Melempar sebuah benda, yang diduga headphone, ke arah Coleman.
Menariknya, dalam laporan tersebut, petugas mencatat, “Saya diberitahu Coleman tidak ingin melanjutkan laporan itu dan menolak untuk menjadi korban.”
Sikap Coleman ini bisa jadi menjadi salah satu alasan, mengapa kasus ini tidak berlanjut ke pengadilan.
Masalah di Balik Prestasi Cemerlang
Ini bukan kali pertama Sha’Carri Richardson menghadapi kontroversi.

- Pada tahun 2021 ia pernah gagal untuk ikut berkompetisi di Olimpiade Tokyo, setelah dinyatakan positif menggunakan ganja dalam tes. Insiden itu membuatnya harus absen dari ajang olahraga terbesar di dunia, sebuah pukulan telak di puncak kariernya.
- Meskipun demikian, ia berhasil bangkit dengan gemilang. Richardson meraih gelar juara dunia 100 meter pada tahun 2023 di Budapest.
- Tak berhenti di situ, ia juga membawa pulang medali perak di Olimpiade Paris musim panas lalu.
- Turut membantu tim estafet 4×100 meter meraih medali emas Olimpiade. Prestasinya yang luar biasa ini membuat namanya kembali dielu-elukan, bahkan dihormati sebagai salah satu atlet tercepat di generasinya.
Insiden di bandara ini kembali menempatkan Richardson dalam sorotan, bukan karena kecepatan kakinya, melainkan karena masalah personal.
Kisahnya adalah pengingat bahwa bahkan di balik kilauan medali dan rekor dunia, para atlet adalah manusia biasa yang tak luput dari masalah.
Dengan statusnya sebagai juara bertahan, semua mata kini tertuju padanya, menunggu bagaimana ia akan menghadapi tantangan ini.
Akankah ia mampu bangkit kembali, ataukah insiden ini akan menjadi penghalang baru dalam perjalanannya menuju Kejuaraan Dunia di Tokyo ? (YA)





