Udine, Italia – Pada Kamis lalu (07/08/25), Suleiman al-Obeid, pesepakbola Palestina yang dijuluki “Pele dari Palestina,” tewas dalam serangan Israel di Gaza.
Kematiannya menjadi awal dari sebuah drama yang memaksa badan sepakbola Eropa, UEFA, untuk akhirnya bersikap lebih tegas.
Setelah kematian al-Obeid, UEFA menyampaikan ucapan belasungkawa melalui platform media sosial X. Namun, pernyataan UEFA yang terkesan netral dan tidak berani menyebut konflik tersebut memicu reaksi keras dari publik.

Reaksi paling menyorot datang dari bintang sepakbola dunia yang juga Kapten Timnas Mesir, Mohamed Salah.
Penyerang Liverpool itu menanggapi unggahan UEFA dengan pertanyaan tajam, “Apakah kalian bisa memberi tahu kami bagaimana ia mati, dimana, dan mengapa?”
Pertanyaan Salah langsung mendapat dukungan luas dari para penggemar yang menganggap UEFA bersikap munafik dan tidak konsisten.
Publik menilai, UEFA memberikan pernyataan yang kosong tanpa berani mengaitkannya dengan situasi sebenarnya di Gaza.
Spanduk di UEFA Super Cup: Pesan Keras & Jelas
Tersindir oleh kritik yang masif, UEFA tampaknya sadar bahwa mereka harus mengambil langkah yang lebih nyata. Kesempatan itu datang pada pembukaan Piala Super UEFA antara PSG dan Tottenham.

Sebuah spanduk besar dibentangkan oleh sembilan anak pengungsi dari Palestina, Afghanistan, Ukraina, dan Irak, dengan pesan yang sangat jelas: “Hentikan Pembunuhan Anak-Anak. Hentikan Pembunuhan Warga Sipil.”
Aksi ini menjadi pernyataan paling tegas dari UEFA sejak konflik pecah, sebuah pengakuan tak langsung atas krisis kemanusiaan yang terjadi.
Pesan ini diperkuat dengan kehadiran Aleksander Ceferin, Presiden UEFA, yang didampingi oleh dua anak pengungsi Palestina saat mempersembahkan medali kepada para pemain.
Sebelumnya, UEFA Foundation for Children juga telah mengumumkan inisiatif kerja sama, dengan sejumlah organisasi bantuan untuk membantu anak-anak yang terdampak perang di seluruh dunia.
Standar Ganda Menjadi Sorotan
Langkah-langkah ini tentu disambut baik, tetapi banyak pihak tetap mengkritik UEFA karena dianggap memiliki standar ganda dalam menyikapi konflik.

- Rusia-Ukraina: Sejak awal perang, UEFA dan FIFA secara tegas melarang partisipasi Timnas Rusia dan klub-klubnya di semua kompetisi internasional.
- Israel-Palestina: Hingga kini, Timnas Israel masih menjadi bagian dari UEFA dan klub-klub asal Israel tetap berkompetisi di ajang Eropa seperti Champions League dan Europa League, meskipun korban sipil di Gaza terus bertambah.
Meskipun kritik ini masih berlanjut, spanduk di Piala Super UEFA setidaknya menjadi sebuah langkah pertama yang penting.
Ini adalah bukti bahwa suara publik dan seorang bintang sepakbola seperti Mohamed Salah memiliki kekuatan untuk memaksa sebuah badan besar seperti UEFA, untuk keluar dari zona nyaman mereka dan mengambil sikap yang lebih berani. (VT)
Baca juga :





