Gaza, Palestina — Serangan udara Israel kembali menghantam sebuah rumah sakit di Gaza Selatan pada Senin (25/08/25), dan menewaskan empat jurnalis.
Salah satu korban tewas adalah seorang jurnalis lepas yang bekerja untuk Associated Press (AP). Tragedi ini menjadi salah satu hari paling berdarah bagi para pencari berita di medan perang yang tak mengenal ampun.
Mariam Dagga, 33 tahun, seorang jurnalis yang kerap bekerja untuk AP News dan berbagai media lain selama konflik berlangsung, kini telah tiada.
Associated Press menyatakan duka cita mendalam atas kematian Dagga dan para kolega jurnalis lainnya. Mariam meninggalkan seorang putra berusia 13 tahun yang telah dievakuasi dari Gaza lebih awal.

Sebelum kematiannya, Mariam Dagga sering meliput dari dalam Rumah Sakit Nasser, tempat dia melaporkan perjuangan para dokter yang berupaya menyelamatkan anak-anak dari kelaparan.
Dua rudal dilaporkan menghantam Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, menurut otoritas kesehatan setempat.
Selain para jurnalis, serangan itu juga menewaskan 15 orang lainnya, menjadikan total korban tewas 19 orang.
Kepala Departemen Catatan Kementerian Kesehatan Gaza, Zaher al-Waheidi, mengonfirmasi angka tersebut.
Zona Paling Berbahaya Bagi Jurnalis
Menurut Komite untuk Melindungi Jurnalis (CPJ), perang Israel-Hamas ini telah menjadi salah satu konflik paling mematikan bagi media. Setidaknya 192 jurnalis telah tewas di Gaza dalam 22 bulan terakhir.
Bahkan otoritas Palestina melaporkan total 240 jurnalis tewas, menjadikan konflik ini sebagai tragedi paling mematikan bagi kalangan pers internasional.
Sebagai perbandingan, dalam perang Rusia di Ukraina, 18 jurnalis terbunuh.

Suara-suara yang Dibungkam
Selain Mariam Dagga, tiga jurnalis lain yang juga tewas dalam serangan itu adalah:
- Mohammed Salam dari Al Jazeera.
- Hussam al-Masri, juru kamera lepas yang bekerja untuk Reuters.
- Identitas jurnalis keempat belum diketahui.
Militer Israel menyatakan pihaknya melakukan serangan di area sekitar Rumah Sakit Nasser dan akan melakukan investigasi.

“Kami menyesali segala kerugian yang menimpa individu yang tidak terlibat dan tidak menargetkan jurnalis,” kata militer Israel dalam sebuah pernyataan.
Namun, pernyataan itu dibantah keras oleh organisasi kebebasan pers. Direktur Jenderal Reporters Without Borders, Thibaut Bruttin mengatakan keselamatan jurnalis belum pernah berada pada titik yang begitu buruk.
Bruttin mencatat, jurnalis terbunuh baik dalam serangan membabi buta maupun serangan yang sengaja ditargetkan oleh militer Israel.
“Mereka melakukan segalanya untuk membungkam suara-suara independen yang mencoba melaporkan apa yang terjadi di Gaza,” kata Bruttin kepada AP News.
Israel telah memblokir media internasional untuk meliput perang secara mandiri.
Alhasil, media-media berita sangat bergantung pada jurnalis lokal Palestina dan warga setempat untuk menunjukkan kepada dunia apa yang sedang terjadi.
Ironisnya, para jurnalis lokal ini menghadapi tantangan serupa dengan orang-orang yang mereka liput, termasuk kesulitan mendapatkan makanan untuk diri sendiri dan keluarga mereka.
Dalam salah satu unggahan media sosial terakhirnya, sehari sebelum kematiannya, Mariam Dagga mengunggah foto selfie-nya.
Foto itu kini menjadi kenangan terakhir dari seorang jurnalis pemberani, yang menunjukkan kepada dunia mengenai kebenaran dari garis depan.(YA)
Baca juga :





