Israel Bombardir Qatar, Trump Sebut Serangan Terlambat Dicegah!

Presiden Trump: "Dirinya sangat tidak senang dengan cara itu terjadi," Hubungan Amerika & Israel Retak ?

Doha, Qatar – Langkah kaki diplomasi yang perlahan namun pasti di Doha tiba-tiba terhenti oleh ledakan, di tengah ketenangan ibu kota Qatar.

Operasi yang diklaim Israel sebagai “serangan presisi” itu tidak hanya menghancurkan markas biro politik Hamas, tetapi juga memicu gelombang kejut yang meretakkan hubungan dua sekutu terdekat: Amerika Serikat dan Israel.

Selama ini, hubungan antara Presiden AS, Donald Trump, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dikenal sangat erat.

Trump adalah pendukung garis keras Israel, yang keputusannya memindahkan kedutaan besar AS ke Yerusalem menjadi bukti nyata. Namun, serangan di Doha mengubah segalanya.

Dalam sebuah unggahan di media sosial Truth Social, Presiden Donald Trump melontarkan teguran yang tak terduga kepada Netanyahu. Ia menyatakan kekecewaannya secara terbuka.

Foto: Dok. BBC News

“Membom secara sepihak di dalam Qatar, sebuah Negara Berdaulat dan Sekutu dekat Amerika Serikat… tidak memajukan tujuan Israel atau Amerika,” tulis Trump. Ia menambahkan bahwa dirinya “sangat tidak senang dengan cara itu terjadi.”

“Ini adalah keputusan yang dibuat oleh Perdana Menteri Netanyahu, bukan keputusan yang saya buat,” tulis Trump di Truth Social miliknya pada Rabu (10/09/25).

Rencana Damai Hancur

Serangan ini terjadi hanya dua hari, setelah pemerintahan Trump baru saja meluncurkan proposal untuk mengakhiri perang di Gaza.

Rencana itu adalah bagian dari upaya diplomasi besar-besaran AS, dengan Qatar menjadi perantara penting. Trump bahkan telah mengeluarkan “peringatan terakhir” kepada Hamas. Namun, Israel tidak menunggu.

Ada spekulasi yang beredar tentang seberapa jauh dan kapan AS mengetahui tentang serangan ini, mengingat kehadiran salah satu pangkalan udara AS terpenting di Qatar.

Banyak pihak berasumsi mustahil jika Washington tidak melihat jet-jet tempur Israel mendekat. Apalagi Kedutaan Besar AS di Qatar telah menempatkan perintah berlindung di tempat untuk personelnya.

“Saya segera memerintahkan Utusan Khusus Steve Witkoff untuk memberi tahu Qatar tentang serangan yang akan datang, namun sayangnya, terlambat untuk menghentikan serangan,” klaim Trump.

Kementerian Luar Negeri Qatar membantah klaim Gedung Putih, bahwa mereka telah diberi tahu sebelumnya mengenai serangan Israel.

Serangan itu tidak hanya menghancurkan sebuah gedung, tetapi juga merusak fondasi diplomasi yang telah dibangun Gedung Putih.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt – Foto: Dok. AFP (Saul Leob)

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt menegaskan kembali pernyataan Trump kepada para wartawan, mengungkapkan kekhawatiran atas tindakan yang “tidak memajukan tujuan Israel maupun Amerika.”

Namun, seperti yang ditulis David Ignatius dalam The Washington Post, “Operation Summit of Fire” (Operasi Puncak Api) ini terjadi meskipun AS dan Israel sebelumnya telah memberikan jaminan bahwa para pemimpin Hamas tidak akan menjadi target di Qatar.

Menurutnya, operasi ini dilakukan meskipun AS dan Israel sebelumnya telah sepakat untuk tidak menargetkan para pemimpin Hamas di Qatar.

Serangan ini menyoroti kompleksitas hubungan di kawasan tersebut. Qatar, yang sejak 2012 menjadi tuan rumah biro politik Hamas, adalah sekutu penting AS.

Negara ini menjadi basis bagi sekitar 10.000 tentara AS di pangkalan udara Al-Udeid, dan bahkan baru-baru ini memberikan hadiah pesawat senilai $400 juta kepada Trump.

Jet tempur F-35i terlihat di Pangkalan Udara Nevatim di Israel Selatan – Foto: Dok Turkiye Today

Meskipun kritik keras datang dari Gedung Putih, Perdana Menteri Israel, Netanyahu tetap pada pendiriannya.

Melalui kantornya, ia mengeluarkan pernyataan yang menegaskan kembali bahwa “serangan itu adalah operasi Israel yang sepenuhnya independen.”

“Israel memulainya, Israel melaksanakannya, dan Israel memikul tanggung jawab penuh,” bunyi pernyataan tersebut.

Serangan Israel di Doha menjadi titik balik yang signifikan dalam dinamika Timur Tengah. Aksi militer yang diklaim sebagai serangan presisi ini justru memicu ketegangan diplomatik antara dua sekutu lama. (YA)

Baca juga : 

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *