Siapa Akan Mengatur AI ? Pemilih Republik Pilih Big Tech, Dibanding Anggota Legislatif!

Survei Eksklusif: Warga California Lebih Percaya Pada Perusahaan Teknologi Untuk Regulasi AI

San Francisco, AS – Sebuah pergeseran tak terduga dalam dunia politik teknologi terungkap dalam sebuah survei eksklusif.

Menurut laporan POLITICO-Citrin Center-Possibility Lab, pemilih Partai Republik di California kini lebih percaya pada perusahaan teknologi (Big Tech), untuk mengatur pengembangan dan regulasi kecerdasan buatan (AI).

Tingkat kepercayaan itu hampir sama besarnya, seperti mereka percaya pada pemerintahan yang dipimpin oleh Donald Trump.

Menariknya, tingkat kepercayaan pemilih Partai Republik ini jauh lebih tinggi, dibanding pemilih dari Partai Demokrat.

Perubahan ini menandai pembalikan budaya yang signifikan, mengingat sejarah panjang kritik Partai Republik terhadap Big Tech.

Pergeseran Kepercayaan & Alasannya

Selama lebih dari satu dekade, Silicon Valley, yang dikenal sebagai basis pendukung Partai Demokrat, selalu menjadi sasaran kritik utama dari Partai Republik.

Isu-isu seperti dugaan sensor terhadap suara konservatif dan masalah keamanan anak-anak di media sosial, sering kali menjadi amunisi utama.

Namun, survei yang dilakukan pada 28 Juli hingga 12 Agustus 2025 ini menunjukkan hal sebaliknya:

  • 58% pemilih Partai Republik percaya bahwa perusahaan teknologi AS mampu membuat kebijakan yang baik dalam pengembangan dan regulasi AI.
  • Angka ini setara dengan 59% pemilih Republik yang menaruh kepercayaan pada pemerintah federal dan Presiden Trump.
  • Sebagai perbandingan, hanya 43% pemilih Partai Demokrat yang memiliki tingkat kepercayaan serupa pada perusahaan teknologi.

Pergeseran ini sejalan dengan arah politik perusahaan teknologi, yang mulai bergeser selama masa jabatan kedua Trump.

Perusahaan-perusahaan ini membalikkan kebijakan seperti pemeriksaan fakta dan berupaya menjalin hubungan baik dengan pemerintahan, yang kini lebih fokus pada persaingan AI melawan China.

Pemerintahan Trump juga tidak memberlakukan batasan ketat, pada industri yang sangat berharga ini.

Amy Lerman, Direktur Possibility Lab dan ilmuwan politik di UC Berkeley menyebut fenomena ini sebagai “pembalikan budaya yang nyata.”

Ia menjelaskan bahwa pandangan publik terhadap perusahaan teknologi telah berubah, seiring dengan keselarasan mereka dengan pemerintah federal, terutama dalam hal kebijakan.

Produktivitas AI Menjadi Prioritas

Selain soal regulasi, pandangan positif terhadap AI juga lebih dominan di kalangan pemilih Republik. Survei menunjukkan :

  • 58% pemilih Republik melihat AI sebagai alat yang dapat meningkatkan produktivitas, mempercepat terobosan ilmiah, dan menciptakan peluang baru.
  • Sementara di pihak pemilih Demokrat, hanya 49% pemilih Demokrat yang memiliki pandangan serupa.

Meskipun demikian, perdebatan tentang siapa yang harus mengatur AI tetap menjadi isu panas.

Sebuah proposal untuk mencegah negara bagian membuat regulasi AI selama satu dekade, yang didukung beberapa anggota Partai Republik, gagal lolos dan menyerahkan regulasi AI kepada perusahaan tetap menjadi prioritas.

Senator Ted Cruz (R-Texas) sedang mengupayakan versi baru dari proposal tersebut. Sementara OpenAI memohon kepada Gubernur California Gavin Newsom, agar dengan komitmen sukarela saja, sudah cukup untuk mengatur keamanan AI.

Lerman menyimpulkan bahwa secara keseluruhan, tidak ada pihak, baik itu partai, negara bagian, atau pemerintah federal, yang mendapatkan kepercayaan lebih dari 50% untuk mengatur AI.

“Ini menunjukkan kurangnya kepercayaan secara keseluruhan, dan akan sangat menarik untuk mencari tahu siapa yang dipercaya orang, jika bukan salah satu dari opsi ini,” ujarnya.

Survei ini merupakan bagian dari dua studi terpisah mengenai pemilih California, yang dilakukan oleh TrueDot, sebuah platform riset yang dipercepat oleh kecerdasan buatan.

Mereka juga bekerja sama dengan Citrin Center dan Possibility Lab di UC Berkeley, serta POLITICO, dan penelitian opini publik ini dilakukan terhadap 1.445 pemilih terdaftar.

Pergeseran kepercayaan ini menunjukkan dinamika baru dalam lanskap politik Amerika, di mana teknologi bukan lagi hanya isu partisan, melainkan isu strategis.

Dengan adanya aliansi antara sebagian politisi Republik dan perusahaan teknologi, masa depan regulasi AI mungkin akan lebih fokus pada inovasi dan daya saing global daripada keamanan dan etika.

Hal ini menjadi pertanyaan penting bagi masa depan California, AS, bahkan dunia.(YA)

Baca juga :

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *