London,Inggris – Ia adalah astronaut yang mendobrak ‘plafon kaca’ dunia antariksa dan terus melaju. Eileen Collins mencetak sejarah sebagai wanita pertama yang memiloti dan memimpin pesawat ulang-alik NASA.
namun, terlepas dari pencapaian luar biasanya, tak semua orang mengenal namanya.
Kini, sebuah film dokumenter berjudul Spacewoman yang merangkum karier perintisnya, tampaknya siap untuk mengubah hal tersebut.
Kami bertemu Collins di Museum Sains London. Tutur katanya lembut, hangat, dan sangat membumi namun Anda akan segera merasakan fokus dan tekadnya. Dia jelas memiliki baja di dalam dirinya. Jelas Media BBC News
Awal Mula Sang ‘Lady Astronaut’
Collins mengenang masa kecilnya, saat impian terbang ke luar angkasa pertama kali muncul.
“Saya sedang membaca artikel majalah tentang astronaut Gemini. Saya mungkin berusia sembilan tahun, dan saya berpikir, itu hal yang paling keren. Itulah yang ingin saya lakukan,” ujarnya.
Tentu saja, saat itu belum ada astronaut wanita. “Tetapi saya hanya berpikir, saya akan menjadi lady astronaut.”
Namun, gadis kecil itu mematok target lebih tinggi: dia ingin berada di kendali pesawat ruang angkasa.
Satu-satunya cara adalah bergabung dengan militer dan menjadi pilot uji. Setelah terpilih dalam program astronaut, Collins tahu betul bahwa mata dunia tertuju padanya saat misi pertamanya diluncurkan pada tahun 1995.
Keharusan untuk Tampil Sempurna
Collins mengakui bahwa tekanan untuk berhasil sangat besar. Ia tidak hanya membawa nama baiknya sendiri, tetapi juga nama baik semua wanita yang akan mengikuti jejaknya.

“Sebagai wanita pertama yang memiloti Pesawat Ulang-alik, saya bekerja sangat keras untuk itu karena saya tidak ingin orang berkata, ‘Oh lihat, wanita itu telah membuat kesalahan.’ Karena ini bukan hanya tentang saya, ini tentang para wanita yang akan mengikuti saya,” kata Collins.
Ia ingin menciptakan reputasi bagi pilot wanita: ‘Hei, mereka benar-benar hebat.’
- Promosi Luar Biasa: Collins tampil begitu baik sehingga dia segera dipromosikan menjadi komandan pencapaian ‘pertama di luar angkasa’ lainnya.
- Dilema Ibu dan Komandan: Dalam konferensi pers, Collins sering ditanya tentang bagaimana dia bisa menjadi istri, ibu dari dua anak, sekaligus komandan. Collins tertawa, menyebut keduanya “dua pekerjaan terbaik di dunia.” Namun, ia menambahkan: “Lebih sulit menjadi orang tua daripada menjadi komandan pesawat ulang-alik.”
Menggenggam Kendali Setelah Tragedi: Ujian Kepemimpinan yang Sesungguhnya
Penerbangan Pesawat Ulang-alik yang berlangsung selama tiga dekade mencapai puncak yang menakjubkan, namun juga jurang yang mengerikan, termasuk tragedi Challenger (1986) dan Columbia (2003).
Tragedi Columbia, yang menewaskan tujuh kru, menghancurkan hati Collins yang kehilangan rekan-rekannya.
Sebagai komandan, ia harus memikul tanggung jawab untuk penerbangan berikutnya pasca-bencana. Apakah dia sempat berpikir untuk mundur?

“Orang-orang di seluruh program pesawat ulang-alik mengandalkan komandan untuk tetap bertahan,” ujarnya pelan. “Saya pikir mengundurkan diri dari misi akan menjadi kebalikan dari berani… dan saya ingin menjadi pemimpin yang berani. Saya ingin menjadi pemimpin yang percaya diri.”
- Manuver Berisiko: Pada penerbangan Collins berikutnya di tahun 2005, skenario mimpi buruk terulang: sepotong busa lepas saat peluncuran. Untuk memeriksa kerusakan, Collins harus memiloti manuver paling berisiko dalam sejarah antariksa: membalikkan pesawat ulang-alik 360 derajat di bawah Stasiun Luar Angkasa Internasional.
- Keyakinan Sang Komandan: Ada insinyur dan manajer yang mengatakan hal itu terlalu berbahaya. Setelah mendengarkan semua diskusi, Collins mengambil keputusan: “Kedengarannya kita bisa melakukannya,” katanya. Dengan tangan yang stabil dan suara yang tenang, Collins berhasil melakukan somersault yang anggun, memungkinkan perbaikan, dan memastikan kru serta pesawatnya kembali dengan selamat ke Bumi.
Penerbangan itu adalah misi terakhir Collins. Dia telah memutuskan untuk memberi kesempatan kepada orang lain.
Bagi generasi berikutnya yang memimpikan bintang-bintang, Collins memberikan nasihat yang lugas:
“Kerjakan pekerjaan rumahmu, dengarkan gurumu, perhatikan di kelas dan baca buku, dan itu akan memberimu sesuatu untuk difokuskan,” tutupnya.(YA)





