Kritik Keras: ‘FIFA Peace Prize’ Infantino Dinilai Lebih Rendah dari Gol Van de Ven

Infantino Luncurkan 'FIFA Peace Prize', Gagasan Baru Yang Dianggap Tak Relevan Dengan Keindahan Sepakbola

Miami, ASPresiden FIFA, Gianni Infantino, kembali memicu kontroversi setelah mengumumkan gagasan terbarunya: “FIFA Peace Prize  Football Unites the World”.

Pengumuman ini disampaikan pada acara bisnis global yang disorot, karena tingginya biaya partisipasi.

Dilansir dari The Guardian, ide penghargaan perdamaian dari badan sepakbola tertinggi dunia ini langsung menuai kritik pedas.

Para pengamat menyuarakan keraguan tentang relevansi dan niat di balik inisiatif tersebut, terutama mengingat isu-isu internal FIFA yang belum terselesaikan.

Kontroversi di Forum Bisnis Mahal

Pengumuman yang disampaikan oleh Gianni Infantino itu terjadi dalam acara America Business Forum di Miami.

Acara tersebut menuai kritik karena terkesan sangat eksklusif, mengingat laporan menyebutkan bahwa tiket ‘Diamond’ early bird yang dibanderol seharga $ 10.000 (sekitar Rp 157 Juta) telah ludes terjual.

Saat Infantino naik ke atas panggung forum tersebut, ia diperkenalkan melalui pemutaran sebuah montase video yang isinya memuji-muji gelaran Piala Dunia Qatar 2022.

Narasi video itu secara kontroversial menyebut turnamen tersebut sebagai ajang yang “paling dipertanyakan dalam sejarah,” namun berhasil mengubah semua “kontroversi menjadi koneksi” berkat kepemimpinan Infantino.

Kalimat asli narasi video yang dikutip The Guardian berbunyi: “Qatar 2022: the most questioned World Cup in history.”

Gianni Infantino pada acara America Business Forum di Miami, AS – Foto: Dok. The Guardian

Infantino: Sepakbola Menyatukan

Infantino berargumen bahwa penghargaan tersebut sangat dibutuhkan, di tengah kondisi dunia yang terpecah saat ini. Dalam pernyataannya, ia menekankan peran sepak bola sebagai pemersatu:

“Motto kami di FIFA adalah bahwa sepakbola menyatukan, dan membawa orang-orang dari seluruh planet ini bersama-sama,” ujar Infantino.

“Ketika kita melihat apa yang terjadi di dunia kita hari ini, yang merupakan dunia yang sangat terpecah, kita perlu menemukan lebih banyak kesempatan untuk menyatukan orang-orang.”

Lebih lanjut, Infantino menjelaskan bahwa perdamaian adalah isu penting yang harus didukung.

“Kami percaya bahwa perdamaian di dunia adalah sesuatu yang sangat penting. Kami harus mendukungnya karena ini adalah tentang persatuan, dan kami harus mendukung siapa pun yang melakukan sesuatu yang istimewa. Jadi, kami berpikir kami harus mewujudkan ‘Fifa Peace Prize’ (Penghargaan Perdamaian FIFA).”

Edisi pertama penghargaan ini direncanakan akan diadakan pada 5 Desember di Washington DC, bertepatan dengan pengundian Piala Dunia, yang menurut Infantino akan disaksikan oleh satu miliar orang.

“Ini adalah platform yang tepat untuk memberikan penghargaan kepada seseorang yang telah atau sedang berbuat banyak untuk perdamaian, karena kita membutuhkannya. Sepakbola memang membantu sedikit, tetapi kemudian kita membutuhkan para pemimpin yang mendorongnya ke dalam gawang,” ungkap Infantino.

Bagian lain dari pengumuman yang mengundang kecaman, ketika Infantino secara terbuka memuji Presiden AS Donald Trump dan mengomentari pemilihannya.

“Sejauh yang saya pahami, presiden Trump terpilih di AS menang dengan cukup jelas, dan ketika Anda berada dalam demokrasi yang hebat seperti Amerika Serikat, Anda harus menghormati hasil pemilihan tersebut,” kata Infantino.

Pernyataan ini langsung menjadi sorotan, karena Infantino sendiri merupakan Presiden FIFA yang terpilih dua kali tanpa lawan.

Komentarnya kontras dengan upaya pendukung Trump, yang sempat melakukan pemberontakan terhadap hasil pemilu AS.

Pengamat mempertanyakan mengapa pemimpin sepakbola itu kini berkhotbah tentang keadilan pemilu dan membagikan hadiah perdamaian.

Sementara masalah mendesak di dalam tubuh FIFA sendiri, seperti kompensasi bagi pekerja migran di Qatar, masih diabaikan.

Sepakbola Lampaui Penghargaan Damai

Kritik ini menyebutkan bahwa ide perdamaian ini merusak keindahan dan kesederhanaan hakiki, dari permainan itu sendiri.

Dalam beberapa hari terakhir, momen-momen brilian di lapangan, seperti Micky van de Ven yang melewati seluruh pemain FC Copenhagen, atau gol indah lainnya, justru dinilai sebagai esensi mengapa olahraga ini dicintai.

Para kritikus sepakbola amerika berpendapat, momen-momen seperti itu adalah inti dari pengaruh sepakbola, dan seharusnya tidak dicampuradukkan dengan agenda politik atau penghargaan perdamaian yang dipertanyakan.

Ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa orang yang menjalankan sepakbola mencampuri urusan geopolitik dan perdamaian global ?(YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *