Washington, AS – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang menetapkan Misi Genesis.
Berdasarkan Keterangan resmi Gedung putih, keputusan besar itu dirancang untuk memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).
Tujuannya adalah mempercepat penemuan ilmiah di berbagai area penelitian, mulai dari bioteknologi hingga energi nuklir.
Perintah ini menugaskan Departemen Energi (DOE), untuk mengubah jaringan laboratorium nasional menjadi platform penelitian terpusat berbasis AI.
Gedung Putih menyebut inisiatif ini akan menyatukan “pemikir paling cemerlang Amerika, komputer paling kuat, dan data ilmiah yang luas” dalam satu sistem kerja, tulis AFP.
Laboratorium Nasional Pusat Eksperimen AI
Perintah eksekutif tersebut mengarahkan DOE untuk membangun platform eksperimen AI closed-loop.
Platform ini akan mengintegrasikan superkomputer federal dan basis data ilmiah, untuk menghasilkan model dasar (foundation models) dan mengoperasikan laboratorium robotik.
Administrasi Trump menargetkan peningkatan drastis dalam produktivitas penelitian, dan pengembangan federal dalam kurun waktu satu dekade ke depan.

Ini adalah upaya untuk menjawab tantangan stagnasi efisiensi riset global.
- Koordinator Utama: Menteri Energi ditunjuk sebagai koordinator utama untuk Misi Genesis.
- Pengawasan: Asisten Presiden untuk Sains dan Teknologi akan mengawasi integrasi data dan infrastruktur dari seluruh pemerintahan federal.
- Kemitraan: Penasihat Khusus untuk AI dan Kripto akan berpartisipasi dalam mengoordinasikan kemitraan dengan akademisi dan sektor swasta.
Fokus Keunggulan Nasional
Area penelitian yang diprioritaskan oleh Misi Genesis dipilih, karena dianggap penting untuk mengatasi tantangan keamanan nasional, daya saing ekonomi, dan kesehatan publik.
- Bioteknologi dan Material Kritis.
- Energi Fisi dan Fusi Nuklir.
- Eksplorasi Luar Angkasa.
- Ilmu Informasi Kuantum.
- Semikonduktor dan Mikroelektronika.
Administrasi meyakini AI dapat memadatkan waktu penelitian, yang sebelumnya memakan waktu bertahun-tahun menjadi hanya beberapa minggu atau bulan.
Hal itu bisa dilakukan melalui kemampuan AI menghasilkan model struktur protein, merancang eksperimen, dan memproses data dengan kecepatan tinggi.
Lembar fakta Gedung Putih yang menyertai perintah tersebut menyoroti apa yang mereka anggap sebagai penurunan efisiensi dalam penelitian ilmiah, meskipun pendanaan meningkat.
Disebutkan bahwa anggaran penelitian telah tumbuh secara substansial sejak tahun 1990-an.
Namun, fakta menunjukkan bahwa jumlah persetujuan obat baru telah menurun, dan kini diperlukan lebih banyak peneliti untuk mencapai hasil ilmiah yang setara.
“Pendanaan riset telah tumbuh, tetapi jumlah persetujuan obat baru menurun. AI adalah jawabannya untuk mempercepat penemuan yang terhambat oleh metode tradisional,” demikian bunyi pernyataan Gedung Putih.
Laboratorium nasional dinilai memiliki data terorganisir berskala besar dan infrastruktur komputasi yang dibutuhkan oleh sistem AI, menjadikan mereka pondasi ideal untuk platform baru ini.

Misi Genesis merupakan aksi terbaru dalam serangkaian perintah eksekutif terkait AI yang telah dikeluarkan oleh pemerintahan Trump sepanjang tahun 2025.
Perintah ini memperkuat komitmen administrasi untuk mempertahankan apa yang mereka sebut sebagai dominasi global Amerika dalam pengembangan dan penerapan kecerdasan buatan.
- Januari 2025: Trump menandatangani perintah yang membalikkan kebijakan AI pemerintahan Biden sebelumnya.
- April 2025: Dikeluarkan arahan yang mempromosikan pendidikan AI.
- Juli 2025: Perintah dikeluarkan yang membahas penggunaan AI dalam pemerintahan federal dan ekspor teknologi.
- September 2025: Trump menandatangani perintah penerapan AI untuk penelitian kanker anak melalui Inisiatif Data Kanker Anak.
Administrasi merilis Rencana Aksi AI pada Juli, menguraikan hampir 100 tindakan federal untuk memajukan inovasi dan infrastruktur AI Amerika. Misi Genesis menjadi puncak dari upaya eksekutif tersebut.(YA)





