Solok – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Solok, Sumatra Barat, secara resmi menetapkan status Keadaan Darurat Bencana selama 14 hari ke depan, berlaku mulai 25 November 2025.
Penetapan status Siaga 1 atau Awas ini menyusul eskalasi bencana hidrometeorologi, yang dipicu oleh tingginya intensitas curah hujan di wilayah tersebut.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan curah hujan ekstrem akan terus berlangsung hingga 27 November 2025, memicu serangkaian insiden seperti banjir, tanah longsor, dan terputusnya akses jalan vital.
Berdasarkan rilis BPBD Solok terdapat seribu lebih warga di sebagian besar kecamatan di kabupaten Solok, yang terdampak bencana harus mengungsi.
Reaksi & Penetapan Status Darurat
Keputusan penetapan status darurat ini diambil dalam Rapat Koordinasi yang digelar di Kantor Camat Kubung Koto Baru, pada Selasa (25/11/25).
BPBD Kabupaten Solok, dalam dilaman resminya menekankan urgensi penetapan status darurat.
“Berdasarkan informasi dari BMKG, curah hujan akan terus meningkat hingga tanggal 27 November 2025, sehingga hampir di sebagian besar wilayah Kabupaten Solok terdampak bencana,” tulisnya.
BPBD Solok juga menambahkan bahwa bencana telah merusak sarana prasarana vital masyarakat, seperti jalan dan jembatan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Solok, Medison mengonfirmasi penetapan status tersebut sesuai arahan Bupati.
“Status kita sudah Siaga Bencana terhitung 14 hari ke depan,” tegas Sekda Medison.
Medison juga menginstruksikan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis untuk segera menyusun anggaran dan mengajukan penggunaan Dana Belanja Tidak Terduga (BTT), untuk penanganan darurat.
Prioritas utama, menurutnya, adalah logistik makanan untuk warga terdampak.
Kerusakan & Dampak di Lapangan
Laporan dari Camat Kubung menyebutkan bahwa sekitar 1000 warga atau 512 KK, terdampak banjir di empat nagari, termasuk Nagari Koto Baru dan Selayo.
“Sawah terendam banjir sekitar 60 Hektare. Ternak Itik 150 ekor hanyut, serta 2 ekor kambing warga juga hilang. Di Nagari Gantung Ciri, longsor mengakibatkan putusnya jembatan akses menuju Nagari Cupak,” ujar Camat Kubung, Acil Fasra.
Sementara itu, Camat Junjung Sirih, Neni Amelia melaporkan kerusakan jalan dan rumah di sepanjang ruas sungai, dengan jembatan Jalan Provinsi di wilayahnya yang belum bisa dilewati akibat derasnya arus sungai.
Di Kecamatan X Koto Singkarak, Camat Chrismon Darma melaporkan delapan KK terdampak banjir dan kerusakan pada area pertanian.
Fokus Penanganan & Pemulihan
Menanggapi kondisi kritis ini, Pemkab Solok menyatakan akan memfokuskan penggunaan Dana BTT untuk membantu masyarakat terdampak dan memperlancar upaya penanganan.
Bupati Solok, Jon Firman Pandu mengapresiasi respons cepat OPD. Ia menekankan pentingnya sinergi antar-lembaga.
“Koordinasi antar-stakeholder sangat penting. Saya mengimbau seluruh pihak terkait agar bekerja sesuai fungsi masing-masing untuk mempercepat penanganan di lapangan,” kata Bupati Jon Firman Pandu.
Dinas PUPR juga telah membuat laporan dan proposal, untuk dikirim ke pemerintah pusat terkait dampak bencana pada infrastruktur.
Sekda Medison menambahkan bahwa perbaikan jembatan yang rusak akan segera ditangani, termasuk dengan menggalakkan gotong royong bersama masyarakat.
Alat berat juga telah disiagakan di Lubuk Selasih untuk penanganan longsor.(NR)





