Remaja 18 Tahun Ciptakan Peta Politik Alabama dengan Aplikasi Gratis!

Mahasiswa Baru Gambar Ulang Distrik Senat dari Kamar Asrama

Montgomery, Alabama – Peta distrik Senat negara bagian Alabama kini secara resmi menggunakan rancangan yang dibuat oleh seorang remaja berusia 18 tahun, Daniel DiDonato.

Hebatnya, peta buatan mahasiswa baru ini, hanya dikerjakan di kamar asramanya, dipilih oleh hakim federal.

Rancangan DiDonato ini bahkan mengungguli peta yang dibuat oleh para ahli kartografi profesional yang ditunjuk pengadilan.

Peta baru ini dibuat untuk memperbaiki pelanggaran Undang-Undang Hak Pilih (Voting Rights Act) di Alabama yang dinilai merugikan pemilih Kulit Hitam.

Hakim federal secara khusus menyoroti bagaimana perangkat lunak pemetaan gratis dan data yang mudah diakses kini telah membuat proses pembuatan peta politik menjadi lebih demokratis. Dulu, membuat peta politik hanya bisa dilakukan oleh para ahli. Sekarang, siapa saja bisa!

Dari “DD” Jadi Peta Hukum Negara

Keputusan penting ini bermula dari perintah hakim federal pada Desember 2025 untuk memberlakukan peta Senat negara bagian yang baru.

Setelah bertahun-tahun menjalani proses hukum, hakim memutuskan untuk memilih peta yang diajukan oleh anggota masyarakat yang awalnya anonim, hanya dikenal dengan inisial “DD”.

“DD” tak lain adalah Daniel DiDonato, seorang mahasiswa baru di University of Alabama.

DiDonato baru tahu petanya yang terpilih saat ia bersiap untuk mengikuti kuliah Pengantar Ilmu Politik.

“Saya benar-benar terkejut,” katanya. “Sekarang, hampir 300.000 warga Alabama akan memilih di bawah garis distrik baru yang saya gambar pada jam dua pagi di kamar asrama yang sempit.”ceritanya kepada The Guardian.

Solusi Simpel yang Tepat Sasaran

Pada Agustus lalu, Hakim Distrik AS Anna Manasco memutuskan bahwa peta politik yang dibuat oleh Partai Republik Alabama pada tahun 2021 telah melemahkan pengaruh pemilih Kulit Hitam di sekitar ibu kota.

Hal ini melanggar Undang-Undang Hak Pilih Bagian Dua.

Setelah badan legislatif Alabama menolak membuat peta baru, pengadilan menunjuk seorang Master Khusus untuk mengawasi kasus ini dan mengundang partisipasi publik untuk mengajukan rencana pemetaan.

DiDonato adalah satu-satunya anggota masyarakat yang mengirimkan rancangan. Ia mengajukan enam rencana pada 10 Oktober, hanya menggunakan aplikasi online gratis bernama Dave’s Redistricting App.

DiDonato mengaku hanya fokus pada dua hal:

  1. Memastikan populasi setiap distrik setara.
  2. Membuat perubahan seminimal mungkin pada peta lama.

Tujuannya adalah memastikan pemilih Kulit Hitam memiliki peluang lebih baik untuk memilih kandidat pilihan mereka di satu distrik tambahan, sesuai perintah pengadilan.

Mengalahkan Para Ahli & Menjadi Inspirasi

Richard Allen, Master Khusus yang mengawasi kasus ini, memang memasukkan salah satu peta DiDonato sebagai pilihan. Namun, ia menyertakannya dengan nada meremehkan, menganggap rancangannya sendiri jauh lebih unggul.

Lalu, mengapa peta remaja ini yang akhirnya terpilih?

Hakim Manasco memilih rencana DiDonato karena alasan yang jelas dan strategis rancangan DiDonato memenuhi perintah pengadilan dengan perubahan paling minimal.

DiDonato merasa bangga bisa mengalahkan para ahli. “Menurut saya lucu saya bisa mengatakan saya lebih baik dalam keahlian saya daripada Master Khusus yang ditunjuk pengadilan,” ujarnya.

Kisah sukses DiDonato ini telah menjadi motivasi besar di kalangan komunitas online pemetaan politik. Ia berharap kesuksesannya menjadi dorongan bagi remaja lain yang peduli politik namun merasa kekurangan cara untuk menyuarakan dampaknya.

“Mengetahui bahwa pemilih Kulit Hitam terus berjuang untuk hak memilih, dan saya turut menjadi bagian dari sejarah untuk memperbaikinya… rasanya terhormat,” jelasnya kepada The Guardian (YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *