California, AS – Era robot yang menyerupai manusia bukan lagi sekadar bumbu film fiksi ilmiah.
Dalam ajang Humanoids Summit di Silicon Valley pekan ini, lebih dari 2.000 insinyur dari Google, Disney, hingga puluhan startup berkumpul untuk memamerkan kecanggihan robot humanoid yang kini mulai merambah dunia nyata.
Lonjakan teknologi kecerdasan buatan (AI) telah menjadi bahan bakar utama bagi industri yang dulunya dianggap “membosankan” dan terlalu mahal oleh para investor.
Kini, integrasi antara otak AI yang cerdas dengan tubuh mekanis yang lincah menjadi fokus utama persaingan teknologi global antara Amerika Serikat dan China.
Robot di Dunia Nyata
Berdasarkan hasil pantauan AP News, meski tantangan teknis masih besar, beberapa robot humanoid sudah mulai mendapatkan “pekerjaan” pertamanya.
Kehadiran mereka bukan lagi sekadar prototipe di dalam laboratorium, melainkan sudah mulai menyentuh sektor hiburan dan logistik.

- Olaf di Disneyland: Disney memamerkan versi robotik karakter Olaf dari film “Frozen” yang akan mulai berjalan sendiri menyapa pengunjung di Disneyland Hong Kong dan Paris tahun depan.
- Robot Gudang Digit: Agility Robotics mengumumkan bahwa robot “Digit” pengangkut barang kini mulai diuji coba di fasilitas distribusi Mercado Libre di Texas.
- Adopsi di China: Sekitar 20 perusahaan di China telah mengantongi pendanaan jumbo untuk mengembangkan ekosistem humanoid yang ditargetkan matang pada tahun 2025.
Ambisi Besar & Skeptisme
Namun, di balik gemerlap lampu panggung pameran, nada skeptis tetap bergema kuat.
Banyak ahli mengingatkan bahwa menciptakan robot yang benar-benar bisa berfungsi layaknya manusia di lingkungan rumah tangga atau tempat kerja umum, masih memerlukan waktu bertahun-tahun.
“Ruang lingkup humanoid memiliki tantangan yang sangat, sangat besar untuk didaki,” ujar Cosima du Pasquier, CEO Haptica Robotics.
Menurutnya, masih banyak riset mendalam yang harus diselesaikan, terutama mengenai indra peraba dan ketangkasan motorik robot.
Rodney Brooks, pionir robotika Pendiri iRobot, bahkan secara terbuka meragukan bahwa dana miliaran dolar dari investor akan secara instan membuat robot menjadi tangkas.

Ia menilai kemampuan belajar robot saat ini masih jauh dari fleksibilitas tangan manusia.
Perang Teknologi Amerika vs China
Data dari McKinsey & Company menunjukkan peta persaingan yang sengit.
Saat ini terdapat sekitar 50 perusahaan di seluruh dunia yang telah mengumpulkan modal sedikitnya US 100 Juta (sekitar Rp 1,5 Triliun) khusus untuk pengembangan humanoid.
- Dominasi China: Didukung insentif pemerintah, perusahaan seperti Unitree mendominasi pasar dengan model robot yang relatif murah dan mudah diadopsi peneliti.
- Keunggulan AS: Amerika Serikat unggul dalam perangkat lunak dan model bahasa besar (seperti ChatGPT dan Gemini) yang menjadi “otak” bagi robot untuk memahami perintah manusia.
Modar Alaoui, penyelenggara Humanoids Summit, menyamakan fase industri robot saat ini dengan tahap awal pengembangan mobil tanpa awak (self-driving cars) satu dekade lalu.
Meski awalnya diragukan, teknologi tersebut kini sudah mulai lazim terlihat di jalanan Silicon Valley.(YA)





