Washington, AS – Kabar gembira bagi 170 juta pengguna TikTok di Amerika Serikat. Pemilik TikTok, ByteDance, resmi menandatangani perjanjian mengikat dengan investor global, untuk melepas mayoritas kepemilikan bisnisnya di AS.
Langkah besar ini diambil tepat sebelum tenggat waktu pelarangan aplikasi tersebut diberlakukan.
Berdasarkan laporan BBC News, CEO TikTok, Shou Zi Chew mengumumkan langsung kabar ini kepada karyawannya pada Kamis (18/12/25) waktu setempat.
Melalui memo internal, Chew memastikan bahwa TikTok akan tetap beroperasi di bawah struktur kepemilikan baru yang melibatkan raksasa teknologi Oracle, hingga perusahaan investasi asal Uni Emirat Arab, MGX.
Kesepakatan ini dijadwalkan rampung sepenuhnya pada 22 Januari 2026 mendatang.
Dengan ini, upaya panjang Washington selama bertahun-tahun untuk memaksa ByteDance menjual operasinya di AS karena kekhawatiran keamanan nasional, akhirnya menemui titik terang.

Struktur Kepemilikan Baru
Dalam struktur baru ini, ByteDance tidak lagi memegang kendali mayoritas. Berikut adalah rincian pembagian kepemilikan saham TikTok di Amerika Serikat:
- ByteDance (Pemilik Lama): Mempertahankan 19,9% saham.
- Konsorsium Utama: Oracle, Silver Lake, dan MGX masing-masing memegang 15% saham.
- Investor Lainnya: Sebanyak 30,1% saham dipegang oleh afiliasi dari investor ByteDance yang sudah ada sebelumnya.
Gedung Putih menyatakan bahwa Oracle nantinya akan melisensi algoritma rekomendasi TikTok, sebagai bagian dari kesepakatan.
Hal ini dilakukan untuk memastikan operasional teknologi tetap berada dalam pengawasan domestik AS.
Algoritma Akan Dilatih Ulang
Salah satu poin krusial dalam perjanjian ini adalah penanganan data dan algoritma. Untuk meredam kekhawatiran akan manipulasi pihak asing, algoritma rekomendasi TikTok akan dilatih ulang menggunakan data pengguna Amerika.
Langkah ini bertujuan agar konten yang muncul di FYP (For You Page) pengguna AS bebas dari pengaruh eksternal.
“Kesepakatan ini memungkinkan jutaan warga Amerika terus menemukan peluang di komunitas global yang vital,” tulis manajemen TikTok dalam memonya.

Konflik Panjang, Kritik & Harapan
Meski menjadi angin segar, kesepakatan ini tetap menuai kritik. Senator Demokrat, Ron Wyden menilai langkah ini belum cukup menjamin privasi data pengguna.
Ia meragukan apakah perpindahan tangan ini benar-benar menempatkan algoritma TikTok di tangan yang lebih aman.
Di sisi lain, para pelaku UMKM yang bergantung pada TikTok merasa was-was namun berharap banyak.
Tiffany Cianci, seorang pemilik usaha kecil dengan 300.000 pengikut menyatakan kekhawatirannya terhadap perubahan pengalaman pengguna di masa depan.
“Saya berharap pemilik bisnis kecil tetap terlindungi. Saya menahan diri untuk menilai apakah kita benar-benar telah ‘menyelamatkan’ aplikasi ini bagi para pengusaha,” ujar Cianci kepada BBC News.
Baginya, TikTok lebih unggul dibandingkan kompetitor seperti Meta karena skema bagi hasil yang lebih menguntungkan.
Drama pemblokiran TikTok ini telah berlangsung sejak pemerintahan Donald Trump, yang kemudian dilanjutkan oleh Joe Biden.
Pada April 2024, Kongres AS meloloskan undang-undang yang mewajibkan divestasi TikTok dengan batas waktu Januari 2025.
Trump, yang sempat menunda penegakan hukum tersebut pada September lalu, mengklaim telah berkomunikasi dengan Presiden China, Xi Jinping mengenai kesepakatan ini.
Kini, dengan ditandatanganinya perjanjian tersebut, TikTok diprediksi akan memulai babak baru di pasar Amerika tanpa bayang-bayang blokir permanen.(YA)





