Gelar Sarjana Mulai Ditinggalkan Generasi Muda

Biaya Mahal dan AI Jadi Pemicu

Washington DC – Pandangan generasi muda terhadap bangku kuliah kini berada di titik balik. Survei terbaru dari Gallup mengungkap fenomena mengejutkan: hampir seperempat warga Amerika Serikat menyatakan tidak lagi percaya pada pendidikan tinggi dan memilih untuk tidak melanjutkan kuliah.

Faktor biaya menjadi tembok penghalang utama. Rata-rata biaya kuliah untuk gelar sarjana (S1) di universitas negeri Amerika telah melonjak lebih dari dua kali lipat dalam 30 tahun terakhir. Kondisi ini diperparah dengan kekhawatiran bahwa materi di kampus tidak lagi relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang berubah cepat.

AI Persulit Lulusan Baru Bekerja

Kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) turut mengubah peta persaingan kerja. Meski menciptakan posisi baru seperti software engineer, AI justru membuat lulusan universitas kesulitan mendapatkan pekerjaan pertama mereka.

Data dari Stanford, Harvard, dan King’s College London menunjukkan tren yang mengkhawatirkan:

Foto: Dok. Ilustrasi Harvard Business School (HBS)
  • Perusahaan cenderung mengurangi perekrutan tenaga kerja profesional level junior.
  • Angka pengangguran lulusan sarjana usia 20-24 tahun mencapai 6,8%.
  • Sebanyak 52% lulusan bekerja di bidang yang tidak membutuhkan gelar sarjana setahun setelah lulus.
  • 73% dari mereka yang bekerja di bawah standar tersebut tetap terjebak di posisi yang sama hingga satu dekade kemudian.

Di sisi lain, minat terhadap pekerjaan manual yang mengandalkan keterampilan teknis justru melonjak tajam.

Di media sosial seperti TikTok dan Instagram, profesi tukang ledeng dan teknisi listrik muda menjadi idola baru dengan jutaan tayangan video.

“Saya tidak ingin menghabiskan uang hanya untuk membayar pinjaman mahasiswa selama 25 tahun ke depan. Itu bisa melumpuhkan masa depan Anda,” ujar Nolan Cunningham (23), peserta magang di TSMC Arizona yang sebelumnya bekerja di restoran cepat saji.

Pilihan Nolan selaras dengan data American Staffing Association. Sepertiga orang dewasa kini lebih menyarankan lulusan SMA untuk mengambil sekolah kejuruan dibandingkan universitas.

Sejak 2020, pendaftaran program kejuruan dua tahun meningkat 20%, sementara jumlah peserta magang aktif di AS naik dua kali lipat sejak 2014.

Gaji Teknisi Saingi Lulusan Seni

Meski lulusan sains (STEM) masih memimpin dengan rata-rata gaji $98.000 per tahun, American Staffing Association merilis profesi teknis mulai mengejar ketertinggalan. Sebagai perbandingan:

  • Teknisi Lift: Gaji tahunan rata-rata mencapai $106.580.
  • Lulusan Seni/Humaniora: Pendapatan rata-rata berkisar $69.000.
  • Teknisi Listrik: 10% teratas bisa mengantongi lebih dari $100.000 per tahun.

Industri manufaktur canggih kini sedang “haus” tenaga kerja. Hingga 2030, diproyeksikan 60% lowongan desain chip di AS akan kosong karena minimnya pekerja terampil.

CEO Nvidia, Jensen Huang, di pameran Consumer Electronics Show (CES) di Las Vegas-Foto: Dok.Nvidia Blog

CEO Nvidia, Jensen Huang, bahkan menyebut pusat data AI akan membutuhkan ratusan ribu teknisi listrik dan tukang kayu dalam waktu dekat.

Sujai Shivakumar dari Centre for Strategic and International Studies menilai stigma “pekerjaan kotor” masih menjadi hambatan.

Namun, para ahli menunjuk Swiss sebagai contoh sukses, di mana dua pertiga anak muda memilih jalur kejuruan yang fleksibel.

Solusi jalan tengah kini mulai populer melalui degree apprenticeship atau magang sambil kuliah. Di perusahaan BAE Systems Inggris, mahasiswa dibayar untuk bekerja mengerjakan teknologi jet tempur sambil tetap menempuh pendidikan kelas satu hari dalam seminggu.

Metode ini dianggap saling menguntungkan: mahasiswa terhindar dari utang, dan perusahaan mendapatkan tenaga kerja dengan keterampilan yang tepat sasaran.(YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *