85 Persen Sekolah Pasca-Bencana Mulai Belajar

Upacara Bendera Awali Kebangkitan Pendidikan Sumatera

Aceh Tamiang – Ribuan siswa di wilayah Sumatera kembali mengenakan seragam mereka hari ini, Senin (5/o1/2026).

Meski sisa material banjir masih terlihat di beberapa sudut, sebanyak 3.508 sekolah atau sekitar 85 persen satuan pendidikan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat resmi memulai kegiatan belajar mengajar (KBM) semester genap tahun ajaran 2025/2026.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, memastikan bahwa pendidikan tetap menjadi prioritas utama di tengah pemulihan pascabencana.

Momentum kembalinya aktivitas sekolah ditandai dengan upacara bendera di SMAN 4 Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, yang dipimpin langsung oleh Menteri Mu’ti.

Suasana haru sekaligus optimis menyelimuti lapangan sekolah saat bendera Merah Putih berkibar di wilayah yang baru saja diterjang banjir bandang.

Dalam amanatnya, Menteri Mu’ti menekankan bahwa bencana tidak boleh memutus cita-cita generasi muda.

Ia berpesan agar para siswa tetap tabah dan kreatif meski fasilitas sekolah belum sepenuhnya pulih 100 persen.

“Musibah menempa kita menjadi pribadi yang lebih kuat. Keterbatasan sarana tidak boleh mematahkan tekad untuk terus belajar,” tegasnya di hadapan ratusan siswa.

Data Kesiapan Sekolah di Sumatera

Berdasarkan data Kemendikdasmen, tingkat pemulihan infrastruktur pendidikan menunjukkan tren positif di tiga provinsi terdampak:

  • Sumatera Utara: 95,23% (1.157 sekolah) siap beroperasi.
  • Sumatera Barat: 86% sekolah telah kembali dibuka.
  • Aceh: 81% sekolah sudah memulai aktivitas belajar.
Foto: Dok.Bakom RI

Meski mayoritas sudah siap, tantangan masih ada. Di Sumatera Utara, sebanyak 19 sekolah terpaksa melaksanakan KBM di dalam tenda darurat karena kerusakan bangunan yang berat.

Pemerintah telah mengalokasikan Rp852 miliar untuk revitalisasi yang ditargetkan rampung akhir Januari ini.

Guna meringankan beban psikologis, pemerintah menerbitkan Surat Edaran Nomor 1 Tahun 2026 tentang kurikulum adaptif. Melalui aturan ini, sekolah diberikan kebebasan untuk tidak mengejar target akademik formal secara kaku.

Fokus utama pembelajaran saat ini dialihkan pada:

  • Pemulihan Psikososial: Pendampingan mental bagi siswa yang trauma.
  • Materi Esensial: Penekanan pada literasi dan numerasi dasar.
  • Mitigasi Bencana: Edukasi keselamatan diri bagi peserta didik.

Selain kebijakan, bantuan nyata juga disalurkan. Sebanyak 2.000 paket school kit berupa tas, alat tulis, dan seragam dibagikan kepada siswa terdampak. Pemerintah juga memberikan voucher tunai untuk membantu sekolah membersihkan sisa lumpur dan material banjir.

Sekolah di Pengungsian Aceh-Foto: Dok. Bakom RI

Komitmen Revitalisasi Berkelanjutan

Menteri Mu’ti memastikan bahwa kehadiran negara tidak hanya saat darurat, tetapi hingga fasilitas kembali normal.

Program Revitalisasi Satuan Pendidikan tahun anggaran 2026 akan terus mengalir untuk memperbaiki ruang kelas, meja, dan kursi yang rusak.

“Pemulihan bukan hanya soal membuka kembali sekolah, tapi memastikan anak-anak belajar dengan penuh semangat,” pungkasnya sebelum menyapa kepala sekolah di Sumut dan Sumbar secara daring.(NR)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *