Strasbourg, Prancis – Stade de la Meinau hampir memberikan rasa frustrasi bagi tuan rumah, sebelum akhirnya berubah menjadi arena pesta yang gila.
Selama 82 menit, Stade de Reims bermain seperti “banteng” yang menolak untuk tumbang, memaksa RC Strasbourg Alsace memutar otak lebih keras.
Namun, sepakbola selalu punya cara unik untuk mengakhiri kebosanan: 2 penalti dalam 4 menit dan drama rebutan bola antar kawan sendiri. Strasbourg akhirnya mengunci kemenangan 2-1 dalam perempat final Piala Prancis.
Hasil ini menjadi sejarah, krena untuk pertama kalinya sejak tahun 2001, tahun di mana mereka mengangkat trofi, Strasbourg kembali menginjakkan kaki di empat besar.
Rebutan Penalti & Tekanan Tinggi
Hampir sepanjang 83 menit laga berlangsung, tidak ada gol tercipta. Pertahanan gerendel Reims yang dipimpin Alexandre Olliero akhirnya runtuh akibat handball John Patrick.
Saat wasit menunjuk titik putih di menit ke-83, tensi di lapangan mendidih. Joaquin Panichelli (Argentina) dan Julio Enciso (Paraguay) sama-sama merasa paling berhak menjadi pahlawan.
Dalam dunia sepakbola modern, pemandangan dua pemain berebut bola adalah “makanan” empuk media. Namun, Valentin Barco muncul sebagai penengah yang dingin, memberikan panggung pertama bagi Joaquin Panichelli.
- Panichelli tidak menyia-nyiakan kesempatan. Bola dihantam keras, membentur mistar bawah, dan menghujam jaring.
- Hanya berselang empat menit, David Datro Fofana yang tampil lincah memaksa kiper Reims melakukan pelanggaran. Kali ini, Julio Enciso maju tanpa lawan dan dengan dingin mengirim kiper ke arah yang salah.
- Meski kalah, Reims menunjukkan perlawanan sengit dan memperkecil skor di menit ke-94 lewat Patrick Zabi.
Dengan tambahan satu gol penalti, Enciso kini resmi menjadi raja gol Piala Prancis musim ini dengan koleksi 6 gol.
‘Blok Rendah’ Nyaris Sempurna
Pelatih Reims, Karel Geraerts membuat pengakuan jujur usai laga. Ia terpaksa membuang filosofi menyerangnya demi meredam Strasbourg yang secara kasta lebih diunggulkan.
“Kami menjalankan rencana permainan dengan baik dan terorganisir, tapi penalti pertama itu sungguh sial. Bermain dengan blok rendah bukanlah filosofi saya, tapi terkadang Anda harus mencari solusi untuk menetralisir kekuatan lawan, dan bagi saya, itu perlu dilakukan hari ini,” ujar Geraerts dikutip dari Situs Resmi Reims.

Reims sebenarnya tidak bermain pasif. Gessime Yassine berkali-kali merepotkan sisi sayap, dan Hiroki Sekine nyaris membuat publik tuan rumah terdiam di menit ke-67.
Tumbangnya PSG di babak sebelumnya membuat kompetisi ini menjadi “tanah tak bertuan”. Strasbourg kini menatap peluang besar untuk mengulang memori manis 2001.
Dengan semangat juang yang mereka tunjukkan dan kedalaman skuad yang mumpuni, semifinal bukan lagi sekadar partisipasi, melainkan pintu menuju juara.
Kemenangan Strasbourg adalah soal momentum. Mereka mampu memanfaatkan kepanikan kecil di kotak penalti lawan di menit-menit akhir.
Bagi Reims, kekalahan ini tetap memberikan sinyal positif: mereka bisa merepotkan tim Ligue 1 mana pun dengan organisasi pertahanan yang disiplin. (*)
Baca juga :





