Teheran, Iran – Memasuki hari ke-24 serangan militer oleh koalisi Amerika Serikat dan Israel, Republik Islam Iran kini berada dalam kegelapan digital total.
Otoritas setempat resmi memutus akses internet nasional, sebuah langkah yang disebut oleh lembaga pemantau internasional NetBlocks sebagai salah satu pemadaman komunikasi paling parah yang pernah tercatat dalam sejarah modern.
Sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026, penyebaran informasi di Iran berubah menjadi arus satu arah yang dikendalikan penuh oleh mesin propaganda pemerintah.
Sementara itu, warga sipil yang nekat mendokumentasikan kerusakan perang kini dibayangi ancaman pidana berat sebagai “musuh negara.”
Lebih dari 552 Jam Tanpa Internet
Lembaga NetBlocks melaporkan bahwa gangguan internet di Iran telah melewati ambang batas 552 jam berturut-turut.
Tidak ada konektivitas internasional bagi publik, kecuali melalui jalur khusus (whitelist) yang hanya bisa diakses oleh pejabat pemerintah dan pihak-pihak tertentu. Dampaknya sangat terasa di lapangan, diantaranya:
- Komunikasi Lumpuh: Jaringan domestik mengalami gangguan parah, membuat koordinasi sipil hampir mustahil.
- Perburuan Pengguna Starlink: Aparat mulai menangkap warga di berbagai kota yang terdeteksi menggunakan perangkat satelit Starlink untuk menembus blokade informasi.
- Ancaman SMS Massal: Pemerintah mengirimkan pesan singkat (SMS) ke jutaan ponsel warga, memperingatkan bahwa menyebarkan rekaman kerusakan perang adalah tindakan kriminal.

Ancaman Lintas Negara
Badan peradilan Iran, melalui kantor berita Mizan, mengonfirmasi telah mengambil tindakan hukum terhadap jurnalis, aktivis, hingga selebriti.
Mereka dituduh “bekerja sama dengan musuh” hanya karena aktivitas digital mereka. Tak hanya di dalam negeri, ancaman ini meluas hingga ke luar perbatasan.
Media oposisi seperti Vahid Online dikabarkan menjadi target serangan siber dan ancaman rudal setelah dituduh memiliki koneksi dengan intelijen asing.
Pemerintah Inggris bahkan mulai turun tangan setelah adanya ancaman dari Garda Revolusi Iran (IRGC) terhadap infrastruktur media Iran International yang berbasis di London.
Puluhan Ribu Bangunan Hancur
Di tengah blokade informasi, Bulan Sabit Merah Iran (IRCS) merilis data statistik yang mengejutkan mengenai dampak serangan udara.
Kepala IRCS, Pir-Hossein Kolivand menyebutkan bahwa serangan ini adalah pelanggaran berat terhadap Konvensi Jenewa.
- Infrastruktur Sipil: Sebanyak 81.365 unit bangunan rusak, termasuk rumah warga, sekolah, dan pusat medis.
- Sektor Kesehatan: 275 pusat farmasi dan layanan darurat terkena dampak, yang disebut sebagai “serangan terhadap jalur penyelamat nyawa.”
- Korban di Ibu Kota: Di Teheran saja, lebih dari 24.000 unit residensial dan komersial dilaporkan hancur atau rusak akibat serangan udara.

Pemerintah Iran tidak tinggal diam di kancah diplomasi. Melalui Press TV, dikabarkan bahwa Teheran telah mengirimkan 16 surat resmi kepada Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).
Mereka menuntut dunia internasional mengecam apa yang mereka sebut sebagai “agresi militer tanpa provokasi” oleh Amerika Serikat dan Israel.
Teheran mengklaim bahwa serangan balasan menggunakan rudal dan drone, telah berhasil menghantam target di wilayah pendudukan Israel dan aset militer AS di kawasan Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri.
Situasi di Iran kini menggambarkan betapa informasi telah menjadi medan tempur kedua setelah serangan fisik. Ketika internet mati dan kamera dianggap sebagai senjata, warga sipil menjadi pihak yang paling terisolasi.
Dunia kini hanya bisa mengintip lewat celah sempit dari citra satelit yang terbatas dan laporan resmi yang sepihak, sementara puluhan juta orang di dalam Iran terputus dari realitas dunia luar.
Perang ini bukan sekadar tentang perebutan wilayah atau supremasi militer, melainkan tentang upaya bertahan hidup di bawah langit yang dipenuhi drone dan bumi yang kehilangan koneksi digitalnya. (*)
Baca juga :





