Nottingham, Inggris – Malam di City Ground bukan sekadar tentang pertandingan sepakbola; itu adalah tentang kembalinya sang raksasa tidur.
Di bawah lampu stadion yang ikonik, ribuan suporter berbaju merah melompat serentak, menciptakan getaran yang terasa hingga ke pinggiran sungai Trent. Mereka telah menunggu lebih dari empat dekade untuk momen ini.
Namun, di sisi lain lapangan, ada kepedihan mendalam dari raksasa Portugal yang harus rela mimpinya hancur bukan karena kurangnya nyali, melainkan karena nasib buruk yang datang bertubi-tubi dalam hitungan menit.
Nottingham Forest resmi melaju ke semifinal kompetisi besar Eropa untuk pertama kalinya dalam 40 tahun terakhir.
Forest menumbangkan FC Porto dengan skor 1-0 pada leg kedua babak perempat final Liga Europa, Jumat (17/04/26) dinihari.
Kemenangan di City Ground ini memastikan skuad asuhan Vitor Pereira unggul agregat 2-1, sekaligus mengakhiri penantian panjang klub yang pernah berjaya di era 1980-an tersebut.
Pertandingan ini diwarnai drama kartu merah awal yang menimpa bek Porto, Jan Bednarek, yang mengubah total dinamika permainan dan memaksa raksasa Portugal tersebut bermain dengan 10 orang hampir di sepanjang laga.
Mimpi Buruk Sang Naga
Laga dimulai dengan tensi tinggi, namun petaka bagi FC Porto datang sangat cepat. Pada menit ke-5, Jan Bednarek melakukan tekel keras terhadap Chris Wood yang berujung pada kartu merah langsung setelah peninjauan VAR.

- Belum sempat mengatur ulang organisasi pertahanan, Porto kembali terpukul pada menit ke-12 ketika tendangan Morgan Gibbs-White membentur bek lawan dan mengecoh kiper Diogo Costa.
- Meski bermain dengan kekurangan pemain, Porto menunjukkan mentalitas luar biasa di babak kedua.
- Mereka hampir menyamakan kedudukan melalui upaya William Gomes dan Alan Varela, namun dewi fortuna tidak berpihak karena kedua tendangan tersebut membentur mistar gawang.
Hingga peluit panjang ditiup wasit, tidak ada gol tambahan tercipta, dan hasil 1-0 bagi Nottingham Forest sudah cukup untuk membawa mereka melaju ke babak semifinal Europa League.
Baca juga : Porto Sia-Sia Hujani Forest 16 Tembakan, ‘Sang Naga’ Terluka Akibat Blunder Sendiri!
Usai laga, Pelatih Nottingham Forest, Vitor Pereira tak bisa menyembunyikan rasa bangganya atas pencapaian bersejarah ini. Ia mengakui bahwa keunggulan jumlah pemain sangat membantu timnya di babak pertama.
“Saya sangat bangga karena tim bekerja sangat keras. Suporter dan tim ini layak melaju ke semifinal. Kartu merah Porto memang berdampak besar, tapi pada akhirnya kami menunjukkan organisasi yang baik dan mampu menjaga hasil sampai akhir,” ujar Pereira kepada TNT.
Di sisi lain, Pelatih Porto, Francesco Farioli merasa timnya adalah pihak yang lebih layak lolos jika melihat performa keseluruhan di dua leg. Ia memuji keberanian anak asuhnya yang membuat Forest tertekan meski kalah jumlah pemain.
“Reaksi tim sangat fantastis. Di babak kedua, rasanya seperti Porto yang unggul jumlah pemain, bukan Nottingham. Jika dihitung dari dua pertandingan, jelas tim yang layak lolos adalah kami. Tapi terkadang ‘layak’ saja tidak cukup, Anda harus memasukkan bola ke gawang,” tegas Farioli dengan nada kecewa namun bangga dikutip dari Portugoal.

Sejarah memang sering kali ditulis oleh mereka yang mampu memanfaatkan peluang sekecil apa pun. Nottingham Forest kini berdiri di ambang kejayaan masa lalu, siap menantang Aston Villa di babak empat besar.
Bagi Porto, kekalahan ini adalah pil pahit yang harus ditelan di tengah perjuangan mereka mengejar gelar liga domestik.
Namun bagi publik Nottingham, laga di City Ground ini adalah bukti bahwa keajaiban Eropa belum sepenuhnya hilang dari tanah Inggris; petualangan Si Merah masih terus berlanjut. (*)
Baca juga :





