Madrid, Spanyol – Ketika taktik modern mulai terasa hambar di lorong-lorong Santiago Bernabeu, Real Madrid memilih memanggil kembali sosok antagonis masa lalu yang tahu persis bagaimana cara membakar ego para pemenang.
Dewan Direksi Real Madrid yang dipimpin Florentino Perez secara resmi menunjuk Jose Mourinho sebagai pelatih kepala tim utama yang baru, untuk tiga musim ke depan hingga 2029.
Pengumuman restu kepulangan arsitek asal Portugal ini disahkan dalam rapat internal. Manajemen klub berjuluk Los Blancos tersebut meresmikan penunjukan periode kedua Mourinho, setelah mengonfirmasi kepergian pelatih sebelumnya, Alvaro Arbeloa.
Guna memulangkan pelatih berusia 63 tahun ini ke Ibu Kota Spanyol, Real Madrid bersedia menebus uang kompensasi pelepasan kontrak sebesar 15 Juta Euro kepada klub Portugal, Benfica.

Berdasarkan rilis resmi klub, juru taktik kawakan tersebut dijadwalkan akan langsung memimpin sesi latihan perdana skuat pada 13 Juli 2026, bertepatan dengan dimulainya agenda pramusim klub.
Misi Kebangkitan Raksasa Spanyol
Keputusan memulangkan pelatih yang pernah meninggalkan klub pada tahun 2013 lalu ini, bukan sekadar keputusan taktis yang mendadak.
Penunjukan ini merupakan perwujudan langsung dari janji kampanye Florentino Perez kepada para anggota klub (socis), sebelum ia memenangkan pemungutan suara pada akhir pekan lalu.
Mourinho kini dibebani tugas berat untuk mengangkat kembali performa tim yang merosot, setelah melewati periode paceklik gelar di bawah tiga pelatih beruntun.
- Carlo Ancelotti: Awal dari hilangnya dominasi domestik dan Eropa, yang membuat manajemen mulai mencari formula baru.
- Xabi Alonso: Kegagalan mempertahankan konsistensi permainan, yang berujung pada nihilnya prestasi.
- Alvaro Arbeloa: Fase akhir yang memaksa dewan direksi meresmikan kepergiannya, demi merestorasi mentalitas juara tim.
Kembalinya Mourinho memicu perdebatan mengenai apakah dirinya masih memiliki magis yang sama, seperti saat memimpin Madrid pada periode 2010-2013.
Pada masa jabatan pertamanya, ia sukses mempersembahkan satu gelar LaLiga, satu Copa del Rey, dan satu Supercopa de Espana, serta membawa tim menembus tiga babak semifinal Liga Champions secara beruntun.

Namun, catatan satu dekade terakhir menunjukkan bahwa ia sudah tidak lagi memenangkan gelar liga, sejak terakhir kali meraihnya bersama Chelsea pada 2015. Trofi terakhir yang ia angkat adalah Conference League bersama AS Roma empat tahun lalu, sebelum ia bertualang ke Tottenham Hotspur, Fenerbahçe, dan terakhir Benfica.
Di Portugal sendiri, meski membawa Benfica tidak terkalahkan musim lalu, timnya hanya mampu finis di posisi ketiga di bawah Porto dan Sporting, serta disingkirkan Real Madrid di babak playoff fase gugur Liga Champions.
Bagi sebuah klub yang mengukur kesuksesan hanya dari kilau trofi di lemari kaca, dua musim beruntun tanpa gelar adalah sebuah aib yang harus segera dibersihkan.
Penunjukan The Special One hingga tahun 2029, menjadi pertaruhan terbesar Florentino Perez dalam periode kepemimpinannya saat ini. (*)
Baca juga :





