Jakarta – Konflik militer antara Iran dan Israel terus memanas, menciptakan gelombang kejut yang merambat jauh hingga ke sektor manufaktur di Indonesia.
Ini bukan sekadar berita geopolitik di layar kaca, melainkan peringatan serius bagi dunia usaha dalam negeri untuk bersiap menghadapi badai ekonomi yang kian mendekat.
Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita secara lugas mengingatkan bahwa eskalasi ini berpotensi memukul jantung industri nasional.
Rantai Pasok Global Terancam!
Bayangkan jalur perdagangan vital yang selama ini menjadi nadi ekonomi global, seperti Selat Hormuz dan Terusan Suez, kini berada di ambang ancaman.
Ketika jalur ini terganggu, kapal-kapal terpaksa memutar rute, menambah waktu tempuh hingga 10–15 hari dan memicu kenaikan biaya pengiriman kontainer fantastis, mencapai 200 persen!
Menperin, Agus Gumiwang Kartasasmita dalam pernyataan resminya menegaskan, “Indonesia sebagai negara besar di Asia Tenggara sangat rentan terhadap gangguan rantai pasok global dan volatilitas harga energi.”
Dampak langsungnya adalah :
- Sektor Otomotif dan Elektronik: Terhantam kelangkaan semikonduktor. Dengan 65 persen komponennya masih impor, waktu tunggu pasokan bisa mencapai 26 minggu. Ini diproyeksikan dapat mengurangi ekspor nasional hingga USD 500 juta.
- Industri Tekstil dan Alas Kaki: Margin laba tergerus hingga 7 persen akibat kenaikan ongkos logistik. Daya saing Indonesia pun melemah dibandingkan negara pesaing seperti Vietnam dan Bangladesh.
- Sektor Nikel dan Baja: Kenaikan ongkos transportasi batu bara hingga 20 persen dan penundaan pengiriman 3–4 minggu. Potensi kerugian ekspor total mencapai USD 1,2 miliar.

Ancaman Lonjakan Harga Minyak
Timur Tengah adalah jantung produksi minyak global, dan menyumbang hampir 30% dari total pasokan dunia.
Jika Iran, yang memproduksi sekitar 3,2 juta barel per hari, tidak bisa menyalurkan produksinya akibat konflik, harga minyak dunia dipastikan akan melonjak tajam.
“Harga minyak Brent sudah bergejolak di kisaran USD 73–92 per barel, dan potensi kenaikan 15–20% bisa terjadi tahun ini,” ungkap Agus.
Kondisi ini menuntut efisiensi energi menjadi kunci utama bagi industri. Ini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk bertahan.
Melihat situasi ini, Menperin menekankan pentingnya langkah strategis: hilirisasi produk agro dan diversifikasi energi.
- Hilirisasi Produk Agro: Ini adalah respons terhadap inflasi global dan lonjakan harga pangan impor. Industri harus memperkuat kapasitas pengolahan hasil pertanian, perikanan, hingga kehutanan agar tidak terus bergantung pada bahan baku dari luar negeri.
- Diversifikasi Energi: Mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor dan beralih ke sumber energi domestik, termasuk EBT.
“Logistik mahal, inflasi melonjak, nilai tukar tertekan semua ini berujung pada kenaikan biaya produksi. Jawabannya ada pada hilirisasi dan energi domestik,” tutup Agus, memberikan arahan yang jelas bagi industri manufaktur Indonesia. (YA)





