Bukan Mimpi: Swiatek Sapu Bersih Final Wimbledon Tanpa Ampun

Dari rumput yang asing hingga tak terbendung: Swiatek raih gelar Wimbledon pertamanya lewat final paling dominan sejak 1911

LONDON — Siapa bilang rumput bukan habitat Iga Swiatek? Dulu, juara empat kali Grand Slam ini merasa tak punya masa depan di Wimbledon. Namun pada Minggu (13/7)  yang cerah di Centre Court, ia membungkam keraguan itu dengan cara paling brutal: menghancurkan Amanda Anisimova 6-0, 6-0 hanya dalam 57 menit, dan menyabet gelar Wimbledon pertamanya.

Kemenangan dua set langsung tanpa kehilangan satu gim pun   dikenal dalam dunia tenis sebagai “double bagel”   terakhir terjadi di final Wimbledon pada tahun 1911, atau 114 tahun yang lalu. Swiatek kini menulis ulang sejarah turnamen tenis tertua dan paling prestisius di dunia.

Rasanya benar-benar di luar nalar. Super surreal,” ujar Swiatek, petenis 24 tahun asal Polandia, dalam konferensi pers pasca-pertandingan. “Aku bahkan tidak pernah berani bermimpi bisa menang di sini.

Ekspresi Iga Swiatek usai kalahkan Amanda di Final (Foto : Dok.AP Sport)

Perjalanan dari Tak Diunggulkan ke Tak Terkalahkan

Swiatek datang ke Wimbledon 2025 dengan status bukan unggulan utama. Ia “hanya” diunggulkan di peringkat ke-8, posisi yang membuat banyak analis menempatkannya di luar radar juara.

Namun, rendahnya ekspektasi justru menjadi bahan bakar motivasinya.

Untuk sekali ini, orang-orang tidak berharap terlalu tinggi. Aku bisa fokus berkembang, bukan hanya dikejar-kejar untuk selalu menang,” kata Swiatek.

Dan hasilnya:

  • Ia memenangi 55 dari 79 poin sepanjang laga
  • Hanya membutuhkan 10 winner
  • Anisimova, di sisi lain, mencatat 28 unforced error dan hanya memasukkan 33% servis pertama di set pertama

Anisimova: Dari Euforia ke Shock

Amanda Anisimova, petenis Amerika berusia 23 tahun, tampil mengejutkan sepanjang turnamen, termasuk saat menyingkirkan unggulan pertama Aryna Sabalenka di semifinal.

Amanda Anisimova (Foto: Dok. AP Sport)

Namun final ini jadi pengalaman yang jauh berbeda.

Aku seperti membeku di sana. Nervous banget. Mungkin juga capek dari dua minggu terakhir,” ujar Anisimova sambil menahan tangis.

Faktor cedera ikut memengaruhi performanya. Ia mengaku mengalami nyeri di bahu kanan saat pemanasan, dan bahkan melewatkan sesi latihan sehari sebelumnya karena kelelahan.

Rasanya sulit dicerna, terutama saat pertandingan berlangsung,” tambahnya.

Bukan Sekadar Kemenangan, Tapi Dominasi Total

Catatan kemenangan Swiatek:

  • Kecepatan servis mencapai 195 km/jam (121 mph)
  • 78% servis pertama masuk
  • Memenangi 16 dari 20 reli yang berdurasi lebih dari lima pukulan

Statistik ini menggambarkan betapa totalnya Swiatek mengendalikan jalannya pertandingan. Ia menekan sejak awal, membuat Anisimova frustrasi dan tak mampu bangkit.

Enam Gelar Grand Slam, Kini Lengkap di Tiga Permukaan

Gelar Wimbledon ini melengkapi koleksi gelar Grand Slam Swiatek yang sebelumnya telah menang:

  • Roland-Garros (2020, 2022, 2023, 2024)
  • US Open (2022)
  • Wimbledon (2025)

Yang menarik, ini adalah satu-satunya gelar yang ia menangkan di lapangan rumput sepanjang karier profesionalnya.

Jujur, aku bahkan tidak membayangkan bisa menang di rumput. Tapi mungkin, itulah pelajaran besarnya  jangan batasi dirimu sendiri,” ujar Swiatek. (YA)

 

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *