Gaza, Palestina — Di tengah reruntuhan dan suara dentuman yang tak pernah henti, harapan warga Gaza kini dijual kiloan.
Di pasar-pasar gelap yang muncul dari abu kehancuran, tepung berlogo PBB yang seharusnya gratis, kini dijual dengan harga fantastis: $60 per kilogram, setara dengan hampir Rp1 juta di kurs saat ini.
“Ini sudah bukan sekadar antrean bantuan. Ini ladang bisnis. Kami yang lapar justru kalah oleh mereka yang punya tenaga dan koneksi,” keluh Mohammed Abu Taha, warga Rafah yang tinggal di tenda bersama istri dan anaknya kepada AP News.
Berdasarkan pantauan AP News, para warga mengaku kelompok bersenjata dan geng pemuda kerap menguasai antrean.
Mereka memonopoli bantuan dari organisasi seperti Gaza Humanitarian Foundation (GHF) dan bahkan World Food Programme (WFP) milik PBB. Bantuan yang semestinya gratis, dijual kembali ke warga dengan harga mencekik.
Di saat yang sama, organisasi internasional mengakui situasi distribusi bantuan kini kacau dan membahayakan, bahkan untuk staf mereka sendiri.
Juru bicara WFP, Abeer Etifa dalam pernyataan resminya mengungkapkan bahwa, “Kami hanya bisa mendistribusikan bantuan secara aman jika keamanan internal dipulihkan. Satu-satunya jalan keluar adalah gencatan senjata.”
Namun gencatan senjata terasa jauh dari jangkauan. Sejak Maret, ketika Israel mengakhiri jeda perang dan menghentikan hampir seluruh impor makanan, keamanan runtuh.
Pasukan Hamas yang dulu mengawal distribusi bantuan menghilang, digantikan oleh kelompok-kelompok lokal yang tak segan menggunakan kekerasan.
Anarki Bantuan: Di Antara Kelaparan dan Peluru
Sebuah ironi tragis terjadi di sekitar lokasi distribusi GHF. Di mana ribuan orang berlari seperti dikejar ajal, terjepit di lorong-lorong pagar kawat, demi mendapatkan sekantong tepung atau kaleng kacang.
“Untuk dapat makanan dari GHF, kau harus kuat dan cepat. Kalau tidak, pulang dengan tangan kosong atau luka,” kata Heba Jouda, salah satu warga Gaza yang berulang kali gagal mendapatkan bantuan.
Data dari Kantor Hak Asasi Manusia PBB menunjukkan bahwa lebih dari 1.000 warga Palestina tewas hanya karena mencoba mendapatkan bantuan, banyak di antaranya ditembak di dekat titik distribusi.
Israel berdalih hanya memberi tembakan peringatan, sedangkan pihak GHF mengklaim hanya menggunakan semprotan merica dan tembakan ke udara untuk mencegah kekacauan.
Kelaparan Sistemik, Bantuan Tersandera
Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza, puluhan warga telah meninggal karena kelaparan akut dalam tiga pekan terakhir.
UNICEF menyebut sekitar 100.000 perempuan dan anak-anak menderita malnutrisi parah. Sementara itu, Israel membantah adanya kebijakan kelaparan sistematis.
Dalam pernyataannya pekan ini, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan bahwa, “Tidak ada kelaparan di Gaza. Tidak ada kebijakan kelaparan yang diterapkan.”
Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Harga bahkan bisa mencapai $35/kg, jauh di luar jangkauan rakyat biasa yang kini hidup dari sisa tabungan jika masih ada.
Organisasi PBB mendesak agar blokade Israel dicabut sepenuhnya dan akses bantuan dipermudah tanpa syarat, agar pasar gelap dan penjarahan tidak menjadi solusi tunggal untuk bertahan hidup.
“Hanya gencatan senjata yang bisa membuka jalan bagi distribusi aman dan merata,” tulis laporan resmi World Food Programme yang diterima AP News. (YA)
Baca juga :





